News  

Sambut 1 Muharram 1448 H, MAA Serukan Hijrah Akhlak dan Tolak Perayaan Hura-Hura

Prof. Yusri Yusuf

KabarAktual.id – Majelis Adat Aceh (MAA) mengeluarkan Risalah dan Fatwa Moral menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Pada momentum tahun baru Islam, masyarakat Aceh diajak menuju kehidupan yang lebih baik melalui penguatan akhlak, keimanan, kepedulian sosial, serta pelestarian nilai-nilai adat yang sejalan dengan syariat Islam.

Risalah yang ditandatangani Ketua MAA, Prof. Dr. Drs. H. Yusri Yusuf, M.Pd., itu menegaskan bahwa kemuliaan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari kemajuan pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas moral, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, MAA mengingatkan agar peringatan Tahun Baru Islam tidak dirayakan secara berlebihan atau dengan kegiatan yang bertentangan dengan syariat dan adat Aceh.

“Majelis Adat Aceh mengingatkan bahwa kemuliaan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari kemajuan pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas akhlak, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT,” demikian salah satu penegasan dalam risalah tersebut.

Dalam pertimbangannya, MAA menegaskan bahwa Al-Qur’an dan Hadis merupakan dasar utama kehidupan masyarakat Aceh yang telah menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara. Aceh, tegas MAA, memiliki kewenangan menjalankan syariat Islam berdasarkan keistimewaan dan otonomi khusus yang diatur dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan.

Baca juga: Sempat “Dihadang” Surat BKN, Prof Yusri Akhirnya Dikukuhkan Jadi Ketua MAA

Selain itu, MAA menilai Tahun Baru Islam merupakan momentum penting untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan syariat. Di tengah berbagai tantangan sosial yang berkembang, masyarakat Aceh dinilai perlu memperkuat nilai-nilai akhlak, etika, solidaritas sosial, serta menjaga identitas sebagai masyarakat yang beradat, berbudaya, dan bersyariat Islam.

Melalui risalah tersebut, MAA menyerukan lima poin utama kepada seluruh elemen masyarakat Aceh.

Pertama, kepada seluruh masyarakat Aceh agar menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui peningkatan ibadah wajib dan sunnah, memperbanyak zikir, doa, serta membaca Al-Qur’an. Masyarakat juga diajak melakukan muhasabah atau introspeksi terhadap perilaku dan amal selama satu tahun terakhir.

Kedua, kepada seluruh keluarga Aceh agar menanamkan akhlak mulia kepada generasi muda dengan membiasakan sikap menghormati orang tua, guru, dan pemimpin. MAA juga mengingatkan pentingnya menjaga adab dalam berbicara, termasuk di media sosial, menjauhi perilaku yang bertentangan dengan nilai agama dan adat, serta menumbuhkan rasa malu sebagai benteng moral dalam kehidupan.

Ketiga, kepada para pemuda dan pelajar agar menjadikan semangat hijrah sebagai motivasi untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, menjauhi narkoba, perjudian, pergaulan bebas, dan segala bentuk kemaksiatan. Generasi muda juga diharapkan menjadi pelopor persatuan, perdamaian, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Baca juga: Meluruskan “Fatwa Sesat” Larangan Rangkap Jabatan Profesor, Kepala BKN Sowan ke MAA

Keempat, kepada seluruh masyarakat agar memperkuat kepedulian sosial dengan membantu fakir miskin, anak yatim, dan kaum dhuafa. MAA juga mengajak masyarakat mempererat silaturahmi, menyelesaikan perselisihan melalui musyawarah, menghidupkan kembali budaya gotong royong atau meuseuraya, serta menumbuhkan semangat berbagi dan saling membantu dalam menghadapi kesulitan hidup.

Kelima, kepada para tokoh agama, tokoh adat, aparatur pemerintahan, dan seluruh pemimpin masyarakat agar menjadi teladan dalam menjaga integritas dan kejujuran, mengedepankan musyawarah dan kebijaksanaan, memelihara keharmonisan sosial, serta menegakkan nilai-nilai agama dan adat secara arif dan bermartabat.

MAA menegaskan bahwa nilai-nilai adat Aceh selama ini sejalan dengan ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam falsafah Aceh, “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana.” Karena itu, penguatan adat dan syariat harus berjalan beriringan dalam membangun kehidupan masyarakat yang bermartabat.

Menutup risalahnya, MAA berharap Tahun 1448 Hijriah menjadi tahun yang membawa keberkahan bagi Aceh, memperkuat persatuan masyarakat, serta menghadirkan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Aceh. MAA mengusung tema peringatan Tahun Baru Islam kali ini: “Hijrah Akhlak, Menguatkan Adat dan Syariat, Membangun Aceh Bermartabat.”[]

bank aceh