KabarAktual.id – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh berkomitmen menyelesaikan kewajiban kepada vendor tanpa menambah utang baru hingga akhir 2026. Komitmen tersebut disampaikan Direktur RSUDZA, Dr. Muhazar Harun, SKM, M.Kes., dalam pertemuan dengan awak media di ruang kerjanya, Rabu (25/8/2026).
Muhazar mengatakan, total kewajiban RSUDZA kepada vendor yang tercatat hingga Desember 2025 mencapai Rp416,9 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp112 miliar telah dibayarkan sepanjang 2026 menggunakan pendapatan rumah sakit. “Manajemen sekarang berkomitmen dan berjanji tidak akan menambah utang di atas Rp416,9 miliar sampai akhir tahun,” tegas Muhazar.
Manajemen menargetkan pembayaran kewajiban tersebut mencapai 60 persen hingga akhir 2026. Untuk memenuhi target itu, RSUDZA berharap mendapat dukungan Pemerintah Aceh melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). “Kita sudah membicarakan dengan DPR Aceh dan mudah-mudahan mendapat dukungan untuk pembayaran,” ujarnya.
Muhazar menjelaskan, angka Rp416,9 miliar merupakan hasil verifikasi dan pemeriksaan terhadap kewajiban rumah sakit. Pada awalnya, utang tercatat sekitar Rp260 miliar. Dalam proses verifikasi kemudian ditemukan tambahan kewajiban sekitar Rp156 miliar, sebelum akhirnya dikoreksi menjadi Rp416,9 miliar berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Kewajiban tersebut, antara lain, berupa pembayaran obat-obatan, bahan medis habis pakai, serta berbagai kebutuhan operasional rumah sakit. “Rp416,9 miliar itu berdasarkan data dan dokumen yang belum terbayarkan sampai Desember 2025,” jelasnya.
Menurut Muhazar, salah satu faktor yang menyebabkan kewajiban menumpuk adalah ketidakseimbangan arus kas. Pendapatan RSUDZA sangat bergantung pada pembayaran klaim pelayanan kesehatan dari BPJS Kesehatan yang diterima secara bertahap setelah melalui proses verifikasi. Sementara kebutuhan operasional rumah sakit harus dipenuhi setiap hari.
Klaim BPJS itu, lanjutnya, merupakan pendapatan rumah sakit. “Ketika pendapatan belum seluruhnya masuk, sementara pengeluaran terus berjalan, tentu arus kas menjadi tidak seimbang,” katanya.
Meski menghadapi tekanan keuangan, Muhazar memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak boleh terganggu. Ketersediaan obat dan kebutuhan medis tetap harus dijaga agar pelayanan pasien berjalan sebagaimana mestinya. “Pelayanan masyarakat tetap harus berjalan. Obat harus tersedia, pelayanan harus tetap diberikan, sementara pendapatan masuk secara bertahap,” ujarnya.
Selain mengharapkan dukungan Pemerintah Aceh, manajemen RSUDZA juga berupaya meningkatkan pendapatan melalui optimalisasi layanan dan pengembangan usaha pendukung. “Kita terus berusaha meningkatkan pendapatan. Pelayanan harus dilakukan dengan baik sehingga pendapatan rumah sakit juga meningkat,” kata Muhazar.
Terkait munculnya kewajiban tersebut, Muhazar menyatakan manajemen siap mendukung apabila aparat penegak hukum melakukan pengusutan. “Kalau nanti muncul proses dari aparat penegak hukum, kami tentu mendukung. Sampai sekarang belum ada,” ujarnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Direktur Pelayanan Novita, Wakil Direktur Penunjang M. Fuad, serta Wakil Direktur Administrasi dan Umum Teuku Hendra Faisal. Bagi manajemen RSUDZA, komitmen tidak menambah utang baru menjadi bagian dari upaya membenahi tata kelola keuangan rumah sakit. Di saat yang sama, penyelesaian kewajiban lama ditargetkan terus dilakukan agar beban keuangan tidak kembali bertambah dan pelayanan kesehatan masyarakat Aceh tetap terjaga.[]












