KabarAktual.id – Direktur RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, Muhazar, angkat bicara soal krisis obat yang melanda rumah sakit itu akhir-akhir ini. Muhazar juga berjanji memperbaiki layanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang dikeluhkan masyarakat bertahun-tahun.
Dalam keterangan tertulis kepada KabarAktual.id, Selasa (21/4/2026), Muhazar tidak menampik apa yang dikeluhkan masyarakat terkait pelayanan RSUDZA, terutama masalah tidak layaknya ruangan IGD. “Itulah masalahnya..,” ujar Muhazar.
Menanggapi sorotan terhadap kondisi ruang IGD yang dinilai sempit dan pelayanan yang lamban, menurut Muhazar, pihak rumah sakit telah menyusun Detail Engineering Design (DED) untuk pengembangan fasilitas tersebut. Karena itu, ia berharap masyarakat bisa bersabar. “Kami tahu itu. InsyaAllah, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mempercepat jam tunggu pasien,” ujarnya.
Krisis obat
Direktur RSUDZA juga mengakui bahwa rumah sakit sering mengalami krisis obat belakangan. Persoalan ketersediaan obat, kata dia, terjadi karena pembayaran utang kepada vendor belum tuntas.
Menurut Muhazar, penyebab obat tidak ada adalah sering di-lock/hold atau diputuskan oleh vendor karena hutang belum terbayarkan. “Kami tetap berkomitmen memenuhi semua obat pasien. Harap bersabar,” tulis Muhazar berusaha menenangkan masyarakat.
Menurut informasi yang diterima media ini, kelangkaan obat di RSUDZA sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Banyak pasien yang tidak bisa mendapatkan obat di farmasi rumah sakit. Kondisi ini dikhawatirkan bisa menimbulkan resiko terburuk bagi mereka yang ketergantungan obat.
Baca juga: Dipimpin Muhazar, Pelayanan RSUZA Makin tidak Manusiawi
Sebelumnya, KabarAktual.id, Senin (20/4/2026), memberitakan keluhan masyarakat terhadap pelayanan di rumah sakit pelat merah tersebut. Sejumlah keluarga pasien mengeluhkan antrean panjang di IGD, lambatnya penanganan medis, serta sulitnya memperoleh obat yang diresepkan dokter karena stok kosong.
Baca juga: BREAKING NEWS: Ratusan Nakes RSUZA Demo, Protes Pemotongan Tunjangan
Keluhan tersebut memicu sorotan publik terhadap manajemen rumah sakit rujukan utama di Banda Aceh itu, terutama di tengah tingginya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.
Muhazar memastikan manajemen rumah sakit tetap berupaya memperbaiki pelayanan dan memenuhi kebutuhan pasien meski menghadapi kendala keuangan.[]












