KabarAktual.id — Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya kebutuhan negara terhadap pasokan devisa dari sektor ekspor, kinerja ekspor kopi Aceh justru kurang menggembirakan. Nilai devisa komoditas unggulan daerah itu terus mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir.
Data Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh mencatat, nilai devisa ekspor kopi yang dideklarasikan berasal dari Provinsi Aceh pada periode Januari hingga April 2026 hanya mencapai Rp440,99 miliar. Angka ini turun jauh dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai Rp619,21 miliar. Penurunannya bahkan lebih tajam jika dibandingkan dengan Januari-April 2024 yang masih menembus Rp925,67 miliar.
Tren pelemahan tersebut juga terlihat pada capaian tahunan. Sepanjang 2024, devisa ekspor kopi Aceh tercatat mencapai Rp2,45 triliun. Namun setahun kemudian nilainya merosot menjadi Rp1,21 triliun atau turun lebih dari 50 persen.
Penurunan ini menjadi perhatian tersendiri. Sebab, pada saat yang sama Indonesia sedang membutuhkan kontribusi lebih besar dari sektor ekspor untuk menopang stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat cadangan devisa di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kepala Kanwil DJBC Aceh mengatakan pihaknya terus berkomitmen menyajikan data ekspor dan impor secara transparan agar dapat menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, data kepabeanan menunjukkan adanya kondisi yang cukup unik. Secara agregat terjadi penyusutan volume pengiriman kopi, padahal harga rata-rata kopi di pasar global justru sedang mengalami tren kenaikan. “Data kinerja ekspor kopi ini memberikan informasi faktual di lapangan, di mana secara agregat terjadi penyusutan volume pengiriman barang (netto), meskipun di saat yang bersamaan harga rata-rata kopi di pasar global justru sedang mengalami tren kenaikan,” ujarnya.
Kondisi tersebut menggambarkan adanya persoalan yang tidak semata-mata berkaitan dengan harga pasar internasional. Ketika harga dunia sedang memberikan peluang keuntungan yang lebih besar kepada eksportir, volume pengiriman kopi dari Aceh justru mengalami penyusutan.
Hasil analisis DJBC Aceh menunjukkan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi penurunan tersebut adalah berkurangnya aktivitas sejumlah pelaku usaha eksportir. Beberapa perusahaan yang pada 2024 menjadi kontributor besar ekspor kopi tidak lagi tercatat melakukan kegiatan ekspor pada tahun berikutnya. Sementara perusahaan yang masih aktif mengekspor juga rata-rata mengalami penurunan volume pengiriman.
Temuan lain yang tak kalah penting adalah masih minimnya pemanfaatan pelabuhan di Aceh untuk kegiatan ekspor. Data kepabeanan menunjukkan sekitar 99 persen kopi asal Aceh dikirim melalui pelabuhan muat yang berada di luar provinsi.
Fakta ini memperlihatkan bahwa rantai logistik ekspor kopi Aceh masih sangat bergantung pada daerah lain. Akibatnya, potensi ekonomi yang seharusnya dapat tumbuh melalui aktivitas ekspor langsung dari Aceh belum sepenuhnya dinikmati oleh daerah.
DJBC Aceh menilai data tersebut dapat menjadi referensi objektif bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk memotret kondisi riil sektor kopi. Evaluasi lintas sektor dinilai penting agar penyebab penyusutan volume ekspor dapat diidentifikasi secara lebih akurat dan langkah perbaikannya dapat dirumuskan secara bersama-sama.
Di tengah pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global, setiap penurunan devisa ekspor tentu menjadi sinyal yang patut dicermati. Terlebih kopi merupakan salah satu komoditas andalan Aceh yang selama ini memiliki reputasi kuat di pasar internasional.
Karena itu, membalik tren penurunan ekspor tidak hanya penting bagi perekonomian daerah. Lebih dari itu, peningkatan ekspor kopi juga berpotensi menjadi salah satu sumber penguatan devisa yang dibutuhkan Indonesia saat ini.[]












