KabarAktual.id — Kondisi keuangan RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh kian mengkhawatirkan. Rumah sakit rujukan utama milik Pemerintah Aceh itu, saat ini, menanggung utang jumbo mencapai Rp392 miliar sejak 2023.
Membengkaknya utang memicu sorotan tajam dari DPR Aceh yang menilai pengawasan internal tidak berjalan maksimal dan tata kelola keuangan rumah sakit terkesan tertutup. Persoalan tersebut mencuat dalam pertemuan Tim Pansus LKPJ DPRA dengan manajemen RSUDZA di Banda Aceh, Jumat (8/5/2026).
Dalam rapat itu, anggota dewan mempertanyakan lemahnya kontrol terhadap arus kas rumah sakit, mulai dari belanja obat-obatan, bahan medis habis pakai, hingga pengeluaran operasional lainnya.
Wakil Ketua Pansus LKPJ DPRA, Ilmiza Sa’aduddin Djamal, bersama Sekretaris Pansus, Khalid memimpin langsung kunjungan tersebut.
Anggota Pansus, Fuadri, menilai besarnya utang menunjukkan ada persoalan serius dalam manajemen rumah sakit. Ia mempertanyakan skema pengelolaan keuangan RSUDZA yang dinilai tidak jelas.
“Kita punya beban utang cukup besar. Ini menyangkut manajemen. Terhadap beban yang sudah ada, bagaimana menutupinya?” kata Fuadri.
Politisi PAN itu menegaskan angka utang Rp392 miliar bukan persoalan kecil karena dapat mengancam pelayanan kesehatan masyarakat. “Kami berharap angka 392 ini bisa hilang. Bagaimana caranya, atau skema apa yang direktur punya untuk menghilangkan angka ini,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut sudah menimbulkan keresahan publik karena RSUDZA merupakan rumah sakit rujukan utama di Aceh. “Ini menjadi sebuah keresahan. Bagaimana nasib pelayanan. Ini akan menjadi bom waktu. Ketika dilayani di rumah sakit, obat kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada,” katanya.
Sorotan lebih keras juga datang dari anggota Pansus lainnya, Munawar Ngoh Wan. Ia menilai persoalan cash flow di sektor obat-obatan dan bahan medis habis pakai sangat berbahaya dan menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap keuangan rumah sakit.
“Informasi yang kami peroleh saat raker, cash flow terjadi di sektor obat-obatan dan bahan habis pakai medis, ini sangat berbahaya,” kata Ngoh Wan.
Ia menilai kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar terhadap fungsi pengawasan internal maupun eksternal yang selama ini berjalan di RSUDZA. Selain utang terus membengkak, publik juga dinilai tidak pernah mendapat penjelasan terbuka terkait pendapatan dan belanja rumah sakit.
“Kita berharap Pemerintah Aceh segera mengambil langkah cepat dan konkret untuk menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, manajemen RSUDZA mengakui rumah sakit memang sedang menghadapi tekanan finansial berat. Direktur RSUDZA, Muhazar, mengatakan pihaknya akan melakukan pembayaran utang secara bertahap dan berupaya agar tahun ini tidak muncul utang baru.
“Mengenai utang, tahun ini insyaallah kita tidak ada utang. Kita akan membayar bertahap utang tahun sebelumnya pada saat ada sisa lebih,” ujar Muhazar.
Ia berharap RSUDZA bakal mendapatkan bantuan anggaran dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk menutupi beban tersebut. “Dan kita upayakan nanti Pemda atau Pusat akan mengalokasikan dana memang khusus untuk pembayaran utang,” katanya.
Sementara itu, Wakil Direktur Administrasi dan Umum RSUDZA, Teuku Hendra Faisal, membenarkan angka utang Rp392 miliar merupakan hasil konsolidasi pemeriksaan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan Inspektorat. “Beban utang memang benar kami akui Rp392 miliar itu nilai konsolidasi utang yang disampaikan APIP Inspektorat kepada kami,” ujarnya.
Menurut dia, pemeriksaan APIP dan Inspektorat masih berlangsung dan memasuki tahap kedua selama 12 hari.
Di sisi lain, Wakil Direktur Pengembangan SDM RSUDZA, Arifatul Khoirida, mengungkap sebagian utang muncul saat rumah sakit menghadapi bencana banjir pada akhir 2025 lalu.
Saat itu, kata dia, rumah sakit harus mengoperasikan genset non-stop selama 15 hari akibat pemadaman listrik. Untuk kebutuhan bahan bakar solar, RSUDZA bahkan masih memiliki tunggakan Rp2 miliar kepada Pertamina.
“Kita menghabiskan anggaran untuk BBM solar saat bencana banjir dulu. Setelah 15 hari genset kita hidup nonstop,” ujarnya.[]












