width=
News  

Pemanfaatan Lumpur Banjir Jadi Bata untuk Pulihkan Sawah Rusak Berat Dibahas di Bandung

Plt. Kadistanbun Aceh Azanuddin Kurnia dan Dirjen Bina Adwil Kemendagri Safrizal ZA (kanan)

KabarAktual.id – Pemerintah Aceh terus mendorong pemanfaatan lumpur sisa banjir menjadi bahan baku batu bata sebagai salah satu solusi pemulihan ribuan hektare sawah yang rusak berat akibat bencana banjir dan longsor. Gagasan tersebut dibahas dalam sejumlah pertemuan yang dilakukan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia, saat berada di Bandung, Jawa Barat, akhir Juni 2026.

Salah satu pertemuan berlangsung dengan Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal, yang juga bertugas pada Satuan Tugas Pemulihan dan Rehabilitasi-Rekonstruksi (PRR). Dalam pertemuan itu, Azanuddin memaparkan perkembangan penanganan sawah terdampak banjir sekaligus menjelaskan konsep pemanfaatan lumpur bencana menjadi bata sebagai alternatif penanganan sawah kategori rusak berat.

Menurut Azanuddin, mantan Pj Gubernur Aceh itu menyambut positif gagasan tersebut dan meminta agar pengembangannya terus dilanjutkan. Bahkan, kata dia, Satgas PRR menyatakan kesiapan mendukung penelitian lanjutan maupun perluasan lokasi uji coba apabila diperlukan. “Kita harus bergerak cepat. Ide ini sangat bagus. Jika berhasil, bukan tidak mungkin dapat diterapkan secara massal sehingga bata yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk pembangunan, sementara para petani dapat kembali mengolah sawahnya,” kata Safrizal.

Azanuddin menjelaskan, pengembangan konsep lumpur menjadi bata merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, dan Sekretaris Daerah Aceh untuk mencari solusi penanganan sawah yang mengalami kerusakan berat akibat banjir dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025.

Berdasarkan data Distanbun Aceh, bencana tersebut berdampak pada sekitar 57.364 hektare areal persawahan. Dari jumlah itu, 27.437 hektare mengalami rusak ringan, 13.651 hektare rusak sedang, dan 16.276 hektare masuk kategori rusak berat.

Penanganan sawah rusak ringan dan sedang telah dilakukan melalui kerja sama antara Kementerian Pertanian, Pemerintah Aceh, serta pemerintah kabupaten dan kota. Sementara itu, solusi untuk lahan dengan tingkat kerusakan berat masih terus dicari.

Sebelumnya, pada 25 Juni 2026, Azanuddin juga menggelar pertemuan dengan Project Coordinator Program Lumpur Jadi Bata, Humairoh Anahdi, di Jakarta. Pertemuan tersebut membahas percepatan implementasi hasil uji laboratorium serta rencana pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Azanuddin menegaskan, perkembangan program tersebut akan terus dilaporkan kepada Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, Sekda Aceh, serta Satgas PRR.

Menurutnya, pemanfaatan lumpur menjadi bata merupakan salah satu alternatif yang berpotensi mempercepat pemulihan lahan pertanian sekaligus memberikan nilai tambah dari material sisa bencana.”Kami membutuhkan dukungan semua pihak agar inovasi ini dapat segera diimplementasikan. Lumpur menjadi bata bukan satu-satunya solusi, tetapi menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan untuk mengatasi sawah rusak berat,” ujarnya.

Selain bertemu Safrizal, Azanuddin juga memaparkan konsep tersebut kepada Sekda Aceh M. Nasir, anggota DPR RI TA Khalid dan Azhari Cage, serta sejumlah tokoh Aceh dalam diskusi terbatas di Bandung.Pertemuan yang turut dihadiri Muslim Ayub, Bupati Bireuen Mukhlis, Bupati Aceh Utara Ayahwa, dan sejumlah peserta lainnya itu juga membahas percepatan pemulihan Aceh pascabencana serta berbagai isu strategis pembangunan daerah.[]

bank aceh