KabarAktual.id – Global Engagement Office (GEO) Universitas Syiah Kuala (USK) resmi menutup Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) tahun ajaran 2025/2026. Sebanyak tujuh mahasiswa internasional yang mengikuti program tersebut kini diproyeksikan menjadi duta bahasa dan budaya Indonesia di negara masing-masing.
Acara penutupan dan perpisahan berlangsung di Ruang VIP AAC Dayan Dawood USK, Banda Aceh, pada 15 Mei 2026. Ketujuh peserta berasal dari berbagai negara, yakni Afghanistan, Botswana, Malawi, Tanzania, Kepulauan Solomon, dan Kirgizstan. Sebagian besar merupakan penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB).
Kepala GEO USK, Prof. Dr. Syamsidik, S.T., M.Sc., mengatakan pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi juga menjadi sarana memahami budaya dan memperluas pertukaran gagasan antarbangsa.
Baca juga: Calon Mahasiswa Luar Negeri Meningkat, USK Tembus Peringkat 21 Dunia
Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran bahasa bagi mahasiswa asing. “Teruslah berlatih dan berani berinteraksi dengan masyarakat lokal. Kurangi bergaul hanya dengan sesama rekan dari negara asal, karena pengalaman komunikasi langsung adalah kunci tercepat untuk memahami budaya dan memperlancar kemampuan bahasa,” kata Syamsidik dalam sambutannya.
Koordinator BIPA USK, Drs. Mukhlis, M.Hum., turut mengapresiasi komitmen para peserta selama mengikuti program. Ia berharap kemampuan bahasa Indonesia yang telah diperoleh dapat terus dikembangkan dan menjadi bekal untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional. “Pengalaman selama belajar di USK diharapkan tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga menjadi modal bagi mereka untuk menjadi duta bahasa dan budaya Indonesia di negara masing-masing,” ujarnya.
Salah seorang peserta, Suzan Joseph Misinzo asal Tanzania, mengaku mengalami banyak perkembangan sejak pertama kali datang ke Aceh. Ia mengisahkan kesulitan berkomunikasi yang dialaminya pada awal program hingga akhirnya mampu berinteraksi secara mandiri dengan masyarakat lokal.
Baca juga: Lima Mahasiswa Thailand Lulus Dokter di USK, Bukti Kampus Aceh Mulai Dilirik Dunia
“Saat pertama datang, saya bahkan tidak tahu cara menyapa orang. Sekarang saya jauh lebih percaya diri untuk bepergian sendiri dan berkomunikasi dengan masyarakat lokal, termasuk dengan mereka yang tidak berbahasa Inggris,” katanya.
Program BIPA merupakan salah satu instrumen strategis USK dalam memperkuat internasionalisasi kampus. Selain membekali mahasiswa asing dengan kemampuan berbahasa Indonesia, program ini juga menjadi wadah membangun jejaring persahabatan lintas negara serta memperkuat pemahaman antarbudaya.
Melalui program tersebut, USK berharap para peserta dapat membawa pengalaman positif selama tinggal di Aceh sekaligus terus mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia yang telah mereka pelajari selama satu tahun terakhir.[]












