News  

Peserta Indonesia Diduga Manipulasi Riset di Forum Ilmiah Dunia

Brian Yuliarto

KabarAktual.id — Dugaan manipulasi riset dalam forum ilmiah internasional kembali mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Seorang wanita berhijab diduga memalsukan identitas dan fabrikasi penelitian pada ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Kasus itu mencuat setelah sejumlah presentasi penelitian yang dibawakan delegasi asal Indonesia disebut-sebut tidak pernah benar-benar dilakukan. Data penelitian diduga direkayasa menggunakan kecerdasan buatan (AI), sementara identitas pemateri disebut berubah-ubah selama konferensi berlangsung.

Dugaan tersebut diungkap peneliti Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun Threads miliknya. Ia menyebut salah seorang pelaku perempuan menggunakan modus pergantian identitas hanya dengan mengganti jilbab dan papan nama peserta.

“Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag,” tulis Mandhara dalam unggahannya yang ramai diperbincangkan, Rabu (27/5/2026).

Ia juga mengungkap bahwa riset yang dipresentasikan diduga sepenuhnya palsu dan dibuat untuk tampak meyakinkan di hadapan ribuan ilmuwan dunia. “Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga,” lanjutnya.

Konferensi ISPPD 2026 sendiri berlangsung pada 17–21 Mei 2026 dan diikuti ilmuwan dari berbagai negara. Dalam forum itu, sejumlah nama asal Indonesia seperti Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti tampil mempresentasikan penelitian yang awalnya dianggap impresif.

Namun belakangan muncul dugaan bahwa sebagian identitas peserta maupun hasil penelitian tersebut merupakan fabrikasi terorganisir.

Menanggapi kasus itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Brian Yuliarto menyatakan pemerintah tengah melakukan pendalaman. “Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia,” kata Brian dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (27/5/2026).

Menurut Brian, kementerian sedang menelusuri status pihak-pihak yang terlibat, termasuk afiliasi yang digunakan dalam forum internasional tersebut.

Ia menegaskan proses verifikasi dilakukan secara hati-hati dengan tetap memberikan ruang klarifikasi kepada semua pihak. “Setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian,” ujarnya.

Berdasarkan informasi awal, kata Brian, pihak yang terlibat belum terindikasi sebagai dosen maupun peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Kendati demikian, kasus itu dinilai tetap berdampak serius terhadap reputasi riset nasional. “Persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas,” katanya.[]

bank aceh