News  

Mengenal Homeless Media yang Dirangkul Qodari Sebagai Mitra Publikasi Pemerintah

ISTILAH homeless media beberapa hari terakhir ramai dibicarakan setelah disebut dalam pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M Qodari. Namun sebenarnya, istilah ini bukan hal baru di dunia digital.

Homeless media adalah sebutan untuk media digital yang tidak lahir dari perusahaan media konvensional, tidak memiliki “rumah” berupa kantor redaksi besar, koran, televisi, atau portal berita arus utama, tetapi mampu membangun audiens besar melalui media sosial.

Logo Korpri

Kontennya muncul langsung di Instagram, TikTok, X, YouTube, Facebook, Telegram, hingga podcast. Mereka hidup dari algoritma dan kedekatan dengan audiens.

Karena tidak memiliki “rumah” media tradisional, maka muncul istilah homeless media atau media tanpa rumah.

Asal-usul Istilah Homeless Media

Istilah ini mulai populer sekitar akhir 2010-an ketika banyak akun media sosial tumbuh menjadi sumber informasi, hiburan, hingga opini publik.

Baca juga: Qodari Sebut Gandeng “Homeless Media”, Sejumlah Akun Bantah Jadi Mitra Bakom

Awalnya, istilah ini dipakai untuk menyebut akun digital independen yang tidak terikat pada perusahaan pers resmi. Banyak lahir dari komunitas kreatif, pegiat meme, desainer, pembuat video pendek, hingga anak muda yang paham cara kerja media sosial.

Mereka berbeda dengan media konvensional seperti televisi atau surat kabar. Jika media lama bekerja dengan struktur redaksi yang ketat, homeless media lebih fleksibel. Kadang hanya dijalankan beberapa orang. Bahkan ada yang bermula dari satu admin saja.

Bagaimana Cara Kerja Homeless Media?

Homeless media biasanya fokus pada distribusi cepat dan viral. Mereka membaca tren yang sedang ramai, lalu mengemas ulang menjadi konten singkat, ringan, dan mudah dibagikan.

Formatnya bisa berupa:

  • Meme
  • Video pendek
  • Infografik
  • Thread
  • Reels
  • Konten motivasi
  • Kompilasi berita ringan
  • Hiburan
  • Edukasi populer

Karena dekat dengan gaya komunikasi anak muda, pertumbuhan audiens mereka sering sangat cepat. Beberapa bahkan memiliki pengikut lebih besar dibanding media berita nasional.

Baca juga: Media “Homeless” yang Dirangkul Qodari Dikhawatirkan Jadi Alat Propaganda

Fungsi dan Tujuan Homeless Media

Pada awalnya, homeless media dibuat untuk membangun komunitas digital dan menarik perhatian publik di media sosial. Namun seiring berkembangnya platform digital, fungsinya ikut berubah.

1. Sarana Hiburan. Banyak homeless media lahir dari konten lucu, meme, dan hiburan ringan.Contohnya akun yang mengunggah video lucu, kehidupan sehari-hari, atau humor internet.

2. Penyebaran Informasi Cepat. Sebagian homeless media mulai memproduksi konten informasi dan isu terkini. Mereka menyederhanakan berita agar mudah dipahami generasi muda.

3. Branding dan Marketing. Banyak akun dibuat untuk membangun kekuatan merek dan komunitas.Setelah audiens besar terbentuk, akun tersebut bisa menghasilkan uang dari iklan, kerja sama brand, endorsement, atau kampanye digital.

4. Pengaruh Opini Publik. Dalam beberapa tahun terakhir, homeless media juga mulai digunakan untuk membentuk opini publik. Karena audiensnya besar dan loyal, pengaruhnya cukup kuat dalam isu sosial, budaya, hingga politik.

Ciri-ciri Homeless Media

Ada beberapa karakter yang umum ditemukan pada homeless media.

  • Berbasis Media Sosial. Mereka tidak bergantung pada website utama seperti media konvensional. Fokus utama ada di platform digital.
  • Gaya Bahasa Santai. Bahasa yang dipakai ringan, singkat, dan dekat dengan anak muda. Kadang memakai slang, meme, atau bahasa sehari-hari.
  • Cepat Mengikuti Tren. Homeless media hidup dari tren. Mereka sangat cepat merespons isu viral.
  • Visual Lebih Dominan. Konten visual lebih diutamakan dibanding tulisan panjang.
  • Tidak Selalu Berstatus Media Pers. Sebagian tidak terdaftar sebagai perusahaan pers atau belum terverifikasi Dewan Pers.

Sisi Positif Homeless Media

Meski sering dipandang sebelah mata, homeless media punya sejumlah dampak positif.

  • Membuka Ruang Kreativitas. Homeless media memberi ruang bagi anak muda untuk berkarya tanpa harus masuk perusahaan media besar.
  • Informasi Lebih Mudah Diakses. Konten yang singkat membuat informasi lebih mudah dipahami masyarakat digital.
  • Dekat dengan Generasi Muda. Banyak isu penting bisa sampai ke anak muda karena dikemas lebih ringan.
  • Cepat Menyebarkan Kampanye Sosial. Kampanye donasi, isu lingkungan, kesehatan mental, hingga pendidikan sering cepat viral lewat homeless media.

Sisi Negatif Homeless Media

Di sisi lain, homeless media juga memiliki banyak kritik.

  • Rentan Sebar Informasi Tidak Akurat. Karena mengejar kecepatan dan viralitas, verifikasi informasi kadang lemah.
  • Batas Hiburan dan Jurnalisme Kabur. Sebagian akun terlihat seperti media berita, tetapi tidak menjalankan standar jurnalistik.
  • Mudah Dipakai untuk Propaganda. Karena punya pengaruh besar di media sosial, homeless media bisa dimanfaatkan untuk kampanye politik tersembunyi atau pembentukan opini tertentu.
  • Bergantung pada Algoritma. Kontennya sering dibuat demi mengejar engagement, bukan kualitas informasi.

Apakah Homeless Media Selalu Buruk?

Tidak selalu. Banyak homeless media berkembang menjadi media digital profesional. Mereka mulai membangun redaksi, mempekerjakan jurnalis, hingga membuat standar editorial sendiri.

Namun ada juga yang tetap bergerak sebagai akun hiburan biasa. Karena itu, kualitas homeless media sangat bergantung pada pengelolanya.

Contoh Homeless Media di Luar Negeri

Fenomena ini juga berkembang besar di luar negeri.Beberapa contoh terkenal antara lain:

  • BuzzFeed⁠; Awalnya terkenal lewat kuis dan konten viral sebelum berkembang menjadi perusahaan media besar.
  • LADbible⁠; Tumbuh dari Facebook dan meme internet, lalu menjadi salah satu media digital populer di Inggris.
  • NowThis⁠; Fokus pada video berita singkat khusus media sosial.
  • 9GAG⁠; Platform meme dan humor yang sangat populer secara global.Barstool Sports⁠; Berawal dari media olahraga digital dengan gaya santai dan komunitas kuat.

Contoh Homeless Media di Indonesia

Di Indonesia, model ini berkembang sangat cepat sejak era Instagram dan TikTok. Beberapa akun yang sering disebut dalam kategori ini antara lain:

  • Folkative⁠
  • Dagelan⁠
  • Indozone⁠
  • USS Feed⁠
  • Narasi⁠
  • Kok Bisa?⁠
  • Menjadi Manusia⁠
  • Ngomongin Uang⁠

Sebagian kini berkembang menjadi perusahaan media digital penuh. Sebagian lain tetap fokus sebagai komunitas kreatif media sosial.

Masa Depan Homeless Media

Perkembangan homeless media kemungkinan masih akan terus besar. Generasi muda kini lebih banyak mengonsumsi informasi dari media sosial dibanding televisi atau koran. Kondisi ini membuat akun digital punya pengaruh semakin kuat.

Tantangannya adalah menjaga kualitas informasi. Ketika pengaruhnya semakin besar, publik juga mulai menuntut transparansi, akurasi, dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Homeless media mungkin lahir tanpa “rumah”. Namun hari ini, mereka sudah menjadi bagian penting dari ekosistem komunikasi digital modern.[]

Logo Korpri Logo Korpri