KabarAktual.id – Dua kandidat Ketua PWI Aceh menyampaikan gagasan berbeda menjelang Konferensi Provinsi (Konferprov) XIII PWI Aceh. Sayuti Achmad menawarkan pembebasan iuran Kartu Tanda Anggota (KTA), sedangkan Nasir Nurdin mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan di tengah kompetisi.
Sayuti menyampaikan gagasan pembebasan iuran KTA setelah menyerap aspirasi anggota dari safari ke wilayah Barat Selatan (Barsela) Aceh. Ia berjanji akan menanggung biaya pembuatan dan perpanjangan KTA jika terpilih sebagai Ketua PWI Aceh.
Kepada awak media, Jumat (23/10/2026), ia bertekad menjadikan aspirasi tersebut sebagai program sekaligus inovasi untuk membangun organisasi. Dengan begitu, organisasi tidak membebani anggotanya dengan pungutan tambahan. “Benar, itu kewajiban anggota sebesar Rp250 ribu setiap perpanjangan dan pembuatan kartu baru,” kata Sayuti.
Namun, jika dipercaya memimpin PWI Aceh, ia berencana mengambil alih kewajiban pembayaran tersebut sehingga anggota tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pembuatan maupun perpanjangan KTA. “Kalau saya terpilih, iuran wajib KTA dibebaskan. Untuk menyetor ke pusat, itu ditanggung PWI Aceh,” tandasnya.
Baca juga: Apakah Artikel Opini Itu Karya Jurnalistik?
Selain persoalan iuran KTA, Sayuti juga menyoroti kebiasaan pengumpulan donasi dari anggota setiap kali PWI Aceh menggelar kegiatan organisasi. Praktik tersebut, menurut dia, perlu dihentikan agar anggota tidak terus-menerus dibebani biaya tambahan, baik untuk kegiatan Maulid maupun agenda organisasi lainnya.
Sayuti mengaku telah menerima banyak keluhan dari anggota PWI di berbagai daerah di Aceh mengenai persoalan tersebut. “Saya sudah mendapat curhatan banyak dari anggota seluruh Aceh,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh anggota membangun PWI sebagai rumah besar wartawan yang mengedepankan persatuan dan kebersamaan, bukan justru menambah beban anggotanya. “Janganlah kita menyusahkan dan membebankan anggota dengan sedikit-sedikit donasi,” pungkasnya.
Bahaya Perpecahan
Sementara itu, kandidat Ketua PWI Aceh lainnya, Nasir Nurdin, menekankan pentingnya menjaga soliditas organisasi di tengah dinamika menjelang Konferprov XIII PWI Aceh.
Menurut Nasir yang juga calon petahana, konferensi tersebut merupakan momentum penting untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi sekaligus menguji kedewasaan seluruh anggota dalam menjalankan demokrasi internal.
Baca juga: Sjamsul Kahar, Guru dan Tokoh Pers Modern Aceh
Ia mengingatkan seluruh elemen PWI Aceh agar tidak terjebak dalam pembentukan kubu atau kelompok yang berpotensi merusak hubungan antaranggota. Konferprov, kata dia, seharusnya menjadi forum untuk melahirkan pemimpin yang mampu mengayomi, merangkul, dan memperkuat organisasi, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Seperti dilansir laman PortalNusa.com, Nasir juga mengimbau seluruh kandidat dan pendukungnya menyikapi kompetisi secara dewasa. Upaya saling menjatuhkan, mencari-cari kesalahan pihak lain, hingga menyebarkan fitnah harus dihindari demi menjaga marwah organisasi dan martabat profesi kewartawanan.
Ia turut mengingatkan para kandidat agar tidak mudah terprovokasi oleh manuver pihak-pihak yang berpotensi memanfaatkan momentum konferensi untuk kepentingan tertentu.
Menurut Nasir, Konferprov XIII harus menjadi tolok ukur kedewasaan berorganisasi seluruh jajaran PWI Aceh. Perbedaan pandangan dan pilihan dalam pemilihan tidak semestinya mengorbankan persaudaraan sesama wartawan.
Dengan mengedepankan etika, pemikiran jernih, dan komitmen bersama, ia berharap PWI Aceh dapat berkembang menjadi organisasi profesi yang semakin solid, profesional, dan berintegritas.
Pada akhirnya, Nasir menegaskan bahwa apa pun hasil konferensi, seluruh anggota tetap berada dalam satu wadah dan memiliki tujuan yang sama, yakni mewujudkan PWI Aceh yang lebih kuat, bermartabat, dan disegani.[]












