KabarAktual.id – Pertumbuhan ekonomi Aceh pada Triwulan II-2026 belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di tengah laju ekonomi yang tumbuh 4,86 persen, Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh justru mencatat jumlah penduduk miskin kembali meningkat.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026, persentase penduduk miskin di Aceh naik menjadi 12,34 persen atau sekitar 713,78 ribu jiwa. Angka tersebut bertambah 10,40 ribu orang dibandingkan September 2025 yang tercatat sebanyak 703,33 ribu jiwa atau 12,22 persen.
Kenaikan angka kemiskinan terjadi di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Di desa, tingkat kemiskinan meningkat dari 14,51 persen menjadi 14,66 persen. Sementara di perkotaan naik dari 8,15 persen menjadi 8,27 persen.
BPS menjelaskan, garis kemiskinan di Aceh pada Maret 2026 mencapai Rp742.464 per kapita per bulan, meningkat 3,83 persen dibandingkan enam bulan sebelumnya. Penduduk dengan rata-rata pengeluaran di bawah angka tersebut dikategorikan sebagai miskin.
Di sisi lain, indikator kualitas kemiskinan menunjukkan perbaikan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 2,055 menjadi 1,961, sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,523 menjadi 0,460. Kondisi ini mengindikasikan rata-rata pengeluaran masyarakat miskin semakin mendekati garis kemiskinan dan kesenjangan di antara kelompok miskin mulai menyempit.Selain kemiskinan, pasar kerja Aceh juga masih menghadapi tekanan.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 5,89 persen. Dengan jumlah angkatan kerja mencapai 2,67 juta orang, terdapat sekitar 157,48 ribu warga yang masih menganggur.
Jumlah penduduk bekerja memang bertambah sekitar 15 ribu orang dibandingkan Februari 2026 menjadi 2,52 juta orang. Namun, pada periode yang sama jumlah pengangguran juga meningkat sekitar seribu orang. Mayoritas tenaga kerja Aceh masih bergantung pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyerap 39,31 persen tenaga kerja. Disusul sektor perdagangan sebesar 14,77 persen dan industri pengolahan sebesar 7,12 persen. BPS juga mencatat 62,12 persen pekerja di Aceh masih berada di sektor informal, yang umumnya memiliki tingkat pendapatan dan perlindungan kerja lebih rendah dibanding sektor formal.
Sementara itu, BPS melaporkan perekonomian Aceh pada Triwulan II-2026 tumbuh 4,86 persen secara tahunan (year on year), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh 4,09 persen. Secara triwulanan (quarter to quarter), ekonomi Aceh juga tumbuh 3,77 persen setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh atas dasar harga berlaku mencapai Rp69,69 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp41,46 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang meningkatnya aktivitas di berbagai sektor, mulai dari produksi peternakan menjelang Iduladha, kenaikan penjualan semen untuk konstruksi, peningkatan produksi batu bara dan migas, hingga meningkatnya aktivitas perdagangan, transportasi, dan akomodasi selama periode libur nasional.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong meningkatnya konsumsi rumah tangga akibat penyaluran THR dan gaji ke-13 ASN, belanja pendidikan menjelang tahun ajaran baru, bantuan pascabanjir, serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ekspor batu bara yang meningkat juga turut menopang pertumbuhan ekonomi Aceh.
Meski demikian, data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Bertambahnya jumlah penduduk miskin dan masih tingginya angka pengangguran menjadi indikator bahwa hasil pertumbuhan ekonomi belum terdistribusi secara merata, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.[]












