KabarAktual.id – Manajemen RSUDZA Banda Aceh di bawah kepemipinan Direktur Dr. Muhazar, H. S.KM., M.Kes. menghadapi dilema yang rumit. Selain dihimpit utang mencapai Rp392 miliar lebih, rumah sakit rujukan utama tersebut kini juga mengalami penurunan pendapatan diduga akibat berkurangnya jumlah pasien.
Ihwal menurunnya pendapatan selama tiga tahun terakhir diakui sendiri oleh Muhazar. Dalam pernyataan pers yang diterima KabarAktual.id, Jumat (24/7/2026), ia menjelaskan bahwa penurunan pendapatan rumah sakit menjadi alasan berkurangnya nilai jasa pelayanan atau insentif yang diterima tenaga kesehatan dan pegawai.
Menurutnya, manajemen tidak melakukan pemotongan insentif, melainkan hanya menyesuaikan besarannya dengan kemampuan keuangan rumah sakit. Pendapatan RSUDZA yang pada 2024 berada di kisaran Rp52 miliar, kata dia, turun menjadi sekitar Rp50 miliar pada 2025. Tren tersebut berlanjut pada 2026 dengan pendapatan kembali merosot menjadi sekitar Rp45 miliar.
Baca juga: Utang RSUDZA Bengkak Rp392 Miliar; Kinerja Pengawas Dipertanyakan
Dia meminta para nakes dan pegawai supaya paham bahwa jasa pelayanan sangat bergantung pada pendapatan rumah sakit. Ketika pendapatan menurun, maka nilai jasa pelayanan juga ikut menyesuaikan. “Sebaliknya, apabila pendapatan meningkat, maka jasa pelayanan juga akan meningkat sesuai formula yang telah ditetapkan,” kata Muhazar.
Ia menegaskan, jasa pelayanan bukan merupakan gaji tetap, melainkan insentif yang besarannya mengikuti pendapatan rumah sakit sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, menurutnya, istilah yang tepat adalah penyesuaian jasa pelayanan, bukan pemotongan hak pegawai.
Pernyataan tersebut disampaikan Muhazar untuk merespons isu yang berkembang terkait dugaan pemotongan sepihak jasa pelayanan tenaga kesehatan dan pegawai di RSUDZA. Selain menjelaskan soal penyesuaian insentif, Muhazar menyebut manajemen saat ini tengah melakukan pembenahan tata kelola rumah sakit, mulai dari penyelesaian persoalan keuangan, peningkatan efisiensi belanja, hingga penguatan mutu pelayanan.
Ia juga menyatakan manajemen membuka ruang dialog dengan pegawai dan siap menjelaskan mekanisme perhitungan jasa pelayanan secara transparan melalui forum internal maupun audiensi. “Kami menghormati setiap masukan dari pegawai. Pintu dialog selalu terbuka, karena tujuan kita sama, yaitu menjaga keberlangsungan rumah sakit sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Muhazar mengimbau masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan persoalan tersebut sebelum memperoleh penjelasan resmi dari manajemen RSUDZA. Ia menegaskan rumah sakit tetap berkomitmen menjalankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik dalam setiap kebijakan.[]












