Sembilan WNI Ditangkap, Publik Soroti Keputusan Prabowo Gabung BoP Jamin Keamanan Israel

KabarAktual.id – Sembilan WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 ditangkap tentara Israel saat berlayar menuju Gaza, Palestina. Peristiwa itu pun lantas memicu reaksi publik.

Berbagai kalangan menyorot kembali sikap Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya bergabung dalam Board of Partners (BoP) yang mendukung agenda keamanan Israel di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan informasi Global Peace Convoy Indonesia, Rabu (20/5/2026), sembilan WNI tersebut telah mengirimkan pesan darurat atau SOS berupa video yang menyatakan mereka ditangkap militer Israel.

Sembilan WNI itu terdiri atas empat jurnalis dan lima aktivis kemanusiaan. Mereka adalah: Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef, Rahendro Herubowo di Kapal Ozgurluk, Andre Prasetyo Nugroho di Kapal Ozgurluk, Thoudy Badai di Kapal Ozgurluk, Bambang Noroyono alias Abeng di Kapal Bora, Lize Herman Budianto Sudarsono di Kapal Zapyro, Ronggo Wirasanu di Kapal Zapyro, Asad Aras Muhammad di Kapal Kasr-1, serta Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1.

Penangkapan berlangsung dalam waktu berbeda. Andi, Rahendro, Andre, Thoudy, dan Abeng lebih dahulu ditangkap pada Senin (18/5/2026). Sementara Herman dan Ronggo sempat mengabarkan lolos dari intersepsi tentara Israel setelah kapten kapal melakukan manuver penghindaran. Namun beberapa jam kemudian keduanya ikut ditangkap pada Selasa (19/5/2026) waktu setempat.

Empat jam berselang, Asad dan Hendro juga mengunggah video pernyataan darurat yang menyebut mereka telah ditahan tentara Israel.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan sedikitnya 10 kapal Global Sumud Flotilla turut ditangkap militer Israel dalam operasi tersebut. “Kementerian Luar Negeri mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan,” kata Yvonne dalam pernyataan resminya.

Penangkapan sembilan WNI itu segera memantik kritik di media sosial. Publik mempertanyakan posisi politik luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, terutama setelah Presiden disebut bergabung dalam Board of Partners (BoP) yang selama ini dipersepsikan mendukung agenda keamanan Israel dan stabilitas kawasan versi Barat.

Kritik muncul karena di saat pemerintah Indonesia memperkuat komunikasi geopolitik dengan blok internasional yang dekat dengan Israel, warga Indonesia justru ditangkap tentara Zionis ketika menjalankan misi kemanusiaan untuk Palestina.

Sejumlah aktivis menilai peristiwa itu menghadirkan ironi besar dalam politik luar negeri Indonesia. “Rakyat Indonesia ditangkap Israel saat membawa misi kemanusiaan, sementara pemerintah terlihat makin lunak dalam pendekatan geopolitiknya,” tulis salah satu akun aktivis pro-Palestina yang ramai dibagikan di media sosial.

Hingga Rabu malam, belum ada pernyataan langsung dari Presiden Prabowo Subianto terkait penangkapan sembilan WNI tersebut.[]