KabarAktual.id — Peringatan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) tentang potensi bencana di musim hujan kembali menjadi perhatian. Sembilan hari setelah peringatan itu disampaikan, banjir dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah pada 13-14 September 2026.
Bencana tersebut merendam rumah warga, menutup akses jalan, merusak sejumlah fasilitas, hingga menimbulkan korban jiwa. Mualem menyampaikan keprihatinannya sekaligus kembali meminta masyarakat dan seluruh pihak terkait meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana. “Bencana hidrometeorologi yang terjadi setahun lalu membuat tanah di kawasan bencana belum kokoh dan labil,” kata Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Senin (14/9/2026).
Menurut Nurlis, pernyataan tersebut disampaikan Mualem setelah menerima laporan mengenai rangkaian banjir dan longsor dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Di Gayo Lues, banjir terjadi pada Minggu siang (13/9/2026) di Desa Badak dan Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang. Sementara tanah longsor terjadi di Kecamatan Putri Betung dan menyebabkan ruas jalan Blangkejeren-Kutacane tidak dapat dilalui karena tertutup material longsor.
Rumah warga terdampak banjir, sedangkan akses jalan tertutup material longsor. Petugas telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material dan membuka kembali akses jalan. “Selain itu juga dilakukan pendataan dampak banjir dan longsor, dan berkoordinasi dengan unsur terkait untuk membuka kembali akses jalan,” ujar Nurlis.
Bencana berikutnya terjadi di Aceh Tenggara pada Minggu malam. Banjir melanda 12 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Babussalam, Lawe Sigala-gala, Semadam, Bukit Tusam, dan Babul Makmur.
Banjir menyebabkan rumah warga terendam lumpur. Jembatan terdampak, tanggul jebol, serta akses jalan dan sejumlah fasilitas umum terganggu. BPBD Aceh Tenggara bersama aparat gampong melakukan pendataan dan evakuasi warga serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lanjutan.
Sedangkan di Aceh Tengah, tanah longsor terjadi pada Senin dini hari di Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara.Bencana itu menyebabkan 13 orang luka-luka dan satu orang meninggal dunia. Seluruh korban luka dirawat di RSUD Datu Beru.
Sebanyak empat rumah terdampak dan akses jalan tertutup material longsor. Petugas melakukan evakuasi korban, pembersihan material, pemantauan kondisi wilayah, dan pendataan dampak bencana.
Peringatan di Tengah Musim Hujan
Jauh sebelum rangkaian bencana tersebut terjadi, Mualem telah meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir dan longsor. Peringatan itu disampaikan dalam pertemuan bersama Kapolda Aceh, Ketua DPRA, serta sejumlah pejabat dan unsur terkait pada Kamis (3/9/2026).
Saat itu, Mualem menilai kondisi tanah di sejumlah kawasan Aceh masih rentan menyusul bencana hidrometeorologi yang terjadi setahun sebelumnya. “Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat meningkatkan risiko terjadinya banjir, longsor, dan bencana lainnya di sejumlah wilayah,” kata Mualem.
Kini, peringatan tersebut kembali mendapat perhatian setelah banjir dan longsor terjadi hampir bersamaan di tiga kabupaten. Berdasarkan prakiraan BMKG, Aceh menghadapi potensi hujan berintensitas sedang hingga lebat mulai September 2026 hingga Februari 2027. Aceh sebelumnya juga sempat masuk wilayah dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat kategori siaga sebelum statusnya berubah menjadi waspada.
Mualem meminta langkah mitigasi dan kesiapsiagaan tidak dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi diperkuat sejak dini.Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota dan seluruh unsur terkait diminta memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan bencana, termasuk memperkuat koordinasi dan mempercepat respons di lapangan.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi Forkopimda Aceh, TNI dan Polri, pemerintah kabupaten/kota, instansi terkait, serta perguruan tinggi negeri dan swasta. Bagi Pemerintah Aceh, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar potensi bencana dapat diantisipasi lebih awal, penanganan di lapangan berlangsung cepat, dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.[]












