FILM dokumenter “Pesta Babi” tiba-tiba menghentakkan Tanah Air. Di saat masyarakat begitu sulit menembus sekat birokrasi dan tembok parlemen, selalu ada cara untuk menyuarakan kebenaran. Pesta Babi, bukan tentang sajian menu berbahan babi.
Bukan sekadar tontonan, film Pesta Babi adalah alarm keras tentang apa yang sedang terjadi di Papua Selatan. Di balik narasi besar pembangunan nasional, ketahanan pangan, dan transisi energi, film ini memperlihatkan sisi lain yang jarang muncul di ruang publik: hilangnya hutan adat, tercerabutnya identitas masyarakat asli, dan lahirnya ketegangan baru antara negara, korporasi, dan komunitas lokal.
Dengan durasi sekitar 90 menit, dokumenter ini memadukan pendekatan jurnalistik investigatif, observasi antropologis, dan visual sinematik yang kuat. Kamera tidak hanya merekam bentang alam Papua yang perlahan berubah menjadi hamparan industri, tetapi juga menangkap ekspresi cemas masyarakat adat yang merasa rumah mereka sedang diambil sedikit demi sedikit.
Film berfokus pada wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Cerita dibuka dengan kedatangan kapal-kapal besar yang membawa ekskavator dan alat berat ke kawasan hutan Papua.
Proyek itu dikaitkan dengan program strategis nasional berupa food estate, perkebunan sawit, hingga pengembangan bioetanol dan biodiesel atas nama ketahanan pangan serta transisi energi.
Di sinilah film mulai membangun pertentangan utamanya.
Negara memandang proyek tersebut sebagai simbol kemajuan dan investasi masa depan. Namun bagi masyarakat adat seperti suku Marind Anim, Yei, Awyu, dan Muyu, hutan bukan sekadar komoditas ekonomi. Hutan adalah ruang hidup, sumber pangan, identitas budaya, bahkan bagian dari spiritualitas mereka.
Ketika hutan sagu ditebang dan tanah ulayat dipatok, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga cara hidup.
Tokoh seperti Yasinta Moiwend dan Vincen Kwipalo menjadi wajah utama dari kegelisahan itu.
Melalui percakapan sederhana dan gambar-gambar keseharian, penonton diperlihatkan bagaimana masyarakat adat mengalami keterkejutan menghadapi perubahan yang datang terlalu cepat dan terlalu besar.
Film ini kuat karena tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga tentang relasi kuasa.
Dalam perspektif teori political ecology, konflik lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Kerusakan alam selalu berkaitan dengan perebutan kekuasaan atas ruang hidup dan sumber daya. Negara dan korporasi memiliki akses modal, regulasi, dan aparat keamanan, sementara masyarakat adat sering berada pada posisi paling lemah dalam menentukan masa depan tanahnya sendiri.
Konsep lain yang terasa sangat kuat dalam film ini adalah developmentalism atau ideologi pembangunanisme. Dalam teori ini, pembangunan sering diposisikan sebagai sesuatu yang mutlak benar sehingga kritik terhadapnya dianggap sebagai hambatan kemajuan.
Pesta Babi justru mempertanyakan logika tersebut. Apakah pembangunan tetap bisa disebut kemajuan jika masyarakat asli kehilangan tanah dan identitasnya? Apakah proyek ketahanan pangan dapat dibenarkan ketika komunitas lokal justru kehilangan sumber pangan tradisional mereka?
Judul Pesta Babi sendiri menjadi metafor yang sangat tajam. Dalam tradisi Papua, pesta babi bukan sekadar ritual makan bersama. Itu adalah simbol syukur, perdamaian, solidaritas, dan persatuan komunitas. Namun dalam film ini, makna tersebut dipelintir menjadi kritik sosial: tanah adat seperti sedang dijadikan “jamuan besar” bagi kepentingan politik dan ekonomi.
Yang berpesta adalah pemegang kuasa. Yang dikorbankan adalah masyarakat adat.
Simbol “salib merah” yang dipasang warga menjadi penanda penolakan terhadap perusahaan dan proyek-proyek besar yang masuk ke wilayah mereka.
Film ini menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat Papua melihat situasi tersebut sebagai bentuk kolonialisme modern — eksploitasi sumber daya atas nama pembangunan nasional dengan dukungan kekuatan negara dan militerisasi kawasan.
Dari situlah film mulai memunculkan kontroversi. Sebagian kalangan menilai dokumenter ini terlalu politis dan cenderung membangun citra negatif terhadap program pemerintah. Ada pula yang menuding film tersebut dapat memicu sentimen anti-investasi dan memperuncing ketegangan di Papua.
Penolakan juga muncul karena film ini menyentuh isu yang sangat sensitif: hubungan antara negara, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat adat Papua.
Dalam konteks politik Indonesia, tema seperti ini memang kerap dianggap rawan karena berpotensi membuka kembali perdebatan tentang marginalisasi Papua dan pendekatan pembangunan di wilayah tersebut. Namun justru di situlah kekuatan Pesta Babi.
Film ini tidak menawarkan jawaban hitam-putih. Ia lebih banyak mengajak penonton mempertanyakan ulang makna pembangunan, kemajuan, dan keadilan sosial.
Dokumenter ini memaksa publik melihat bahwa di balik istilah “proyek strategis nasional”, ada manusia-manusia yang hidupnya ikut dipertaruhkan.
Secara visual, film ini juga berhasil membangun atmosfer yang emosional dan mencekam. Bentangan hutan Papua yang hijau kontras dengan suara mesin alat berat dan iring-iringan kendaraan proyek. Perubahan lanskap alam menjadi simbol perubahan sosial yang sedang berlangsung secara perlahan tetapi masif.
Pada akhirnya, Pesta Babi bukan hanya film tentang Papua. Ia adalah refleksi tentang bagaimana negara modern memperlakukan ruang hidup masyarakat adat di tengah ambisi pembangunan besar-besaran.
Film ini mungkin membuat sebagian orang tidak nyaman. Tetapi justru ketidaknyamanan itulah yang menjadikannya penting untuk dibicarakan.[]












