KabarAktual.id — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan pada perdagangan pekan depan. Bahkan, mata uang Garuda berpotensi melemah hingga menyentuh kisaran Rp18.250-Rp18.300 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring menantinya sejumlah rilis data ekonomi domestik.
Mengutip pernyataan Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, pasar akan mencermati berbagai indikator ekonomi yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI). Salah satu yang paling menjadi perhatian adalah neraca perdagangan Indonesia.
Menurut Ibrahim, neraca perdagangan Juni 2026 berpotensi mengalami defisit sehingga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. “Pasar akan melihat banyak data yang akan dirilis di Indonesia, terutama neraca perdagangan yang kemungkinan besar pada Juni akan mengalami defisit. Hal ini juga akan mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan,” kata Ibrahim, Minggu (2/8/2026).
Meski ditutup menguat pada akhir pekan, kinerja rupiah secara mingguan masih menunjukkan pelemahan. Di pasar spot, rupiah menguat 0,49 persen ke level Rp18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026). Namun, dibandingkan pekan sebelumnya di level Rp17.963 per dolar AS, rupiah masih melemah 0,32 persen.
Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah menguat tipis 0,11 persen menjadi Rp18.058 per dolar AS. Secara mingguan, rupiah tetap terkoreksi 0,47 persen dari posisi Rp17.973 per dolar AS.
Selain neraca perdagangan, pasar juga akan mencermati perkembangan inflasi Indonesia. Ibrahim memperkirakan inflasi Juli 2026 akan melandai ke bawah 3,34 persen setelah harga sejumlah komoditas mengalami penurunan akibat intervensi pemerintah.
Di sisi lain, sektor manufaktur diperkirakan masih belum pulih. Ibrahim memperkirakan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia tetap berada di bawah level 50 atau masih dalam fase kontraksi, meski lebih baik dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level 46,9.
Kondisi tersebut, tambahnya, mencerminkan aktivitas industri yang belum sepenuhnya bangkit dan masih berdampak pada pasar tenaga kerja. “PMI manufaktur kemungkinan masih terkontraksi di bawah 50. Walaupun pada Juli diperkirakan berada di atas 46,9, tetapi masih menunjukkan kontraksi. Ini mengindikasikan kondisi tenaga kerja masih melemah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor,” ujarnya.
Ibrahim juga memproyeksikan cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan dari posisi Juni 2026 sebesar 145,6 miliar dolar AS. Penurunan itu diperkirakan membuat kemampuan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri berada di kisaran 4,9 bulan, atau di bawah standar negara dengan peringkat utang BBB yang umumnya berada pada level lima bulan.
Tak hanya itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga diperkirakan kembali melemah. Setelah turun dari level 129 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, IKK diprediksi kembali turun menjadi 116,6 pada Juli.
Kata dia, rangkaian data ekonomi yang akan dirilis sepanjang pekan depan akan menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah. “Data-data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia pada pekan depan akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah,” katanya.[]












