News  

Polda Aceh Meutuah: Konsep Polisi Humanis Dengan Kearifan Lokal

Kapolda Aceh Marzuki Ali Basyah meluncurkan buku Polda Aceh Meutuah

DI MATA sebagian masyarakat, polisi sering hadir dalam sosok yang tegas, kaku, bahkan menakutkan. Seragam, pangkat, dan aturan yang melekat pada institusi kepolisian kerap menciptakan jarak dengan warga yang dilayaninya.

Namun, di Aceh, ada upaya untuk mengubah kesan itu. Gagasan tersebut lahir dari seorang anak kampung asal Tangse, Kabupaten Pidie. Anak yang tumbuh bersama alam pedesaan yang ramah, sungai, dan kehidupan desa yang sederhana.

Anak kampung itu kini dikenal sebagai Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs Marzuki Ali Basyah MM. Alam dan kehidupan masa kecilnya di desa membentuk pola pikir serta kesadaran yang kaya dengan kearifan lokal.

Makanya, ketika dia menemukan stigma negatif tentang polisi yang terlanjur tertanam di pikiran masyarakat, dia ingin mengubah itu. Bagi Marzuki, polisi tidak cukup hanya dihormati karena kewenangannya. Polisi harus dipercaya karena kehadirannya membawa manfaat.

Gagasan itulah yang kemudian melahirkan konsep Polda Aceh Meutuah, sebuah pendekatan kepolisian yang memadukan profesionalisme aparat dengan nilai-nilai budaya Aceh yang sarat ajaran Islam, adat, dan penghormatan kepada manusia.

Konsep tersebut diabadikan dalam buku “Polda Aceh Meutuah” yang diluncurkan di Banda Aceh pada 3 Juni 2026.

Baca juga: Kapolda: “Aceh Harus Aman untuk Semua, bukan Hanya di Atas Kertas”

Bukan sekadar bercerita tentang perjalanan karier seorang kapolda. Di dalamnya tersimpan sebuah ikhtiar untuk menjadikan kepolisian lebih dekat dengan masyarakat melalui jalan budaya.

Marzuki memahami budaya Aceh bukan dari buku atau ruang seminar. Ia menjalani sejak masa kecil hingga tumbuh dewasa.

Lahir dan besar di Kecamatan Tangse, ia tumbuh dalam lingkungan pedesaan yang masih memegang teguh nilai agama dan adat. Masa kecilnya tidak berbeda dengan anak-anak kampung lainnya. Ia terbiasa ke sawah, bermain di alam terbuka, dan menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Aceh membangun hubungan sosial yang erat.

Buku “Polda Aceh Meutuah” karya Dr. Nurlis Effendi (foto: repro)

Sebagai anak desa, ia menyimpan memori yang lengkap tentang kehidupan masyarakat Aceh. Memori itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya tentang kepemimpinan, pelayanan, dan penghormatan kepada sesama.

Di kampung, ia belajar satu hal sederhana: penghormatan tidak datang karena jabatan, tetapi karena manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Pelajaran itu terus ia bawa hingga mengenakan seragam polisi.

Perjalanan hidupnya sendiri jauh dari kata mudah.

Baca juga: Kuliah Umum di Unpri Medan, Kapolda Marzuki Promosikan Aceh Aman

Sebelum menjadi jenderal polisi, Marzuki pernah menjalani kehidupan yang keras. Untuk menopang kebutuhan hidup dan pendidikan, ia pernah bekerja sebagai sopir labi-labi sambil tetap bersekolah.

Pagi belajar, siang bekerja, lalu kembali belajar.

Pengalaman itu membuatnya memahami bagaimana rasanya berjuang dari bawah.

Kapolda Marzuki Ali Basyah bersama penulis buku Polda Aceh Meutuah Nurlis Effendi (foto: Ist)

Ia mengenal kesulitan hidup masyarakat bukan dari laporan bawahan atau hasil survei, melainkan dari pengalaman yang pernah dijalani sendiri. Karena itu, ketika memimpin, ia cenderung melihat masyarakat bukan sebagai objek pelayanan, tetapi sebagai orang-orang yang harus dipahami.

Ada satu kisah lain dari masa kecilnya yang menarik.

Marzuki lahir dari keluarga yang taat beragama. Namun seperti banyak anak Aceh pada masanya, ia tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan tanaman ganja.

Saat itu, ganja belum dipandang sebagai barang terlarang. Di sejumlah daerah, tanaman tersebut digunakan sebagai bumbu masakan dan diperjualbelikan secara terbuka.

Meski demikian, sejak kecil ia sudah melihat sisi lain dari persoalan tersebut. Ia menyaksikan bagaimana ganja mulai disalahgunakan oleh sebagian orang untuk dihisap sebagai rokok.

Pengalaman itu menumbuhkan kesadaran dalam dirinya bahwa ganja tidak semestinya menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Kesadaran tersebut muncul jauh sebelum isu narkotika menjadi perhatian besar seperti sekarang.

Barangkali dari pengalaman-pengalaman sederhana itulah lahir kepekaan sosial yang kemudian memengaruhi cara pandangnya sebagai polisi.

Ketika dipercaya memimpin Polda Aceh, Marzuki tidak hanya berbicara tentang penegakan hukum. Ia juga berbicara tentang budaya.

Dalam pandangannya, polisi tidak harus kehilangan ketegasan untuk bisa bersikap ramah. Polisi juga tidak harus menciptakan jarak agar dihormati.

Karena itu, konsep Meutuah diperkenalkan sebagai ruh dalam budaya kerja Polda Aceh

Dalam khazanah Aceh, meutuah memiliki makna yang dalam. Ia tidak sekadar berarti baik. Kata itu mengandung nilai keberkahan, kemuliaan, manfaat, dan kebajikan yang dirasakan banyak orang.

Nilai-nilai itulah yang coba dihadirkan ke dalam institusi kepolisian.

Gerak organisasi yang selama ini identik dengan komando, prosedur, dan disiplin yang ketat dipadukan dengan pendekatan budaya lokal yang lebih hangat dan membumi.

Tujuannya sederhana: membuat masyarakat merasa nyaman berinteraksi dengan polisi.

Di bawah kepemimpinannya, akses terhadap pelayanan kepolisian terus didorong menjadi lebih mudah. Masyarakat diharapkan tidak lagi memandang kantor polisi sebagai tempat yang menakutkan.

Sebaliknya, kantor polisi harus menjadi tempat yang terbuka, ramah, dan siap membantu.

Polisi harus hadir sebagai sahabat masyarakat. Gagasan tersebut ternyata mendapat sambutan luas.

Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haytar menilai buku Polda Aceh Meutuah menjadi salah satu rujukan penting tentang bagaimana kearifan lokal dapat hidup di dalam institusi kepolisian.

Pemerintah Aceh juga melihat konsep itu sebagai gambaran kepolisian yang tidak hanya berfungsi sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan

Bahkan di lingkungan internal kepolisian sendiri, pendekatan itu dirasakan langsung oleh para anggota. Wakapolda Aceh Brigjen Pol Ari Wahyu Widodo menyebut Marzuki bukan hanya seorang pimpinan, tetapi juga pembimbing dan sahabat bagi bawahannya.

Penilaian itu menunjukkan bahwa konsep Meutuah tidak berhenti pada slogan. Ia bekerja ke luar untuk masyarakat dan ke dalam untuk membangun budaya organisasi yang lebih manusiawi.

Di tengah tantangan besar yang dihadapi institusi kepolisian saat ini, Polda Aceh Meutuah menawarkan pelajaran yang menarik. Perubahan tidak selalu lahir dari teknologi canggih, gedung megah, atau aturan baru.

Kadang-kadang perubahan justru dimulai dari keberanian untuk kembali mendengar suara budaya sendiri.

Dan, mungkin itulah yang sedang dilakukan Marzuki Ali Basyah. Seorang anak desa dari Tangse yang pernah mengemudikan labi-labi demi menyambung sekolah, lalu tumbuh menjadi jenderal polisi yang percaya bahwa aparat yang kuat bukanlah aparat yang ditakuti. Melainkan aparat yang dipercaya.

Sebab dalam budaya Aceh, sebagaimana makna meutuah itu sendiri, kehormatan sejati lahir ketika kekuasaan berjalan berdampingan dengan nilai, kemanusiaan, dan pelayanan kepada sesama.[] Syarbaini Oesman

bank aceh