KabarAktual.id — Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mulai merenggang setelah serangan udara besar-besaran Tel Aviv yang menargetkan puluhan depot bahan bakar di Iran. Operasi tersebut memicu ketegangan pertama antara dua sekutu itu sejak konflik terhadap Republik Islam Iran dimulai delapan hari lalu.
Serangan yang terjadi pada Sabtu itu menghantam sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut memicu kebakaran besar dan kepulan asap tebal yang terlihat dari jarak jauh.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat menyebut skala operasi Israel jauh melampaui pemberitahuan awal yang sebelumnya disampaikan kepada Washington. Militer AS disebut terkejut dengan luasnya target serangan yang menghantam infrastruktur energi.
Seorang pejabat senior AS mengatakan Gedung Putih menilai penghancuran infrastruktur yang digunakan warga sipil bukan langkah strategis yang tepat. Washington khawatir tindakan tersebut justru akan memperkuat dukungan publik Iran terhadap pemerintahnya.
Selain itu, serangan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas energi global. “Gedung Putih sangat khawatir serangan terhadap infrastruktur sipil Iran akan menjadi bumerang secara strategis,” kata seorang pejabat AS seperti dikutip media Al Mayadeen, Selasa (10/3/2026).
Pihak Israel membela diri dengan menyatakan depot bahan bakar yang diserang digunakan pemerintah Iran untuk memasok energi ke berbagai sektor, termasuk unit militer. Namun kekhawatiran AS segera terbukti di pasar energi global. Gambar kebakaran depot bahan bakar di Iran memicu kepanikan di pasar komoditas.
Penasihat Presiden Donald Trump bahkan menyebut presiden AS menentang serangan terhadap infrastruktur minyak karena berpotensi mendorong lonjakan harga bahan bakar. Dampaknya langsung terasa di pasar energi dunia. Harga minyak melonjak lebih dari 20 persen pada perdagangan Senin pagi, mencapai level tertinggi sejak 2022.
Minyak Brent tercatat naik US$18,35 menjadi US$111,04 per barel. Sementara minyak WTI melonjak US$20,34 menjadi US$111,24 per barel. Kenaikan tajam ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi nadi perdagangan minyak dunia.
Sejumlah kapal tanker dilaporkan mulai menghindari jalur tersebut di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Para ekonom menilai upaya Arab Saudi untuk meningkatkan pengiriman melalui Laut Merah belum cukup menutup potensi kehilangan pasokan jika konflik terus memburuk.
Ketegangan geopolitik juga mengguncang pasar saham global. Indeks Nikkei Jepang anjlok 6,2 persen, sementara pasar saham Korea Selatan merosot 7,3 persen. Di Amerika Serikat, indeks berjangka S&P 500 dan Nasdaq turut melemah di tengah penguatan dolar AS akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.[]










