News  

Soal Pelajaran Bahasa Prancis, DPR Ingatkan Prabowo tidak Buat Kebijakan Dadakan

Hetifah Sjaifudian

KabarAktual.id – Instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait pelajaran Bahasa Prancis di sekolah memicu sorotan. Saat pembelajaran Bahasa Inggris belum maksimal, muncul pertanyaan mengenai kesiapan SDM dan sarana pendukung hingga kesesuaian kebijakan dengan prioritas pembangunan pendidikan nasional.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengingatkan pemerintah agar tidak membebani sekolah dengan kebijakan baru tanpa dukungan sumber daya yang memadai. “Perlu ada kejelasan implementasi di sekolah mengingat penguatan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib juga baru dijalankan tahun ini,” ujarnya dilansir Kompas.com, Minggu (31/5/2026).

Menurut dia, aspek yang paling krusial adalah kesiapan sumber daya pendidikan, terutama ketersediaan dan kompetensi guru yang akan mengajar Bahasa Prancis. “Yang perlu menjadi perhatian adalah kesiapan sumber daya pendidikan, terutama ketersediaan dan kompetensi guru,” ujarnya.

Hetifah menegaskan DPR mendukung upaya pemerintah meningkatkan kemampuan bahasa asing peserta didik sebagai bekal menghadapi persaingan global. Namun, keberhasilan pembelajaran bahasa asing tidak ditentukan oleh banyaknya bahasa yang diajarkan, melainkan kualitas pengajaran, kesiapan tenaga pendidik, serta minat siswa.

Baca juga: Dino Kritik Prabowo Terlalu Sering ke Luar Negeri, Satu Kunjungan Habiskan Ratusan Miliar

Ia menilai pembelajaran bahasa asing akan lebih efektif jika dikemas melalui pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual.
“Pendekatan melalui percakapan, permainan, musik, film, budaya, dan teknologi digital akan lebih efektif dibandingkan metode yang terlalu menekankan hafalan dan teori,” katanya.

Karena itu, Hetifah meminta pemerintah memastikan setiap kebijakan pendidikan dijalankan secara bertahap, realistis, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

Arahan mengenai pembelajaran Bahasa Prancis disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat bertemu Presiden Emmanuel Macron di Istana Elysee pada Kamis (28/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyatakan telah menginstruksikan agar Bahasa Prancis dipelajari di seluruh tingkatan sekolah di Indonesia. “Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar Bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan,” ujar Prabowo.

Pernyataan itu menambah daftar usulan pengajaran bahasa asing yang disampaikan Prabowo dalam forum diplomatik. Sebelumnya, pada Oktober 2025, Presiden juga pernah mendorong pengajaran Bahasa Portugis di sekolah-sekolah Indonesia saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Portugal.

Wacana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan bahasa asing dalam sistem pendidikan nasional. Pasalnya, pemerintah saat ini masih fokus menjalankan penguatan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib yang mulai diterapkan secara bertahap.

Di sisi lain, berbagai tantangan mendasar pendidikan nasional, mulai dari pemerataan kualitas guru, peningkatan literasi dan numerasi, hingga penguatan kompetensi sains dan teknologi, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah.

Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai mekanisme penerapan Bahasa Prancis di sekolah. Pemerintah juga belum memaparkan apakah bahasa tersebut akan menjadi mata pelajaran wajib, pilihan, atau sekadar bagian dari kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Prancis.

Kementerian Pendidikan pun belum mengumumkan peta jalan implementasi, kebutuhan tenaga pengajar, maupun alokasi anggaran yang diperlukan apabila kebijakan tersebut benar-benar diterapkan secara nasional.

Dengan belum adanya rincian tersebut, sejumlah kalangan menilai wacana pengajaran Bahasa Prancis masih membutuhkan kajian mendalam agar tidak berhenti sebagai pernyataan politik yang sulit direalisasikan di lapangan.[]

bank aceh