KabarAktual.id – Delapan bulan setelah banjir besar melanda Aceh pada akhir November 2025, ribuan hektare sawah di Kabupaten Aceh Utara masih belum dapat digarap secara optimal akibat rusaknya jaringan irigasi. Hingga Kamis (9/7/2026), areal persawahan di Kecamatan Baktiya dan Baktiya Barat masih mengandalkan curah hujan karena pasokan air dari Irigasi Langkahan belum kembali normal.
Kerusakan pada Sub Irigasi Mon Sukon yang terjadi saat banjir disebut belum sepenuhnya diperbaiki.Tokoh masyarakat Baktiya Barat yang juga petani, Tgk Muhajir, mengaku kecewa dengan lambannya penanganan kerusakan irigasi tersebut. “Sudah delapan bulan rusak akibat banjir pada November 2025 lalu, hingga sekarang belum selesai perbaikannya,” kata Muhajir kepada KabarAktual.id.
Menurut dia, dampak kerusakan irigasi dirasakan petani di sejumlah gampong di Kecamatan Baktiya dan Baktiya Barat. Sawah yang selama ini bergantung pada pasokan air dari Irigasi Langkahan kini tidak dapat ditanami secara maksimal karena kekurangan air.
Berdasarkan data yang dihimpun KabarAktual.id dari kalangan imum mukim dan keujruen blang, luas sawah terdampak mencapai ribuan hektare. Di Kecamatan Baktiya Barat, sedikitnya sembilan gampong terdampak, yakni Cot Paya dengan luas sawah sekitar 130 hektare, Cot Kupok 150 hektare, Matang Bayu 100 hektare, Blang Seunong 110 hektare, Matang Cubrek 120 hektare, Matang Teungoh 120 hektare, Matang Raya Blang Sialet 200 hektare, Pucok Alue 112 hektare, dan Lang Nibong sekitar 125 hektare.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Baktiya yang memiliki luas areal persawahan hampir setara dengan Baktiya Barat. Secara keseluruhan, luas sawah yang terdampak di dua kecamatan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 hektare.
Para petani berharap pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun instansi terkait dapat mempercepat penanganan kerusakan irigasi agar aktivitas pertanian kembali normal.
Muhajir mengatakan hingga kini berbagai bantuan yang dijanjikan pascabanjir belum terealisasi. Bantuan tersebut antara lain jaminan hidup (jadup), bantuan modal usaha, serta program pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana. “Selama ini banyak janji bantuan yang disampaikan, mulai dari jadup, bantuan modal usaha hingga perbaikan sawah rusak. Namun sampai sekarang belum ada yang terealisasi,” ujarnya.
Menurutnya, bantuan jaminan hidup merupakan kebutuhan paling mendesak karena banyak warga kehilangan sumber penghasilan akibat bencana.“Alasannya masih sinkronisasi data. Tapi masyarakat bertanya, sinkronisasi seperti apa sampai memakan waktu hampir setahun,” kata Muhajir.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari instansi terkait mengenai progres perbaikan Sub Irigasi Mon Sukon maupun realisasi bantuan bagi masyarakat terdampak banjir di Aceh Utara.[] Alamsyah Ibrahim












