News  

Rupiah Melemah, 20 Ribu Pekerja Terancam PHK

Ancaman PHK massal menghadang 20 ribuan pekerja imbas pelemahan rupiah (foto: ChatGPT)

KabarAktual.id — Pelemahan nilai tukar rupiah dan gangguan rantai pasok global berpotensi memicu gelombang PHK baru di Indonesia. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan tambahan korban PHK mencapai 20 ribu pekerja dalam beberapa bulan ke depan.

Peringatan tersebut disampaikan CORE dalam publikasi berjudul Badai PHK (Belum) Berlalu yang disusun oleh Yusuf Rendy Manilet, Azhar Syahida, Dwi Setyorini, dan Lailatun Nikmah, dipublikasikan Jumat (29/5/2026).

Dalam kajian tersebut, CORE memperkirakan terdapat potensi tambahan PHK antara 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja apabila tekanan terhadap dunia usaha terus berlanjut. “PHK terbesar kemungkinan akan terjadi di sektor manufaktur dengan jumlah sekitar 8,7 ribu hingga 12,1 ribu pekerja, sektor jasa 3,3 ribu hingga 4,5 ribu pekerja, dan sektor pertanian sekitar 3,3 ribu hingga 3,6 ribu pekerja,” tulis CORE dalam publikasi mereka.

Perkiraan tersebut dihitung menggunakan Tabel Input-Output 2020 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS). CORE memasukkan sejumlah asumsi, termasuk gangguan distribusi perdagangan internasional di Selat Hormuz serta pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.400 per dolar AS.

Menurut CORE, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku yang selama ini menjadi penopang utama industri manufaktur nasional.

Apabila hambatan pasokan berlangsung selama dua hingga tiga bulan ke depan, perusahaan diperkirakan akan menghadapi kelangkaan bahan baku dan kenaikan biaya produksi. Dalam skenario sedang, perusahaan manufaktur yang mengalami kenaikan harga bahan baku lebih dari 1,5 persen diperkirakan memangkas output sebesar 0,1 persen. Sementara dalam skenario buruk, penurunan output dapat mencapai 0,15 persen.

Selain ancaman PHK, CORE juga mengingatkan risiko membengkaknya jumlah pekerja di sektor informal. Per Februari 2026, jumlah tenaga kerja informal tercatat mencapai 87,74 juta orang atau sekitar 59,42 persen dari total tenaga kerja aktif nasional. “Implikasinya adalah meningkatnya jumlah pengangguran dan bertambahnya pekerja yang terpaksa masuk ke sektor informal,” tulis CORE.

Lembaga tersebut menilai pasar tenaga kerja Indonesia saat ini masih rentan menghadapi guncangan ekonomi. Sepanjang periode 2021 hingga 2025, pertumbuhan tenaga kerja formal hanya mencapai 0,8 persen, jauh lebih rendah dibandingkan sektor informal yang tumbuh 3,2 persen.

CORE juga mencatat kemampuan ekonomi nasional dalam menyerap angkatan kerja baru terus melemah. Pada Februari 2026, jumlah angkatan kerja baru yang berhasil memperoleh pekerjaan hanya sekitar 38 ribu orang, turun 86 persen dibandingkan rata-rata periode sebelumnya.

Meski tekanan eksternal menjadi pemicu utama, CORE menilai data tersebut menunjukkan masalah struktural yang telah lama membayangi pasar tenaga kerja Indonesia. “Faktor eksternal memang menjadi pemantik utama, tetapi data ini juga menunjukkan pasar tenaga kerja di Indonesia telah rapuh sejak lebih dari satu dekade terakhir,” tulis CORE.[]

Rupiah Melemah, 20 Ribu Pekerja Terancam PHK

bank aceh