News  

Rupiah Tertekan, IHSG Rentan Terkoreksi Lagi

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (foto: Liputan6)

KabarAktual.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (26/10/2026). Pelemahan mata uang domestik ini berlangsung di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), memperbesar kewaspadaan pelaku pasar terhadap risiko tekanan lanjutan di pasar keuangan.

Berdasarkan data pasar yang dihimpun Investing.com, kurs dolar AS bergerak di kisaran Rp18.037 hingga Rp18.134 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pada data tengah hari, dolar AS menguat sekitar 0,51% ke level Rp18.117,6 dibandingkan penutupan sebelumnya.

Secara teknikal, level Rp18.170 menjadi area penting yang perlu dicermati. Jika kurs dolar AS menembus level tersebut, rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan menuju kisaran Rp18.500–Rp18.600 per dolar AS.

Sebaliknya, apabila intervensi Bank Indonesia (BI) mampu menahan tekanan terhadap rupiah, pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek diperkirakan berada pada rentang Rp17.900–Rp18.170 per dolar AS.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa arah rupiah masih bergantung pada kemampuan otoritas moneter meredam tekanan pasar serta perkembangan sentimen eksternal. Namun, rentang dan target tersebut merupakan proyeksi teknikal, bukan kepastian arah pergerakan kurs.

IHSG Ikut Terancam

Tekanan terhadap rupiah juga menjadi perhatian bagi pasar saham. Pada perdagangan Senin, IHSG tercatat melemah dan ditutup di level 5.390,72, turun 48,54 poin atau sekitar 0,89% dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.439,26.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar saham domestik masih menghadapi tekanan meskipun pada perdagangan Jumat (23/10/2026) IHSG sempat menguat 0,95%. Jika rupiah terus melemah dan tekanan terhadap pasar keuangan meningkat, IHSG berisiko melanjutkan koreksi.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor dan beban perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, sekaligus memengaruhi persepsi investor terhadap risiko aset domestik.

Tekanan juga berpotensi meningkat apabila pelemahan rupiah mendorong investor asing mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah. Meski demikian, hubungan antara kurs dan IHSG tidak selalu bergerak searah karena turut dipengaruhi kinerja emiten, harga komoditas, suku bunga, serta sentimen global.

Karena itu, pelaku pasar akan mencermati kemampuan BI menjaga stabilitas rupiah, terutama jika dolar AS menembus level Rp18.170. Apabila level tersebut terlampaui dan pelemahan berlanjut menuju Rp18.500–Rp18.600, risiko koreksi lanjutan di pasar saham perlu diwaspadai.

Sebaliknya, jika intervensi BI efektif menjaga rupiah dalam rentang Rp17.900–Rp18.170, tekanan terhadap pasar keuangan berpeluang mereda. Namun, stabilitas rupiah saja belum cukup untuk memastikan IHSG kembali menguat karena arah indeks juga ditentukan oleh faktor fundamental dan sentimen investor.[]

bank aceh