Di tengah dunia yang makin bising, serba cepat, dan kadang bikin kepala penuh, band asal Malang bernama Lakuna datang membawa sesuatu yang beda: jeda. Bukan sekadar musik, tapi ruang buat mikir ulang—tentang hidup, asal-usul, sampai ke mana kita akan pulang.
Setelah sebelumnya muncul lewat single Buai Raga, Lakuna kini melangkah lebih serius dengan merilis maxi single berjudul Mudra pada 22 Maret 2026. Buat yang belum kenal, Lakuna digawangi Yoko (vokal), Bagus dan Tian (gitar), Kelfin (keyboard), Aziz (bass), serta Eta (drum). Mereka bermain di wilayah pop alternatif yang ketemu folk—dengan distorsi tipis, melodi lembut, tapi emosinya dalam. Dan ya, Mudra bukan rilisan yang bisa didengerin sambil lalu.
🌌 Musik yang Nggak Cuma Didengar, Tapi Dirasakan
Maxi single ini berisi dua track: Manungsa ing Pandunga sebagai intro, dan Mudra sebagai lagu utama. Dari awal aja, Lakuna udah ngajak pendengar masuk ke suasana yang hening tapi dalam—kayak lagi ngobrol sama diri sendiri di tengah malam.
Manungsa ing Pandunga jadi pembuka yang unik. Mengambil inspirasi dari tembang macapat Asmarandhana dan dibawakan dalam bahasa Jawa, lagu ini terasa seperti doa—pelan, reflektif, dan cukup “nendang” secara emosional. Dari situ, perjalanan lanjut ke Mudra, yang jadi inti dari semuanya.
🧠 Dari Riset ke Rasa
Menariknya, lagu Mudra lahir dari proses yang nggak biasa. Yoko, sang vokalis, awalnya lagi ngerjain riset buat naskah drama tentang konsep “kehancuran” dalam berbagai agama dan kepercayaan.
Alih-alih berhenti di situ, riset itu malah berkembang jadi lagu.
Dari ayat “Kun Fayakun”, Injil Matius 19:14, sampai tembang Jawa klasik, semuanya diramu jadi satu narasi yang dalam: tentang akhir, tentang kembali, dan tentang siklus hidup yang nggak pernah benar-benar selesai. “Malah dari situ gue dapet perspektif baru tentang gimana manusia melihat akhir kehidupan. Dan di tengah proses itu, Mudra mulai kebentuk,” kata Yoko.
🔄 “Hancur” Bukan Akhir
Kalau biasanya kehancuran identik sama sesuatu yang gelap, Lakuna justru melihatnya dari sudut yang lebih luas. Dalam Mudra, kehancuran bukan tragedi—tapi bagian dari siklus.
Kayak semesta yang redup, lalu kosong, lalu… mulai lagi dari awal. Nama Mudra sendiri diambil dari bahasa Sanskerta, yang berarti kembali ke keadaan murni. Sebuah konsep tentang “balik ke asal”, saat semua yang ada perlahan luruh jadi satu.
🚀 Ini Baru Permulaan
Jangan salah, Mudra bukan tujuan akhir Lakuna. Justru ini semacam “pintu masuk” ke cerita yang lebih besar.
Setelah maxi single ini, mereka udah nyiapin satu single lagi sebelum akhirnya menuju full album pertama. Jadi bisa dibilang, ini baru chapter awal.
“Rilisan ini kayak pembuka dari rangkaian cerita panjang menuju album penuh kami,” jelas Yoko.
🎧 Worth It Nggak?
Kalau lo lagi cari musik yang ringan buat background kerja—mungkin ini bukan jawabannya. Tapi kalau lo lagi pengen berhenti sebentar, mikir, atau sekadar ngerasain sesuatu yang lebih dalam dari sekadar beat catchy, Mudra layak banget masuk playlist.
Karena di tengah dunia yang makin ribut, kadang yang kita butuh cuma satu: diam… dan kembali ke asal.[]












