News  

Blackout Massal Sumatera Picu Spekulasi Sabotase, PLN Sebut Gangguan Cuaca

KabarAktual.id — Pemadaman listrik massal yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada Jumat (22/5/2026) malam memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Di media sosial, blackout tersebut bahkan dikaitkan dengan dugaan sabotase hingga kepentingan pihak tertentu.

Sejumlah warganet mempertanyakan penyebab padamnya listrik secara serentak di banyak daerah, mulai dari Jambi, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh. Tidak sedikit pula yang menduga pemadaman dimanfaatkan untuk kepentingan ilegal, termasuk dugaan mempermudah aktivitas penyelundupan barang terlarang.

Spekulasi itu muncul karena pemadaman terjadi di tengah situasi geopolitik global yang dinilai semakin tidak stabil. Sebagian publik menilai blackout massal bukan lagi sekadar persoalan teknis kelistrikan, melainkan dapat berkaitan dengan keamanan infrastruktur strategis.

Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan adanya unsur sabotase dalam peristiwa tersebut.

Pengamat keamanan infrastruktur menilai dugaan publik tetap wajar muncul karena dalam konteks modern, jaringan energi termasuk salah satu objek vital nasional yang rentan terhadap gangguan, baik akibat faktor teknis, serangan siber maupun bentuk hybrid warfare.

Sejumlah negara sebelumnya juga pernah mengalami blackout besar, seperti Amerika Serikat pada 2003 yang berdampak pada lebih dari 50 juta orang, India pada 2012 yang melumpuhkan sekitar 700 juta penduduk, hingga Ukraina yang sistem kelistrikannya sempat diserang melalui operasi siber.

PT PLN (Persero) sendiri memastikan pemadaman massal di Sumatera disebabkan gangguan pada sistem transmisi listrik yang dipicu cuaca.

Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, mengatakan indikasi awal menunjukkan gangguan terjadi pada ruas transmisi 275 kilovolt (kV) antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai, Jambi. “Ini sebagai indikasi awal, ada ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang indikasi awalnya karena gangguan cuaca,” ujar Darmawan dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut dia, gangguan tersebut membuat sistem keluar dari jaringan interkoneksi Sumatera sehingga memicu ketidakseimbangan pasokan dan beban listrik di berbagai wilayah.

PLN menjelaskan, sebagian pembangkit mengalami kelebihan pasokan listrik atau oversupply akibat aliran daya terputus. Kondisi itu menyebabkan frekuensi dan tegangan naik hingga sistem proteksi otomatis bekerja dan memadamkan pembangkit.

“Pembangkitnya langsung secara otomatis keluar dari sistem, atau dalam istilah publik pembangkitnya otomatis padam,” kata Darmawan.

Di sisi lain, wilayah yang kehilangan suplai pembangkit justru mengalami kekurangan pasokan listrik. Frekuensi dan voltase turun sehingga pembangkit lain ikut keluar dari sistem dan memicu efek domino.

“Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah,” ujarnya.

PLN menyebut gangguan tersebut berdampak pada sistem ketenagalistrikan di Jambi, Riau, Sumatera Utara, Aceh hingga sebagian Sumatera Selatan.

Darmawan menegaskan blackout kali ini berbeda dengan gangguan listrik sebelumnya yang pernah terjadi akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat.

Menurutnya, pada kejadian sebelumnya kerusakan dipicu robohnya menara listrik dan putusnya jaringan transmisi akibat bencana alam. Sedangkan pada pemadaman kali ini tidak ditemukan kerusakan fisik pada infrastruktur utama.“Ini kondisi yang sangat berbeda dalam bencana Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh pada waktu itu,” kata Darmawan.

Ia memastikan gardu induk dan sistem transmisi PLN kini telah berhasil dipulihkan.“Hari ini kami menyampaikan bahwa gardu induk dan sistem transmisi kami sudah pulih,” ujarnya.[]