Catatan Kecil Ramadan MS, Pemred KabarAktual.id
SAYA tidak lahir di Aceh. Darah yang mengalir dalam tubuh saya juga bukan darah orang Pidie, bukan pula darah yang tumbuh dari lembah-lembah Gayo atau pesisir Pasee. Namun Aceh adalah tanah yang mempertemukan saya dengan banyak kisah besar.
Di antara sekian banyak tokoh yang pernah saya kenal, ada satu nama yang selalu terasa berbeda: dr. H. Zaini Abdullah, atau yang lebih akrab dipanggil Abu Doto.
Sabtu siang itu, ketika kabar wafatnya menyebar dari Banda Aceh hingga ke pelosok kampung, saya merasa Aceh sedang menutup satu halaman sejarah yang sangat panjang. Bukan karena seorang mantan gubernur telah berpulang.
Aceh sudah berkali-kali kehilangan pejabat dan pemimpin. Tetapi karena yang pergi kali ini adalah seorang saksi hidup dari tiga zaman yang berbeda: zaman perlawanan, zaman pengasingan, dan zaman perdamaian.
Saya mengenal Abu Doto bukan pertama-tama sebagai gubernur. Jauh sebelum itu, ia adalah nama yang sering disebut dengan nada hormat oleh banyak orang yang pernah berada di lingkaran perjuangan Gerakan Aceh Merdeka.
Di tengah cerita-cerita tentang hutan, pengasingan, dan diplomasi internasional, nama Zaini Abdullah selalu hadir sebagai sosok yang tenang. Ia bukan tipe pemimpin yang membangun pengaruh melalui suara yang keras. Ia justru membangun kewibawaan melalui ketenangan yang sulit dijelaskan.
Setiap kali berbincang dengannya, saya selalu menemukan satu hal yang sama: kesederhanaan cara berpikir. Padahal di hadapan saya berdiri seorang dokter yang pernah meninggalkan profesi mapan demi sebuah keyakinan politik, seorang diplomat yang puluhan tahun memperjuangkan isu Aceh di panggung internasional, sekaligus seorang tokoh yang duduk di meja perundingan Helsinki ketika masa depan Aceh sedang ditentukan.
Baca juga: Mulai 12 Februari 2025, Aceh Dipimpin Mantan Panglima GAM
Barangkali karena itulah saya selalu melihat Abu Doto sebagai GAM dalam bentuk yang paling utuh. Ia bukan GAM yang lahir dari romantisme senjata semata. Ia adalah GAM yang memahami bahwa perjuangan memiliki banyak wajah.
Kadang wajah itu hadir di hutan bersama para gerilyawan. Kadang hadir di ruang diplomasi yang dingin di Eropa. Kadang hadir di meja perundingan yang menuntut kesabaran lebih besar daripada medan perang.
Banyak orang mengenal Abu Doto sebagai “Menteri Luar Negeri” GAM. Sebutan itu tidak berlebihan. Selama puluhan tahun hidup di Swedia bersama Hasan Tiro, ia menjadi salah satu wajah Aceh di mata dunia. Ketika sebagian orang mengangkat senjata, ia mengangkat argumentasi. Ketika sebagian berbicara tentang perang, ia berbicara tentang hak, martabat, dan masa depan rakyat Aceh.
Namun yang paling mengagumkan bagi saya bukanlah perjalanan panjangnya di luar negeri. Yang paling membuat masygul adalah bagaimana seorang eksil politik yang puluhan tahun hidup jauh dari tanah kelahirannya bisa kembali dan diterima oleh rakyatnya sebagai pemimpin.
Dari Stockholm, ia pulang ke Banda Aceh.
Dari ruang-ruang diplomasi, ia melangkah ke Meuligoe Gubernur.
Dari seorang tokoh perlawanan, ia berubah menjadi kepala pemerintahan yang harus mengurus jalan rusak, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga denyut kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca juga: Abu Doto Meninggal Dunia
Transformasi seperti itu tidak banyak dimiliki oleh tokoh-tokoh dalam sejarah konflik di mana pun.
Saya masih meyakini bahwa kemenangan pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf pada Pilkada Aceh 2012 bukan sekadar kemenangan politik. Ia adalah simbol bahwa sejarah bisa bergerak ke arah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mereka yang dahulu dicap pemberontak justru memperoleh legitimasi melalui mekanisme demokrasi dan memimpin daerah yang pernah menjadi medan konflik.
Tentu, seperti semua pemimpin, Abu Doto bukan sosok yang tanpa kritik. Tidak ada pemimpin yang sempurna. Tetapi sejarah tidak hanya mengukur seseorang dari keberhasilan atau kegagalan program pemerintahannya. Sejarah juga mengukur keberanian seseorang dalam mengambil peran pada saat-saat paling menentukan.
Dan, Abu Doto hadir pada hampir setiap persimpangan besar sejarah Aceh modern. Ia menyaksikan warisan konflik sejak masa kecilnya. Ia ikut membangun GAM pada masa-masa awal. Ia terlibat dalam diplomasi panjang yang membawa Aceh menuju perdamaian.
Ia ikut menjaga implementasi damai ketika dipercaya menjadi gubernur. Tidak banyak tokoh yang memiliki rentang perjalanan seperti itu.
Bersama Mujahid Arrazi dan editor Masykur Abdullah, kami menulis buku Abu Doto: Perjuangan Tanpa Akhir beberapa tahun lalu. Yang kami coba rekam sebenarnya bukan sekadar biografi seorang tokoh, kami ingin menangkap sebuah garis panjang perjalanan Aceh yang kebetulan terpantul melalui kehidupan seorang Zaini Abdullah.
Karena sesungguhnya, kisah Abu Doto adalah kisah Aceh itu sendiri.
Tentang luka dan harapan.
Tentang perang dan perdamaian.
Tentang kehilangan dan keteguhan.
Tentang bagaimana sebuah bangsa kecil bernama Aceh berusaha menemukan jalan pulangnya.
Hari ini, perjalanan panjang itu telah berakhir. Dokter yang menjadi pejuang, pejuang yang menjadi diplomat, diplomat yang menjadi gubernur, kini telah kembali kepada Sang Pencipta.
Tetapi saya percaya, orang-orang seperti Abu Doto tidak benar-benar pergi. Mereka tetap hidup dalam cerita yang dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka hidup dalam catatan sejarah. Hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Dan hidup dalam damai yang hari ini dinikmati oleh rakyat Aceh.
Selamat jalan, Abu Doto.
Aceh kehilangan seorang putra terbaiknya. Saya kehilangan seorang tokoh yang selalu saya hormati. Dan, sejarah Aceh kehilangan satu lagi saksi yang telah menunaikan seluruh perjalanannya hingga akhir.[]












