News  

Sherly Annavita; Anak Aceh yang Diteror karena Menyuarakan Penderitaan Saudaranya

Sherly Annavita (foto: IG)

KabarAktual.id – Di tengah hiruk-pikuk bantuan, kamera, dan rombongan pejabat yang datang silih berganti pascabencana Sumatra, ada satu suara yang memilih tidak sekadar menonton: Sherly Annavita. Nama ini tidak asing bagi publik.

Ia seorang konten kreator, aktivis, sekaligus pengkritik kebijakan pemerintah yang kerap bicara lantang tanpa gentar, meski kini ia harus menanggung balasan berupa teror.

Logo Korpri

Sherly, perempuan kelahiran Aceh, 12 Desember 1992, mulai mencuri perhatian publik setelah tampil di layar kaca dalam program Indonesia Lawyer Club (ILC) pada Agustus 2019. Ketika itu, ia dengan tenang namun tegas mempertanyakan rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur oleh mantan Presiden Joko Widodo.

Baca juga: Sherly Influencer Aceh yang Pertanyakan Sikap Pusat Tolak Bantuan Asing di ILC Diteror

Kalimat-kalimatnya yang sistematis dan argumentatif membuatnya menjadi representasi anak muda kritis yang tak mudah ditundukkan oleh panggung kekuasaan. Namun jauh sebelum dikenal publik nasional, Sherly tumbuh seperti anak-anak Aceh lainnya.

Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Yayasan Pendidikan Arun, sebelum kemudian merantau ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Paramadina. Jurusan Hubungan Internasional ia tamatkan pada 2014.

Kemudian, prestasinya membawa gadis Aceh ini jauh dari tanah kelahiran—mendapat beasiswa S2 di Swinburne University of Technology, Australia.

Prestasi Sherly tak hanya berhenti di ruang akademik. Ia pernah meraih predikat Best Delegate Model United Nations (MUN) tahun 2018, menjadi pemenang NAILA 2017, serta terlibat aktif dalam berbagai komunitas seperti Paramadina Debating House, Paramadina Choir, dan Sahabat WALHI.

Di antara kesibukannya sebagai aktivis, Sherly juga menjadi dosen paruh waktu dan mendirikan Sherly Enlightenment Academy (SEA)—lembaga pelatihan public speaking untuk kaum muda. SEA menjadi ruang pemberdayaan, tempat anak muda belajar berbicara, berdiri tegak, dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut—seperti sang pendirinya.

Ketika banjir bandang dan longsor menghantam Sumatra, Sherly kembali tampil melalui kanal media sosialnya. Ia tak hanya mengajak publik berdonasi dan membantu korban, tetapi juga menyuarakan kritik terhadap apa yang ia nilai sebagai lambatnya penanganan bencana. Kritik itu kini berbuntut panjang.

Melalui akun Instagram, Sherly mengungkap bahwa ia menerima teror beruntun yang mencapai puncaknya pada 29–30 Desember 2025. Awalnya hanya berupa pesan bernada ancaman ke nomor pribadi dan media sosialnya.

Namun situasi berubah menjadi nyata dan menohok: rumahnya dilempari telur busuk, mobilnya dicoret-coret, hingga secarik kertas berisi pesan agar ia “tidak memanfaatkan bencana untuk popularitas dan keuntungan pribadi.”

Sosok yang sehari-hari mengajarkan anak muda untuk berbicara dan tidak bungkam kini justru menjadi target yang hendak dibungkam. Tetapi, sebagaimana ia tunjukkan sejak awal kariernya, Sherly tidak mudah didorong mundur hanya karena tekanan.

Sherly Annavita adalah potret anak Aceh—tumbuh dari sejarah luka, ditempa oleh gelombang, dan kini berdiri untuk mereka yang suaranya tak terdengar. Di tengah teror, ia tetap berbicara. Dan justru dalam keberaniannya itulah, profilnya semakin terang.[]

Logo Korpri Logo Korpri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *