width=
News  

Nipharia; Saat Kopi Gayo Bertemu Nipah, Harapan Baru dari Pesisir Aceh

Di tengah tren minuman kekinian yang terus berkembang, sekelompok mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan sebuah inovasi yang tidak hanya menawarkan cita rasa unik, tetapi juga membawa pesan tentang keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Produk itu bernama Nipharia, minuman berbasis cold brew Kopi Arabika Gayo yang dipadukan dengan buah nipah (Nypa fruticans), tanaman khas kawasan rawa dan pesisir Aceh yang selama ini masih jarang dimanfaatkan secara optimal.

Bagi sebagian masyarakat pesisir, nipah bukanlah tanaman asing. Pohon palem yang tumbuh alami di kawasan mangrove ini telah lama dimanfaatkan secara tradisional. Namun, potensinya sebagai bahan pangan modern masih relatif belum banyak dikembangkan.

Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa buah nipah mengandung serat pangan, senyawa antioksidan, serta berbagai komponen bioaktif yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh. Kajian yang dipublikasikan dalam Food Research International dan beberapa jurnal pangan tropis menyebutkan bahwa bagian buah maupun nira nipah memiliki kandungan fenolik yang berperan sebagai antioksidan alami.

Potensi inilah yang kemudian dilihat oleh Teuku Arief Kamilussyifak dan timnya. “Kami melihat ada kesenjangan antara kekayaan hayati pesisir Aceh dengan gaya hidup urban modern. Nipharia hadir untuk menjembatani keduanya,” ujar Arief, Ketua Tim Nipharia.

Menurutnya, banyak generasi muda yang akrab dengan kopi dan minuman modern, tetapi belum mengenal nilai gizi maupun potensi ekonomi tanaman nipah yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.

Dari Rawa Pesisir ke Botol Minuman Modern

Nipharia dikembangkan dengan konsep sederhana namun menarik. Tim memadukan cold brew Kopi Arabika Gayo dengan sirup dan jeli nipah yang berfungsi sebagai pemanis alami sekaligus sumber serat.

Perpaduan tersebut menghasilkan karakter rasa yang berbeda dari minuman kopi pada umumnya. Aroma khas kopi Gayo tetap dominan, sementara nipah menghadirkan sensasi manis alami dan tekstur yang lebih kaya.

Pilihan menggunakan metode cold brew juga bukan tanpa alasan. Sejumlah studi yang diterbitkan dalam Scientific Reports menunjukkan bahwa proses ekstraksi dingin cenderung menghasilkan tingkat keasaman lebih rendah dibanding seduhan panas, sehingga memberikan profil rasa yang lebih lembut bagi sebagian konsumen.

Bagi tim pengembang, Nipharia bukan sekadar produk minuman. Inovasi ini merupakan upaya mempertemukan komoditas unggulan dataran tinggi Aceh dengan sumber daya pesisir yang selama ini belum mendapatkan perhatian setara.

Keunikan Nipharia tidak hanya terletak pada produknya, tetapi juga pada tujuan yang ingin dicapai.

Tim mahasiswa lintas disiplin yang terdiri dari Teuku Arief Kamilussyifak, Zia Mahira, Muhammad Nabil, Muhammad Isra Aguza, dan Balqis Nabilah Putri melihat peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pesisir melalui pendekatan bisnis modern.

Gagasan tersebut mendapat dukungan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dosen pembimbing tim, Fakhri Ramadhan, M.Sc., menjelaskan bahwa pengembangan usaha dilakukan secara terstruktur, mulai dari pengolahan bahan baku hingga strategi pemasaran. “Setiap tahapan telah dirancang dengan matang. Kami ingin Nipharia tidak hanya hadir sebagai produk F&B, tetapi juga memberi dampak bagi ekonomi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan rawa pesisir,” katanya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep blue economy, yakni model pembangunan yang memanfaatkan sumber daya pesisir secara berkelanjutan sambil tetap menjaga fungsi ekologisnya.

Validasi Pasar yang Menjanjikan

Meski masih tergolong usaha rintisan, respons pasar terhadap Nipharia cukup menggembirakan. Dalam ajang Bhayangkara Fest yang digelar baru-baru ini, seluruh stok produk yang dibawa tim habis terjual.

Saat ini Nipharia dipasarkan dengan harga Rp20.000 per botol melalui berbagai kanal distribusi, mulai dari kantin kampus, kedai kopi lokal, hingga kegiatan Car Free Day di Banda Aceh.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa konsumen mulai terbuka terhadap produk pangan lokal yang dikemas secara modern dan memiliki nilai cerita yang kuat. Fenomena ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan meningkatnya minat konsumen terhadap produk berbasis bahan baku lokal, berkelanjutan, dan memiliki manfaat kesehatan.

Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bahkan menempatkan diversifikasi pangan lokal sebagai salah satu strategi penting untuk mendukung ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi daerah.

Masa Depan Komoditas Pesisir

Bagi tim Nipharia, perjalanan mereka baru dimulai. Ke depan, mereka berkomitmen memperkuat empat pilar utama pengembangan usaha, yakni peningkatan nilai komoditas pesisir, promosi gaya hidup sehat, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, dan pelestarian ekosistem rawa.

Di balik sebotol kopi nipah, tersimpan sebuah gagasan yang lebih besar: bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari teknologi yang rumit. Kadang-kadang, inovasi justru muncul ketika potensi yang selama ini dianggap biasa dipandang dengan cara yang berbeda.

Melalui Nipharia, para mahasiswa USK mencoba membuktikan bahwa rawa pesisir bukan sekadar bentang alam yang terlupakan. Di sana tersimpan sumber daya yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka peluang ekonomi baru, dan membawa produk lokal Aceh bersaing di pasar modern.[]

bank aceh