KabarAktual.id – Praktisi hukum Firman Tendry Masengi menilai aksi penyiraman air keras yang diduga dilakukan oleh empat oknum anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, berkaitan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto beberapa hari sebelum kejadian.
Dalam diskusi bertajuk “Siapa di Balik Penyiraman Air Keras? Menelusuri Aktor Intelektual dalam Serangan terhadap Aktivis KontraS” yang digelar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Firman menyebut adanya indikasi hubungan antara pernyataan Presiden dan tindakan di lapangan.
Ia mengutip pernyataan Presiden Prabowo yang menyinggung akan “menertibkan” pihak-pihak yang kerap mengkritik pemerintah. “Yang senang mengkritik pemerintah itu seolah-olah mereka patriot, dan mereka itu akan saya tertibkan,” ujar Firman menirukan pernyataan Presiden.
Menurut Firman, dalam perspektif komunikasi militer, pernyataan tersebut dapat dimaknai sebagai sinyal yang berpotensi ditafsirkan sebagai perintah oleh pihak tertentu. “Kalau ditarik dalam bahasa tentara, itu bisa dibaca sebagai perintah. Ini yang menjadi persoalan,” katanya.
Firman juga menilai proses penyidikan dalam kasus ini tidak perlu berlarut-larut, karena ia meyakini kejadian tersebut telah direncanakan sebelumnya. “Menurut saya ini sudah terprogram, karena beberapa hari sebelumnya ada pernyataan Presiden yang ingin menertibkan pengamat yang sering mengkritik,” ujarnya.
Selain kasus yang menimpa Andrie Yunus, Firman turut menyinggung sejumlah dugaan teror lain terhadap pihak yang dianggap kritis terhadap pemerintah. Ia menyebut kasus yang dialami Palti Hutabarat di Tangerang, yang rumahnya dilempari bangkai, serta insiden yang menimpa figur publik lain.
Meski demikian, Firman menegaskan bahwa teror semacam itu tidak akan melemahkan para aktivis, khususnya mereka yang pernah terlibat dalam gerakan reformasi 1998. “Bagi kami yang pernah melewati fase itu, teror seperti ini tidak lagi menakutkan,” katanya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada pemerintah agar tidak menggunakan pendekatan represif terhadap kritik. “Kami tidak pernah takut dengan teror semacam ini,” tegasnya.[]












