KabarAktual.id – Sebuah video yang diunggah akun @nia_asahan3 memunculkan narasi dugaan adanya pengiriman kontainer misterius saat peristiwa blackout atau pemadaman listrik massal di Sumatera pada 22 Mei 2026 lalu. Dalam video seperti dilansir Jumat (29/5/2026), narator mempertanyakan pengiriman sejumlah kontainer dari Banda Aceh menuju Batam pada malam hari saat terjadi pemadaman listrik.
Narasi itu juga menuding blackout telah “di-setting” dan mengaitkannya dengan putusnya kabel transmisi listrik tanpa hujan maupun angin. “Semua ini udah disetting, semua udah disetting,” demikian potongan pernyataan dalam video tersebut.
Narator juga menyebut adanya pengiriman kontainer dengan berat 20 ton, 30 ton, hingga 70 ton menuju Batam saat kondisi listrik padam di sejumlah wilayah Sumatera. Namun, hingga kini tidak ada bukti resmi yang mendukung klaim tersebut. PT PLN (Persero) dan Bareskrim Polri justru menyatakan hasil investigasi awal mengarah pada faktor teknis dan cuaca, bukan sabotase.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menjelaskan gangguan sistem kelistrikan terjadi pada Jumat (22/5/2026) pukul 18.44 WIB akibat gangguan pada jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi. Gangguan tersebut disebut dipicu cuaca buruk sehingga memengaruhi sistem interkoneksi Sumatera.

PLN menyebut gangguan transmisi itu memicu penurunan frekuensi listrik dan menyebabkan efek domino pada sistem kelistrikan di sejumlah wilayah Sumatera.
Sementara itu, Bareskrim Polri memastikan belum menemukan indikasi sabotase maupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut.
Wakabareskrim Polri Irjen Nunung Syaifuddin mengatakan hasil investigasi gabungan bersama Puslabfor dan PLN menemukan dugaan awal berupa faktor mekanik akibat gesekan kabel, pengaruh angin, hingga panas akibat sambungan kabel yang longgar.
“Sejauh ini belum ditemukan indikasi kesengajaan manusia dalam putusnya konduktor itu,” kata Dirtipidter Bareskrim Brigjen Mohammad Irhamni.
Bareskrim juga menegaskan bentuk kerusakan kabel tidak menunjukkan ciri sabotase. Polisi menyebut putusnya kabel lebih menyerupai serabut akibat gangguan teknis dibanding potongan rapi yang lazim ditemukan dalam tindakan perusakan disengaja.
Blackout tersebut sebelumnya berdampak pada sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, hingga sebagian Sumatera Selatan.[]












