KabarAktual.id — Tokoh nasional Anies Baswedan mempertanyakan batas toleransi pemerintah terhadap kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus terjadi di sejumlah daerah. Berapa banyak anak yang harus menjadi korban sebelum pemerintah menganggap rangkaian kasus tersebut sebagai skandal, krisis besar, atau kejadian luar biasa yang membutuhkan evaluasi menyeluruh.
“Berapa batas minimal jumlah anak-anak korban keracunan MBG sampai kita mau anggap ini sebagai skandal, sebagai krisis besar, sebagai kasus luar biasa?” kata Anies dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, Sabtu (5/9/2026).
Dalam video tersebut, Anies mengaku baru kembali dari Malaysia dan membaca sejumlah pemberitaan mengenai kasus dugaan keracunan MBG dalam sepekan terakhir. Ia menyebut kasus serupa terjadi di Sidoarjo, Tana Toraja, Rembang, Klaten, serta sejumlah daerah lainnya.
Dikatakan, korban berjumlah ratusan siswa, bahkan ada guru juga. “Pertanyaan saya, berapa batas minimal jumlah korban anak-anak keracunan sampai kita mau anggap ini sebagai skandal, sebagai krisis besar, sebagai kasus luar biasa sehingga kita akhirnya mau tekan rem darurat untuk mengevaluasi secara total semuanya,” ujarnya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 itu mendesak pemerintah segera mengambil langkah evaluasi total terhadap tata kelola dan mekanisme pelaksanaan program MBG. Kasus keracunan yang berulang, menurutnya, tidak seharusnya dipandang sebagai kejadian biasa.
Ia mengingatkan bahwa program tersebut menyasar anak-anak sehingga aspek keamanan pangan dan pertanggungjawaban penyelenggara harus menjadi perhatian utama.
Anies juga meminta persoalan tersebut tidak dibiarkan tanpa pertanggungjawaban hukum. Ia mengkritik pandangan yang menganggap kasus keracunan hanya sebagai fenomena biasa dan bukan persoalan yang berkaitan dengan sistem penyelenggaraan MBG.“Sekali lagi di mana batas toleransi kita, coba kita pikirkan?” kata Anies.
Korban Hampir 2.000 Orang
Rangkaian kasus dugaan keracunan MBG kembali menjadi sorotan setelah hampir 2.000 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan dalam periode 1-3 September 2026 di sejumlah daerah.Sebagian besar korban merupakan anak sekolah yang sebelumnya menyantap menu MBG.
Di Sidoarjo, Jawa Timur, Dinas Kesehatan setempat hingga Jumat (4/9/2026) mencatat 748 orang mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan.Kasus tersebut antara lain terjadi di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, serta sejumlah sekolah lainnya.
Rangkaian kejadian tersebut menambah panjang daftar kasus gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan program MBG dan kembali memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan, standar keamanan pangan, hingga mekanisme evaluasi program tersebut.[]












