RUMAH Tahfizh Al-Qur’an (RTQ) Al-Furqan Banda Aceh tak ingin aktivitasnya berhenti di ruang belajar dan hafalan Al-Qur’an semata. Di tengah kebiasaan generasi muda yang semakin akrab dengan dunia digital, RTQ Al-Furqan ikut masuk ke ruang tersebut.
Salah satu aktivitas RTQ adalah podcast “Furqan Plus Corner”, yang mulai hadir sejak 14 Februari 2025. Podcast ini menjadi cara baru RTQ Al-Furqan menyebarkan dakwah dan edukasi kepada masyarakat. Bukan hanya soal agama, pembahasannya dibuat lebih luas dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama persoalan yang banyak dihadapi anak muda.
Mulai dari pendidikan, pengembangan diri, kesehatan, kesehatan mental remaja, keluarga, sosial kemasyarakatan, kewirausahaan, hingga berbagai isu aktual menjadi bahan perbincangan. Formatnya pun dibuat santai. Bukan sekadar ceramah satu arah, tetapi percakapan yang memungkinkan narasumber berbagi pengetahuan, pengalaman, sekaligus sudut pandang.
Direktur RTQ Al-Furqan Banda Aceh, Ustadzah Yiyi Hissiyah, S.Pd.I, al-Hafizhah, mengatakan kehadiran podcast berangkat dari keinginan agar keberadaan rumah tahfizh dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Menurutnya, pendidikan Al-Qur’an tetap menjadi fondasi utama RTQ Al-Furqan. Namun, manfaat lembaga tidak harus berhenti di lingkungan para santri.“Kalau dahulu dakwah banyak berlangsung di ruang-ruang pengajian, hari ini ruang digital juga harus kita isi dengan pembicaraan yang baik dan bermanfaat,” ujar Yiyi.
Tak Hanya Bicara Agama
Sebagai rumah tahfizh, pembahasan keislaman tentu tetap menjadi bagian penting dari Furqan Plus Corner. Berbagai tema seperti Al-Qur’an, ibadah, Ramadhan, hijrah, pergaulan, hingga tantangan anak muda menjaga nilai-nilai Islam di tengah kehidupan modern menjadi bagian dari perbincangan.
Baca juga: Bingung Pilih Pesantren? Ini 5 Rekomendasi yang Ada di Banda Aceh
Namun, RTQ Al-Furqan tidak ingin podcast tersebut menjadi ruang yang hanya membicarakan persoalan agama.Tema kesehatan mental remaja, misalnya, mendapat perhatian khusus. Persoalan tekanan hidup, pergaulan, pendidikan, hingga tantangan psikologis generasi muda dibahas dengan bahasa yang lebih ringan dan mudah dipahami.

Tema kesehatan, pendidikan, public speaking, kebencanaan, sosial, kewirausahaan, hingga kisah perjalanan hidup dan profesi para narasumber juga ikut diangkat. Dengan begitu, podcast ini mencoba menjadikan ruang digital sebagai tempat bertemunya nilai-nilai keislaman dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Narasumber dari Berbagai Profesi
Agar pembahasan tidak berhenti pada satu sudut pandang, Furqan Plus Corner menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang.Ada ustadz dan praktisi Al-Qur’an, psikolog, dokter, akademisi, pengusaha, tokoh masyarakat, praktisi komunikasi, hingga figur-figur inspiratif. Pilihan narasumber tersebut menjadi bagian penting dari konsep podcast.
Setiap persoalan diharapkan dibahas oleh orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidangnya. “Kita ingin anak muda mendapatkan edukasi dari orang-orang yang memang memahami bidangnya. Ketika berbicara tentang agama, kita menghadirkan orang yang memiliki kapasitas di bidang agama. Ketika membahas kesehatan atau psikologi, kita juga ingin masyarakat mendapatkan penjelasan dari narasumber yang kompeten,” kata Yiyi.

Konsep ini membuat Furqan Plus Corner tidak sekadar menjadi media dakwah, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman. Di sinilah nilai tambah podcast tersebut. Persoalan sehari-hari dibicarakan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan pendengarnya.
Perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi menjadi alasan lain bagi RTQ Al-Furqan mengembangkan podcast. Generasi muda kini banyak menghabiskan waktu di ruang digital. Informasi, hiburan, pengetahuan, bahkan dakwah bisa mereka temukan melalui layar telepon genggam.
Karena itu, dakwah juga dituntut untuk mampu beradaptasi.RTQ Al-Furqan memilih pendekatan percakapan yang santai dan komunikatif. Tema-tema yang terkadang terasa berat dibuat lebih ringan tanpa menghilangkan substansi.
Potongan-potongan pembicaraan dari podcast juga dapat dikemas menjadi konten yang lebih pendek untuk disebarkan melalui media sosial. Dengan cara itu, satu episode podcast tidak hanya berhenti pada satu tayangan. Pesannya dapat dikembangkan menjadi berbagai konten digital yang lebih mudah dikonsumsi dan dibagikan.
Pengembangan podcast tersebut juga mendapat dukungan dari Yayasan Permata Hati Mazas melalui penyediaan fasilitas podcast sebagai sarana dakwah dan edukasi.
Ketua Yayasan Permata Hati Mazas, Dr. Ichsan Akmal Mazas, BA.(Hons)., M.M., mengatakan rumah tahfizh memang identik dengan kegiatan menghafal Al-Qur’an. Namun, menurutnya, peran tersebut dapat dikembangkan lebih jauh. “Rumah tahfizh tentu identik dengan menghafal Al-Qur’an. Namun kami ingin manfaat RTQ tidak berhenti di lingkungan santri saja. Melalui podcast, berbagai ilmu, pengalaman, dan perspektif dari para narasumber dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda,” ujarnya.
Dukungan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan media digital sebagai ruang baru untuk menyebarkan pesan-pesan positif. Bagi RTQ Al-Furqan, podcast bukan untuk menggantikan fungsi utama rumah tahfizh. Pendidikan dan pembinaan Al-Qur’an tetap menjadi fondasi.
Podcast justru diposisikan sebagai pintu tambahan agar manfaat lembaga dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Di satu sisi, santri belajar dan menghafal Al-Qur’an. Di sisi lain, lembaga membuka ruang untuk menghadirkan gagasan, pengetahuan, dan pengalaman dari berbagai kalangan.
Harapannya sederhana: semakin banyak anak muda mendapatkan informasi yang bermanfaat, perspektif yang sehat, serta inspirasi untuk menghadapi persoalan kehidupan. “Kami ingin RTQ Al-Furqan bukan hanya menjadi tempat santri menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi tempat lahirnya gagasan dan konten yang memberikan manfaat,” kata Yiyi.
Ke depan, RTQ Al-Furqan berkomitmen terus mengembangkan Furqan Plus Corner dengan menghadirkan lebih banyak tema dan narasumber yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari sebuah rumah tahfizh, percakapan itu kini bergerak ke ruang digital.
Sebuah upaya sederhana untuk mempertemukan nilai-nilai Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, dan realitas kehidupan generasi muda dalam satu ruang yang lebih dekat dengan zaman.[]












