Opini  

Sjamsul Kahar, Guru dan Tokoh Pers Modern Aceh

Almarhum H. Sjamsul Kahar (foto: Serambi Indonesia)

SAYA datang ke Serambi Indonesia dengan modal yang boleh dibilang minus. Bukan hanya belum menguasai jurnalistik, kemampuan menulis pun masih jauh dari yang seharusnya dimiliki seorang wartawan. Modal mental juga belum punya.

Saya belum tahu seperti apa dunia wartawan dan bagaimana menghadapi narasumber, apalagi ketika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan.

Tetapi, justru dari kondisi itulah saya kemudian belajar.

Dan, salah satu guru yang paling banyak memberi pelajaran kepada saya adalah Sjamsul Kahar. Sososk yang di lingkungan keluarga besar Serambi Indonesia, kami panggil Atok.

Tokoh pers modern Aceh itu telah berpulang pada Kamis, 24 September 2026. Almarhum menghembuskan nafas terakhir dalam usia 80 tahun.

Kepergian Pak Sjamsul merupakan kehilangan, tidak hanya bagi Serambi. Juga bagi para jurnalis lainnya di luar Aceh, bahkan publik secara lebih luas.

Baca juga: H. Sjamsul Kahar Meninggal Dunia

Kini, setelah bertahun-tahun meninggalkan ruang redaksi, saya baru menyadari bahwa banyak hal yang dulu terasa biasa ternyata merupakan pelajaran yang sangat mahal. Dan, pelajaran itu bersumber dari sang guru Sjamsul Kahar alias Atok.

Wartawan belum dihargai

Ketika saya bergabung dengan Serambi pada 1990, menjadi wartawan belum menjadi profesi yang membanggakan seperti sekarang. Profesi ini lebih sering dipandang sebelah mata, bahkan dilihat sinis.

Lebih-lebih wartawan yang bekerja di daerah. Ada yang menganggap pekerjaan itu tidak jelas masa depannya. Ada pula yang melihat wartawan hanya sebagai orang yang datang untuk mencari-cari kesalahan.

Sikap mencibir acap diekspresikan dari balik dinding-dinding kantor pemerintah.

“Jeh katrok wartawan (Tuh ada wartawan).”

Kalimat itu terasa sarkas dan sinis. Menyindir kehadiran wartawan sebagai sosok yang kurang dikehendaki.

Kala itu, masyarakat belum benar-benar percaya bahwa pers bisa menjadi sebuah profesi dan industri yang dikelola secara profesional. Di tengah situasi seperti itulah Atok mengambil risiko.

Bersama almarhum Pak Nourhalidyn dan sejumlah tokoh lainnya, ia menggarap Serambi Indonesia secara serius. Cikal bakalnya diambil dari Mingguan Mimbar Swadaya milik Pak Nourhalidyn.

Baca juga: KabarAktual.id Bersama 9 Portal Berita Lainnya Terpilih Mengikuti Program GNI Startups Lab Indonesia

Kenapa tidak langsung membangun Serambi secara mandiri. Waktu itu, setiap media harus punya SIUPP (surat izin usaha penerbitan pers). Karena sulit mendapatkan SIUPP, konon biaya pengurusannya bisa mencapai miliara rupiah, karena itulah, Serambi mengambil SIUPP Mingguan Mimbar Swadaya.

Bukan sekadar membuat koran. Pak Sjamsul dan tim membangun sebuah perusahaan pers modren.

Ini penting dicatat, karena sebelum itu belum ada perusahaan pers di Aceh yang benar-benar digarap dengan manajemen modern dan perhatian serius terhadap kesejahteraan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Atok seperti ingin membuktikan sesuatu. Kalau wartawan diperlakukan sebagai profesional, maka masyarakat juga akan belajar menghargai profesi tersebut.

Dan, ternyata ia benar.

Gaji yang layak

Salah satu buktinya adalah soal kesejahteraan.

Ketika saya diangkat sebagai wartawan pada 1991, gaji saya sekitar Rp700-an ribu.

Untuk ukuran waktu itu, angka tersebut cukup besar.

Sebagai pembanding, gaji PNS golongan III/a yang baru diangkat saat itu sekitar Rp200-an ribu. Serambi bahkan memberikan sepeda motor baru untuk wartawan.

Sekarang, hal itu mungkin terdengar biasa. Tetapi waktu itu, motor baru adalah fasilitas yang masih tergolong mewah.

Bagi kami, itu pengalaman yang sangat membekas. Serambi ingin mengatakan bahwa wartawan adalah profesi yang harus dijalani dengan serius dan layak dihargai.

Perlahan, masyarakat pun melihat perubahannya. Serambi tumbuh menjadi media yang berpengaruh dan menjadi rujukan utama di Aceh. Bahkan muncul semacam kebiasaan: kegiatan pemerintah atau kegiatan masyarakat terasa belum lengkap kalau wartawan Serambi belum datang.

Pada saat yang lain, kalau ada wartawan di tengah masyarakat, pertanyaan yang muncul sering kali sederhana:

“Dari Serambi, ya?”

Begitulah kuatnya citra yang terbentuk.

Atok mungkin tidak pernah merancang semua itu secara sadar. Tetapi itulah salah satu efek yang timbul dari keberaniannya membangun Serambi.

Dilempar ke Lhokseumawe

Saya merupakan salah satu dari 10 wartawan hasil rekrutan periode kedua. Kami mengikuti seleksi yang ketat dan digembleng oleh para tenaga profesional yang didatangkan dari luar.

Di antara teman seangkatan saya, ada yang sudah meninggal dunia, berkiprah di profesi lain, dan sebagian kecil tetap bertahan di Serambi. Mereka adalah Bukhari M. Ali (sekarang Sekretaris Redaksi), Karta Gusti (almarhum), Khairunnisa Pardede, Muspida, Nurdinsyam, Sofyan S. Sawang (almarhum), Syahrul Rahmahn (almarhum), Wiratmadinata, Zainun Yusuf, dan tentu saja saya sendiri.

Setelah lulus dan menyandang status karyawan, saya tentu tidak langsung duduk nyaman di meja redaksi. Saya justeru mendapat tugas yang sangat menantang, “dilempar” ke Lhokseumawe.

Bisa dibayangkan, bagaimana tantangan berat yang mau tidak mau harus siap saya hadapi. Selain minimnya “bekal” jurnalistik dan mental seperti saya singgung di awal, saya juga benar-benar buta medan.

Penugasan itu adalah momen untuk pertama kalin saya menginjakkan kaki di “negeri petro dolar”, sebutan yang cukup melekat pada Lhokseumawe ketika PT Arun sedang jaya-jayanya. Bayangkan seorang anak kampung dari wilayah barat Aceh yang baru tamat kuliah dan minim pengalaman harus bertarung seorang diri di negeri orang, di wilayah timur Aceh.

Lebih dari itu, Lhokseumawe yang saya datangi bukan hanya kota dengan geliat industri dan ekonomi. Di sana, situasi keamanan sedang berkecamuk. Gangguan keamanan terjadi. Baku tembak antara GAM dan aparat keamanan juga bukan sesuatu yang asing.

Saya yang masih hijau harus belajar menjadi wartawan di tengah situasi seperti itu. Belajar mengenali wilayah. Belajar mencari narasumber. Belajar membaca situasi. Dan tentu saja belajar bagaimana menulis berita tentang konflik.

Sebagai karyawan tetap, ada beban dan tanggung jawab yang harus saya lunasi. Gaji bulanan yang saya terima harus diimbangi dengan kinerja, yaitu memproduksi berita.

Bisa dibayangkan, seseorang yang belum mengenal siapapun di sebuah daerah baru, harus bekerja memburu berita. Hampir setiap hari saya mondar-mandir Lhokseumawe-Geudong hingga balik lagi ke timur, Krueng Geukueh, untuk sesuatu yang tidak jelas dicari.

Naik-turun labi-labi (kendaraan umum), lalu masuk pasar. Tidak menemukan permasalahan yang bisa ditulis menjadi berita. Sementara batin bicara “saya sudah digaji” tapi tidak memberikan hasil apa-apa untuk perusahaan.

Desakan tanggung jawab dan beban psikologis yang sangat berat, membuat kepala saya terasa mau pecah ketika tidur malam. Saya sering tidak bisa tidur memikirkan “utang” yang belum mampu saya bayarkan kepada perusahaan, utang memproduksi berita.

Entah berapa lama situasi menekan seperti itu berlangsung. Yang saya ingat, akhirnya saya pernah menghasilkan sebuah headline news soal pemasaran tepung terigu yang tidak sesuai takaran di Pasar Inpres Lhoksumawe. Dari situ semangat saya perlahan bangkit.

Pengalaman paling berkesan justru datang dari sebuah laporan soal konflik.

Saya pernah menulis berita mengenai suatu peristiwa yang kemudian dianggap merugikan pihak keamanan. Pemberitaan itu rupanya membuat pihak berwenang tidak terima.

Karuan saja, saya menjadi sasaran “amuk” sejumlah petinggi.

Bagi wartawan muda yang belum lama mengenal medan, pengalaman itu cukup membuat saya mengerti bahwa berita bukan sekadar tulisan yang selesai setelah dicetak. Ada konsekuensi di belakangnya. Ada pihak yang merasa dirugikan. Ada kekuasaan yang mungkin tidak suka diberitakan. Tetapi justru di situlah saya mulai belajar menjadi wartawan.

Tidak lama setelah insiden tersebut, saya dimutasi kembali ke markas besar redaksi di Banda Aceh. Saya tidak pernah menganggap pengalaman itu sebagai sesuatu yang harus disesali. Justru dari situlah saya mendapat pelajaran bahwa wartawan harus tahu apa yang ditulis, menguasai fakta, memahami situasi dan siap mempertanggungjawabkan beritanya.

Atok tidak hanya membangun koran

Sekarang kalau saya melihat kembali perjalanan Serambi, saya merasa Atok sebenarnya tidak hanya membangun sebuah koran. Ia membangun manusia.

Orang-orang yang masuk ke Serambi ditempa. Sebagian bertahan menjadi wartawan. Sebagian lainnya kemudian menempuh jalan berbeda.

Ada yang masuk politik. Ada yang menjadi birokrat. Ada yang menjadi pejabat.

Dari sinilah kemudian muncul istilah yang cukup khas di Aceh: “orang Serambi”.

Beberapa nama yang pernah ditempa di Serambi kemudian menjadi kepala daerah, anggota legislatif atau pejabat pemerintahan.

Ada Mustafa A. Glanggang, Akmal Ibrahim, Muhammad Amru, almarhum Ibnu Aban GT Ulma dan Iskandar Al-Farlaky.

Nasir Djamil juga pernah menjadi bagian dari lingkungan Serambi sebelum kemudian menjadi anggota DPR RI.

Di birokrasi ada Teuku Ahmad Dadek dan almarhum Arisnur. Saya sendiri kemudian sempat meniti karier sebagai ASN Pemerintah Aceh.

Mungkin tidak pernah ada kurikulum resmi untuk melahirkan “orang Serambi”. Tetapi ruang redaksi itu memang seperti sekolah. Kami belajar dari berita yang kami tulis. Belajar dari kesalahan. Belajar dari narasumber. Belajar dari redaktur. Dan belajar dari Atok.

Menjadi guru kecil

Ada satu bagian dari masa di Serambi yang membuat saya tersenyum kalau mengingatnya. Saya pernah dipercaya membimbing para stranger dan mahasiswa publisistik yang magang.

Salah satunya Nasir Nurdin, yang sekarang menjadi Ketua PWI Aceh.

Saya masih ingat ketika pertama kali bertemu Nasir di ruang resepsionis kantor redaksi di Lampriet.

Ia datang membawa catatan lapangan.

Tulisan tangan.

Kadang di atas secarik kertas. Bahkan pernah di bekas bungkus rokok.

Tetapi anak muda itu gigih.

Setiap hari datang. Menulis. Mencoba lagi.

Saya membimbingnya semampu saya. Dengan bekal yang belum seberapa.

Salah satu tulisan dari bahan yang dikumpulkan Nasir yang masih saya ingat adalah tentang tanaman cengkeh di Lhoknga yang mulai berganti dengan tanaman kelapa. Lhoknga yang dulu dikenal sebagai daerah penghasil cengkeh perlahan berubah.

Saya memberi judul tulisan itu, kalau tidak salah: “Ketika Cengkeh Lhoknga Berbuah Kelapa.”

Sekarang saya justru merasa bangga pernah berada dalam posisi itu. Atok memberi saya kepercayaan untuk mengajari orang lain, padahal saya sendiri saat itu masih belajar.

Mungkin itulah cara sebuah sekolah bekerja. Murid yang sudah belajar sedikit diminta membantu murid berikutnya.

Artikel opini yang bikin geger

Setelah itu, saya mendapat beberapa kepercayaan lain. Saya menjadi Asisten Redaktur Kota. Kemudian dimutasi menjadi salah satu Redaktur Daerah untuk halaman Lhokseumawe bersama Nasir Yusuf dan almarhum Ridwan Ishaq.

Saya juga pernah menangani rubrik Opini.

Salah satu artikel yang cukup membuat heboh ketika saya menggawangi rubrik itu adalah tulisan Otto Iskandar, akademisi Universitas Syiah Kuala, berjudul: “Iskandar Muda, Pahlawankan Dia?”

Saya ingat, kejadian itu masih saat berada di kantor Lampriet.

Setelah Serambi pindah ke kantor baru di Baet, saya mulai kurang aktif. Saya kemudian memilih profesi lain dan meninggalkan Serambi secara baik-baik.

Tetapi saya tidak pernah benar-benar meninggalkan pelajarannya.

“Jangan mencari-cari kesalahan”

Atok punya cara sendiri mengajarkan jurnalistik.

Waktu itu kami belum akrab dengan istilah Kode Etik Jurnalistik seperti sekarang. Tetapi prinsip-prinsip dasarnya sudah ditanamkan.

Salah satunya soal konfirmasi.

Pesannya sederhana. “Kalau tidak ada kepala kantor, temui wakilnya. Tidak berhasil menemui narasumber di kantornya, datang ke rumahnya. Tidak ada juga, tanyakan kepada pembantunya.”

Artinya, jangan berhenti sebelum melakukan upaya konfirmasi.

Ada lagi nasihat yang sampai sekarang saya ingat: “Jangan mencari-cari kesalahan. Yang positif tetap diberitakan. Kalau ada informasi negatif, konfirmasi kepada pihak yang menjadi objek pemberitaan.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi saya, di situlah watak seorang wartawan dibentuk.

Wartawan tidak boleh datang membawa kesimpulan. Tidak boleh hanya mencari sesuatu yang sesuai dengan prasangka.

Kalau ada yang baik, beritakan. Kalau ada yang negatif, konfirmasi. Kalau ada yang salah, pastikan dulu faktanya.

Atok mengajarkan itu jauh sebelum istilah-istilah tentang jurnalistik profesional menjadi akrab di ruang redaksi.

Keberanian mengambil risiko

Kini saya melihat keberanian Atok dari sudut yang berbeda.

Ia bukan hanya berani membangun Serambi ketika profesi wartawan belum dipercaya masyarakat. Ia juga berani menempatkan wartawan muda seperti kami ke lapangan. Termasuk saya, yang belum menguasai medan dan kemudian harus belajar jurnalistik di tengah situasi konflik Lhokseumawe.

Mungkin bagi Atok, itulah cara membentuk wartawan. Tidak cukup dengan duduk di ruang redaksi. Harus turun ke lapangan. Harus melihat sendiri. Harus bertanya. Harus menulis. Dan kalau tulisan itu menimbulkan persoalan, harus siap menjelaskan dari mana fakta diperoleh.

Itulah sekolah yang saya jalani. Sekolah yang tidak punya gedung khusus. Namanya Serambi Indonesia. Gurunya antara lain Atok.

Pak Sjamsul sekarang sudah pergi. Tetapi jejaknya masih ada di mana-mana. Ada pada Serambi Indonesia. Ada pada orang-orang yang pernah bekerja di sana. Ada pada wartawan yang pernah dididiknya.

Ada pada “orang Serambi” yang kemudian masuk ke berbagai bidang kehidupan. Dan, mungkin ada pula pada saya.

Saya memang tidak lama menjadi bagian dari Serambi. Tetapi bertahun-tahun kemudian saya baru menyadari bahwa waktu yang singkat itu telah memberi bekal yang panjang.

Atok mengajarkan saya bahwa menjadi wartawan bukan sekadar pandai menulis. Wartawan harus berani. Tetapi keberanian tanpa fakta bisa menjadi masalah. Wartawan harus kritis. Tetapi kritis bukan berarti mencari-cari kesalahan.

Wartawan harus berani memberitakan yang negatif. Tetapi pihak yang diberitakan harus diberi kesempatan untuk menjelaskan. Dan, yang paling penting, wartawan harus menghormati pembacanya dengan menyajikan informasi yang benar.

Mungkin itulah warisan Atok yang paling penting. Ia datang ketika masyarakat masih skeptis terhadap wartawan. Lalu ia membangun sebuah perusahaan pers yang membuat wartawan perlahan dihargai.

Ia membangun Serambi. Tetapi, tanpa disadarinya, ia juga membangun sebuah generasi. Generasi yang kemudian dikenal sebagai orang Serambi.

Saya salah satu muridnya. Mungkin murid yang tidak terlalu lama duduk di bangku sekolah itu. Tetapi saya bersyukur pernah menjadi bagian di dalamnya.

Selamat jalan, Atok.

Terima kasih karena pernah mengajari kami bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal mencari berita. Tetapi juga soal keberanian, tanggung jawab dan kejujuran dalam menyampaikan apa yang kita lihat dan kita ketahui.

Terima kasih karena telah membuat profesi yang dulu dipandang sebelah mata menjadi profesi yang kemudian dihargai.[]

Penulis meruapakan salah satu generasi kedua di Serambi Indonesia

bank aceh