KabarAktual.id – RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh melaksanakan simulasi survei akreditasi oleh Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damar Husada Paripurna (LARS DHP), 22–24 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan RSUDZA menghadapi proses penilaian akreditasi sekaligus memperkuat tata kelola, budaya mutu dan keselamatan pasien.
Ketua Dewan Pengawas RSUDZA, Prof. Hajjul Kamil, mengatakan simulasi akreditasi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai persiapan menghadapi pertanyaan surveior. Simulasi, menurutnya, harus menjadi momentum untuk memastikan seluruh sistem pelayanan rumah sakit berjalan sesuai standar, terukur, terdokumentasi, serta berorientasi pada keselamatan dan kebutuhan masyarakat.
“Ukuran kita bukan seberapa baik menjawab pertanyaan, tetapi apakah kita mampu memastikan pelayanan yang tepat dan bermutu. Ini adalah amanah yang harus kita jaga bersama,” ujar Hajjul Kamil.
Ia menyebut sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian dalam tata kelola rumah sakit, mulai dari pelayanan, mutu, kapasitas dan kesehatan keuangan, manajemen risiko hingga sistem pengawasan.
Seluruh aspek tersebut, kata dia, harus dibangun dalam satu sistem tata kelola yang terintegrasi. Dengan demikian, perbaikan tidak berhenti pada pemenuhan dokumen administratif, tetapi dapat terlihat dalam praktik pelayanan sehari-hari. “Harus ada umpan balik yang jelas. Rumah sakit juga harus memiliki master plan sebagai arah pengembangan ke depan,” katanya.
Hajjul menegaskan tanggung jawab tata kelola RSUDZA tidak hanya berada pada direktur dan jajaran manajemen. Pemilik, Dewan Pengawas, tenaga medis, tenaga kesehatan, tenaga administrasi dan seluruh unsur pendukung memiliki peran sesuai kewenangannya. “Pemilik, Dewan Pengawas dan seluruh manajemen harus bersama-sama menghadirkan RSUDZA sebagai rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi komitmen seluruh elemen RSUDZA dalam memberikan pelayanan sekaligus melakukan pembenahan internal. Tantangan pengelolaan rumah sakit, lanjutnya, semakin kompleks, mencakup pelayanan, sumber daya manusia, pembiayaan, teknologi serta meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas layanan.
Karena itu, hasil simulasi survei diharapkan tidak berhenti sebagai persiapan menghadapi akreditasi. Temuan, catatan dan rekomendasi selama proses tersebut perlu ditindaklanjuti secara konsisten sebagai bagian dari perbaikan berkelanjutan.
Hajjul mengatakan akreditasi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pencapaian administratif atau predikat kelembagaan. Lebih dari itu, akreditasi harus menjadi instrumen untuk membangun budaya mutu, memperkuat keselamatan pasien dan meningkatkan akuntabilitas pelayanan.
“Pada akhirnya, masyarakat membutuhkan rumah sakit yang hadir ketika mereka membutuhkan pertolongan, memberikan pelayanan secara profesional, aman, manusiawi dan bermutu. Itulah tanggung jawab bersama yang harus terus dijaga oleh seluruh keluarga besar RSUDZA,” pungkasnya.[]












