KabarAktual.id — Pejabat pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui kepada staf Kongres bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang lebih dulu pasukan AS. Pengakuan itu disampaikan dalam forum tertutup dan diungkap oleh dua sumber yang mengetahui jalannya pengarahan tersebut.
Informasi tersebut muncul sehari setelah AS dan Israel melancarkan salah satu serangan militer terbesar terhadap Iran dalam beberapa dekade terakhir. Operasi yang dimulai Sabtu (1/3/2026) itu diklaim menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, menenggelamkan kapal perang Iran, serta menghantam lebih dari 1.000 target di berbagai wilayah.
Pengakuan di forum tertutup itu dinilai meruntuhkan salah satu alasan utama yang sebelumnya dipakai pemerintahan Trump untuk membenarkan perang. Sehari sebelum pengarahan tersebut, pejabat senior pemerintah mengatakan kepada wartawan bahwa keputusan menyerang dipicu indikasi Iran mungkin akan lebih dulu menyerang pasukan AS di Timur Tengah.
Pada Minggu, pejabat Pentagon memberi pengarahan lebih dari 90 menit kepada staf Demokrat dan Republik dari sejumlah komite keamanan nasional di Senat dan DPR. Juru bicara Gedung Putih, Dylan Johnson, menyebut pengarahan itu membahas perkembangan terbaru operasi militer di Iran.
Dalam pertemuan tersebut, pejabat pemerintah menekankan bahwa rudal balistik Iran dan pasukan proksi Teheran di kawasan memang menjadi ancaman serius bagi kepentingan Amerika. Namun, menurut dua sumber yang berbicara kepada Reuters secara anonim, tidak ada data intelijen yang menunjukkan Iran akan menyerang pasukan AS terlebih dahulu.
Trump sendiri menyatakan operasi militer yang diperkirakan berlangsung berminggu-minggu itu bertujuan mencegah Iran memiliki senjata nuklir, membatasi program rudalnya, dan menghilangkan ancaman terhadap AS serta sekutunya. Ia juga mendesak rakyat Iran untuk bangkit dan menggulingkan pemerintah mereka.
Meski begitu, Partai Demokrat menuduh Trump melancarkan “perang pilihan” dan mempertanyakan keputusan meninggalkan jalur diplomasi. Mereka menilai upaya mediasi yang difasilitasi Oman sebelumnya masih memiliki peluang.
Trump berulang kali menyatakan, tanpa memaparkan bukti terbuka, bahwa Iran berada di jalur untuk segera memiliki kemampuan menyerang AS dengan rudal balistik. Namun, sejumlah sumber yang mengetahui isi laporan intelijen menyebut klaim tersebut tidak didukung data dan dinilai berlebihan.
Pertanyaan mengenai dasar pembenaran perang semakin menguat setelah militer AS mengumumkan korban pertama di pihak Amerika sejak konflik pecah. United States Central Command menyatakan tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius. Beberapa tentara lain dilaporkan menderita luka ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak.
Militer AS juga mengungkapkan bahwa pesawat dan kapal perang mereka telah menghantam lebih dari 1.000 target Iran sejak operasi dimulai. Di antaranya pengerahan pembom siluman B-2 yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon atau sekitar 900 kilogram ke fasilitas rudal bawah tanah Iran yang diperkuat.[]










