TAK apa dolar tembus Rp20 ribu.
Tak apa harga beras, cabai, dan minyak goreng terus merangkak naik.
Tak apa koruptor menggasak uang rakyat hingga triliunan rupiah.
Tak apa pelayanan publik masih membuat warga harus berputar-putar dari satu meja ke meja lain.
Tak apa hukum terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Yang penting Timnas menang.
Kalimat-kalimat itu memang terdengar sinis. Bahkan mungkin berlebihan. Namun itulah kesan yang muncul ketika melihat bagaimana kemenangan Timnas Indonesia mampu menyedot perhatian publik begitu besar hingga berbagai persoalan lain seolah lenyap dari percakapan sehari-hari.
Media sosial penuh dengan selebrasi. Jalanan dipenuhi konvoi. Grup WhatsApp mendadak kompak membahas skor pertandingan. Semua larut dalam euforia yang sama.
Baca juga: Tak Ada Ampun! Rupiah Bercokol di Rp18.000
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu. Sebagai bangsa yang terlalu sering disuguhi kabar buruk, kemenangan Timnas adalah kabar baik yang layak dirayakan.
Ketika Garuda terbang tinggi, jutaan orang ikut merasa bangga. Untuk sesaat kita melupakan perbedaan politik, agama, suku, dan pilihan hidup. Kita bersorak untuk bendera yang sama.
Sepakbola memang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak hal lain. Ia mampu menyatukan emosi jutaan orang dalam waktu bersamaan.
Tetapi justru karena kekuatan itulah, sepakbola sering kali menjadi ruang pelarian paling nyaman. Kita sibuk menghitung peluang lolos ke putaran berikutnya, sementara harga kebutuhan pokok terus bergerak naik.
Kita berdebat soal strategi pelatih, tetapi lupa bertanya mengapa korupsi masih terus berulang dengan pola yang hampir sama.
Kita menghafal statistik pemain, namun tidak lagi mengikuti perkembangan kasus-kasus besar yang menyangkut uang rakyat.
Ada pertanyaan menarik: apakah kita sedang menikmati sepakbola, atau sedang menggunakan sepakbola untuk melupakan kenyataan?
***
Hubungan antara sepakbola dan politik sebenarnya bukan cerita baru. Di banyak negara, sepakbola telah lama menjadi panggung yang sangat efektif untuk membangun citra dan memengaruhi opini publik. Popularitasnya luar biasa. Daya jangkaunya masif. Emosinya kuat.
Bagi politisi, tidak banyak arena yang mampu menghadirkan kedekatan dengan rakyat secepat stadion sepakbola. Karena itu, sejarah dunia dipenuhi contoh bagaimana kekuasaan memanfaatkan sepakbola. Ada yang menjadikannya alat pemersatu bangsa. Ada pula yang menggunakannya untuk memperkuat legitimasi politik.
Baca juga: Prabowo Santai Saat Rupiah Anjlok: Orang Desa Enggak Pakai Dolar Kok !
Bahkan rivalitas legendaris antara Real Madrid dan Barcelona selama puluhan tahun tidak pernah sepenuhnya soal sepakbola. Di dalamnya ada sejarah, identitas, dan dinamika politik Spanyol yang panjang.
Sepakbola dimainkan di lapangan selama 90 menit. Tetapi pengaruhnya sering kali lahir jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.
Indonesia tentu tidak berbeda. Setiap kali Timnas menang, suasana nasional berubah. Ruang publik dipenuhi optimisme. Percakapan bergeser. Perhatian masyarakat berpindah.
Dan, kekuasaan memahami betul fenomena itu.
***
Persoalan lain adalah bahwa sepakbola hari ini bukan lagi sekadar olahraga. Olahraga ini sudah menjadi industri raksasa. Di dalamnya ada sponsor, hak siar, investasi, proyek infrastruktur, kontrak iklan, hingga perputaran dana yang nilainya mencapai triliunan rupiah.
Ketika uang sebesar itu beredar, godaan penyimpangan pun ikut hadir. Sejarah sepakbola dunia penuh dengan cerita tentang pengaturan skor, suap wasit, manipulasi kompetisi, hingga skandal korupsi di level federasi internasional.
FIFA sendiri pernah diguncang kasus korupsi besar yang menyeret sejumlah pejabat tinggi organisasi tersebut. Indonesia juga tidak asing dengan cerita serupa.
Kita pernah mendengar dugaan pengaturan pertandingan. Kita pernah menyaksikan konflik tata kelola. Kita pernah melihat bagaimana kepentingan di luar lapangan kadang lebih menentukan daripada permainan di atas rumput hijau.
Karena itu, menganggap sepakbola sebagai wilayah yang sepenuhnya bersih dari politik dan korupsi adalah cara pandang yang terlalu naif. Di mana ada kekuasaan dan uang dalam jumlah besar, di situ selalu ada potensi penyimpangan.
***
Namun bagian paling menarik bukanlah soal politik atau korupsi dalam sepakbola. Yang lebih menarik adalah bagaimana sepakbola mampu mengalihkan perhatian publik secara sangat efektif.
Kemenangan Timnas menciptakan ruang emosional yang besar. Ia memberi rasa bangga, harapan, dan kebahagiaan yang nyata.
Masalahnya, rasa bahagia sering kali membuat kita berhenti bertanya.Padahal kehidupan nyata tetap berjalan setelah pertandingan berakhir.
Harga sembako tidak turun hanya karena Timnas menang.Nilai tukar rupiah tidak menguat karena sebuah gol tercipta.
Koruptor tidak otomatis masuk penjara karena Indonesia lolos ke babak berikutnya.Pelayanan publik tidak tiba-tiba membaik karena stadion penuh oleh nyanyian dukungan.
Dan, keadilan hukum tidak hadir hanya karena kita memenangkan pertandingan.
Euforia olahraga boleh berlangsung semalam. Tetapi persoalan bangsa tetap menunggu keesokan harinya.
***
Karena itu, mencintai Timnas tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis sebagai warga negara.
Dukung Garuda sepenuh hati.
Rayakan setiap kemenangan.
Bernyanyi sekeras mungkin ketika Indonesia mencetak gol.
Tetapi setelah peluit panjang berbunyi, jangan lupa kembali bertanya kepada para pemegang kekuasaan.
Bagaimana kondisi ekonomi?Bagaimana pemberantasan korupsi? Bagaimana kualitas pelayanan publik?Bagaimana nasib rakyat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari?
Sebab mencintai sepakbola dan mengawasi kekuasaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Kita bisa melakukan keduanya sekaligus. Kita bisa bersorak di stadion sambil tetap kritis terhadap pemerintah. Kita bisa bangga pada Timnas tanpa harus menutup mata terhadap berbagai masalah yang belum selesai.
Karena pada akhirnya, kemenangan di lapangan memang membanggakan.Tetapi bangsa ini juga membutuhkan kemenangan-kemenangan lain: kemenangan melawan korupsi, kemenangan menghadirkan keadilan, kemenangan memperbaiki ekonomi, dan kemenangan menyejahterakan rakyat.
Tanpa itu semua, yang tersisa hanyalah selebrasi panjang yang perlahan membuat kita lupa bahwa pertandingan sesungguhnya sedang berlangsung di luar stadion.[]
Ramadhan Al Faruq; pencinta sepakbola berdomisili di Aceh












