News  

“Kuda Troya” di Depan Kantor Gubernur Aceh

PADA awalnya hanya sebuah nasihat.

Tidak ada demonstrasi. Tidak ada gas air mata. Tidak ada mahasiswa yang berteriak di depan kantor gubernur. Bahkan Pergub JKA ketika itu masih berdiri tegak sebagai kebijakan resmi Pemerintah Aceh.

Di fase awal itulah, Prof Humam Hamid datang mengingatkan Gubernur Muzakir Manaf alias Mualem.

Humam melihat ada persoalan serius dalam Pergub JKA. Bukan hanya soal substansi kebijakan, tetapi juga risiko politik yang mengintai di belakangnya.

Ia bahkan menyebut Pergub itu bisa menjadi “bunuh diri politik” bagi Mualem dan Partai Aceh.

Baca juga: Alibi di Tengah Aksi

Penolakan publik terhadap JKA, kata Humam, berpotensi menggerus “rekening” Partai Aceh.

Istilah itu terdengar keras. Tetapi di dunia politik, rekening terbesar memang bukan uang. Melainkan kepercayaan rakyat.

Namun nasihat itu justru memantik kemarahan di lingkar kekuasaan.

Kubu Mualem bereaksi.

Melalui juru bicara pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, Humam dituduh sedang memainkan politik “kuda troya”. Sebuah metafora klasik tentang penghancuran dari dalam.

Dalam legenda Yunani, kota Troya jatuh bukan karena serangan langsung. Pasukan Yunani membuat kuda kayu raksasa, menyembunyikan prajurit di dalamnya, lalu membiarkan warga Troya sendiri yang menarik “hadiah” itu masuk ke dalam benteng.

Baca juga: BREAKING NEWS: Pergub JKA Dicabut; Rakyat Aceh Berobat Seperti Biasa

Malam hari, para prajurit keluar dari perut kuda, membuka gerbang kota, dan Troya runtuh dari dalam.

Metafora itu lalu diarahkan kepada Humam.

Pesannya jelas: kritik yang terlihat seperti nasihat dianggap sebagai serangan terselubung terhadap Mualem.

Tetapi, setelah tudingan itu dilempar, keadaan justru bergerak ke arah yang semakin sulit dikendalikan.

Resistensi terhadap Pergub JKA mulai tumbuh.

Pemerintah Aceh mencoba meredam keadaan. Muncul argumentasi bahwa Pergub hanya perlu dievaluasi, bukan dicabut.

Digelar forum-forum diskusi, termasuk FGD bersama mahasiswa dan OKP.

Pemerintah tampak berusaha menjinakkan kritik lewat ruang dialog. Namun kemarahan publik telanjur membesar.

Mahasiswa mulai bergerak. Demonstrasi pecah berjilid-jilid di Banda Aceh. Massa turun ke jalan dengan satu tuntutan: cabut Pergub JKA.

Situasi memanas. Bentrok terjadi. Korban mulai berjatuhan.

Bukan hanya mahasiswa. Sejumlah jurnalis ikut menjadi korban di lapangan ketika kericuhan pecah dalam aksi demonstrasi.

Pergub yang awalnya disebut sekadar polemik kebijakan telah berubah menjadi krisis politik terbuka. Dan, publik mulai bertanya satu hal paling mendasar: Di mana Mualem?

Pertanyaan itu dijawab lewat sebuah penjelasan resmi: gubernur sedang berada di Jakarta untuk melobi anggaran.

Tetapi publik tampaknya tidak percaya sepenuhnya pada pembenaran tersebut. Sebab, di saat mahasiswa berdiri berjam-jam di bawah terik matahari dan aparat bentrok dengan massa di depan kantor gubernur, ketidakhadiran seorang pemimpin justru dibaca sebagai jarak emosional dengan rakyatnya sendiri.

Gelombang protes terus membesar. Tekanan datang dari berbagai arah.

Dan akhirnya, yang sejak awal dihindari itu benar-benar terjadi.

Melalui juru bicaranya, Mualem menyatakan Pergub JKA dicabut.

Keputusan itu seperti menutup satu babak politik yang melelahkan. Tetapi pada saat yang sama, ia justru membuka kembali ingatan publik pada satu istilah yang sebelumnya dilemparkan kepada Humam Hamid: politik kuda troya.

Ironisnya, metafora itu kini terasa seperti hidup dengan caranya sendiri.

Jika filosofi “kuda troya” benar-benar bekerja dalam drama Pergub JKA, maka “prajurit” yang keluar dari perut kuda itu bukanlah elit politik. Mereka adalah mahasiswa yang memenuhi jalanan Banda Aceh.

Mereka datang bukan pada malam hari seperti dalam legenda Yunani. Mereka datang di siang bolong. Berteriak lewat pengeras suara. Membawa spanduk. Mengepung “istana” kekuasaan lewat demonstrasi berjilid-jilid.

Dan tentu saja, mereka bukan kiriman Humam. Mereka lahir dari kemarahan publik yang merasa tidak lagi didengar.

Pada akhirnya, kisah Pergub JKA menjadi pelajaran paling getir tentang kekuasaan. Kadang sebuah pemerintahan tidak runtuh karena serangan musuh di luar pagar. Ia goyah karena gagal membaca suara yang tumbuh di depan gerbangnya sendiri.

Dan di Aceh, metafora kuda troya itu seperti benar-benar menjelma nyata. Bukan di kota Troya ribuan tahun lalu.Tetapi, di depan Kantor Gubernur Aceh.[] Adhi Gunong Ceukôk