KabarAktual.id — Komisi XI DPR RI memanggil jajaran petinggi Bank Indonesia (BI), Senin (18/5/2026), di tengah tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah. BI dinilai tidak mampu menstabilkan nilai tukar.
Gubernur BI Perry Warjiyo bersama jajaran deputi gubernur hadir dalam rapat kerja yang salah satu agendanya membahas Laporan Kinerja Bank Indonesia Tahun 2025.
Rapat berlangsung panas setelah sejumlah anggota dewan melontarkan kritik keras terhadap kebijakan BI menyusul anjloknya rupiah hingga menyentuh level terburuk sepanjang sejarah.
Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio bahkan secara terbuka meminta Perry Warjiyo mundur dari jabatannya sebagai Gubernur BI. “Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan. Saya berikan contoh mungkin ini saatnya bapak mengundurkan diri,” kata Primus dalam rapat di Komisi XI DPR, Senin (18/5/2026).
Baca juga: Gila! Rupiah Mendekati Rp20 Ribu per Dollar AS
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menilai pelemahan rupiah telah menggerus kepercayaan publik terhadap bank sentral. Menurutnya, langkah mundur justru bisa menjadi sikap terhormat sebagaimana lazim terjadi di negara-negara maju.
“Anda akan dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang. Kalau Anda tidak bisa menjalankan tugas Anda dengan baik seperti itu, tidak ada salahnya,” ujarnya di hadapan Perry.
Selain Primus, sejumlah anggota DPR lainnya juga menyoroti kebijakan moneter BI yang dinilai gagal menahan tekanan terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Senin pagi sempat melemah 0,6 persen ke level Rp17.570 per dolar AS. Tak lama kemudian, tekanan semakin dalam hingga menyentuh Rp17.610 per dolar AS, sebelum akhirnya terperosok ke level Rp17.660 per dolar AS pada pukul 10.20 WIB.
Posisi tersebut menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah dan jauh merosot dibanding penutupan terakhir sebelum libur panjang pada Rabu (13/5/2026) di level Rp17.460 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, lonjakan harga minyak dunia ke level US$111,24 per barel meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang di kawasan Asia.
Kenaikan harga minyak dipicu memanasnya tensi geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump kembali menekan Iran agar segera mencapai kesepakatan baru terkait konflik regional dan energi.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga mulai mencemaskan kondisi fundamental ekonomi. Meski pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61 persen, sejumlah indikator domestik seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan penjualan ritel belum menunjukkan penguatan signifikan.
Pasar juga mengkhawatirkan potensi tekanan terhadap APBN akibat subsidi energi yang diperkirakan membengkak di tengah penerimaan negara yang belum cukup kuat menopang ekspansi belanja pemerintah.
Kondisi itu mendorong investor meminta premi risiko lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar obligasi maupun nilai tukar.
Di tengah tekanan tersebut, nama Perry Warjiyo juga kembali menjadi sorotan publik setelah sebelumnya dikaitkan dengan isu pemeriksaan dugaan penyaluran dana CSR BI oleh KPK, meski hingga kini belum ada penetapan status hukum terhadap dirinya.[]












