Opini  

Euforia SNBP; Prestasi Semu di Balik Isu Cuci Rapor

Avatar photo
Euf
Ilustrasi cuci rapor (foto: ChatGPT)

SEKOLAH-sekolah di Aceh dengan bangga mempublikasikan jumlah siswa yang lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Spanduk dibentangkan, baliho dipasang, dan media sosial dipenuhi ucapan selamat. Angka-angka kelulusan dipamerkan seakan-akan menjadi bukti keberhasilan yang tak terbantahkan.

Namun di balik euforia itu, ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab dengan jujur: apakah angka-angka tersebut lahir dari proses yang bersih, atau justru dari praktik manipulasi yang bekerja secara senyap?

Logo Korpri

Jika benar ada praktik “memoles” nilai rapor demi meloloskan siswa, maka ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Ini adalah proses sistematis yang berpotensi menyiapkan generasi yang terbiasa dengan manipulasi—generasi yang kelak mungkin akan mengulangi pola yang sama dalam skala yang lebih besar, termasuk dalam birokrasi dan dunia kerja.

Baca juga: Mengelabui Dengan Angka 42,12 Persen

Coba simak penuturan beberapa orang yang direkam secara tak disengaja berikut ini.

“Ngeri that SMA nyan karap 100 dro siswa lolos SNBP,” kata seorang teman saat membaca berita tentang salah satu SMA di Aceh.

“Peu cet dipeugah nilai TKA aneuk Aceh salah satu yang paling rendah di Indonesia? Tapi kok yang lolos lewat SNBP banyak?” timpal yang lain, mempertanyakan paradoks antara rendahnya capaian akademik dengan tingginya angka kelulusan berbasis rapor.

Baca juga: Peringkat 31, Akhir Drama Pencitraan Pendidikan Aceh

Diskusi itu ditutup dengan nada getir. “Halah, angka-angka itu bisa diolah. Bukannya kita juga sering dengar negara ini masih bergulat dengan korupsi?”

Pernyataan tersebut mungkin terasa sinis. Namun, ia mencerminkan krisis kepercayaan yang nyata terhadap sistem.

Dalam berbagai laporan internasional, termasuk yang dirilis OECD melalui studi PISA, kualitas literasi dan numerasi siswa Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan banyak negara lain. Di sisi lain, indeks persepsi korupsi yang dirilis Transparency International menunjukkan bahwa persoalan integritas masih menjadi pekerjaan besar di negeri ini.

Ketika dua realitas ini bertemu—kualitas yang dipertanyakan dan integritas yang rapuh—maka wajar jika publik mulai meragukan angka-angka prestasi yang dipertontonkan.

Prestasi atau Ilusi?

Perayaan SNBP setiap tahun memang dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras siswa. Namun ketika angka kelulusan dijadikan alat promosi institusi, muncul kecenderungan untuk menjadikan hasil sebagai tujuan utama, bukan proses.

Padahal, rapor sejatinya adalah dokumen moral. Ia merekam perjalanan belajar siswa, mencerminkan konsistensi, usaha, dan kejujuran. Ketika nilai di dalamnya dimanipulasi, yang rusak bukan hanya satu dokumen, tetapi integritas sistem pendidikan itu sendiri.

Prestasi yang seharusnya lahir dari proses panjang berubah menjadi sekadar konstruksi angka yang rapuh.

Fenomena manipulasi nilai bukan sekadar asumsi. Kasus “cuci rapor” yang terjadi di Depok pada 2024 menjadi bukti nyata bagaimana nilai dapat direkayasa secara sistematis. Kasus lain juga terjadi dalam seleksi SNBP di Universitas Gadjah Mada, di mana kelulusan seorang calon mahasiswa dibatalkan setelah ditemukan ketidaksesuaian data nilai.

Kasus-kasus ini hanyalah puncak gunung es. Sangat mungkin masih banyak praktik serupa yang tidak terdeteksi karena dilakukan dengan lebih rapi.Tekanan Sistem yang Melahirkan KompromiSNBP yang berbasis rapor sejatinya dirancang untuk menghargai konsistensi akademik. Namun dalam praktiknya, sistem ini juga menciptakan tekanan besar.

Sekolah ingin terlihat unggul. Orang tua ingin anaknya masuk kampus favorit. Siswa dituntut tampil sempurna. Dalam situasi seperti ini, muncul ruang kompromi terhadap kejujuran.

Nilai tidak lagi sekadar refleksi kemampuan, tetapi menjadi alat untuk memenangkan kompetisi.

Dari Bangku Sekolah ke Meja Birokrasi

Persoalan ini tidak berhenti di dunia pendidikan. Ia memiliki dampak jangka panjang yang serius.

Dalam perspektif Ilmu Sosiologi, perilaku menyimpang seperti korupsi adalah sesuatu yang dipelajari melalui lingkungan. Ketika sejak dini siswa melihat bahwa manipulasi adalah hal yang lumrah, maka mereka sedang belajar bahwa tujuan bisa dicapai dengan cara apa pun.

Di sinilah bahaya terbesar itu muncul. Kita tidak hanya sedang menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi, tetapi berpotensi membentuk generasi yang menganggap manipulasi sebagai strategi yang sah.

Jika praktik ini terus dibiarkan, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sekolah sedang menjadi tempat awal reproduksi mentalitas koruptif.

Pendidikan yang Kehilangan Arah

Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang berintegritas, bukan sekadar menghasilkan angka-angka tinggi. Namun ketika kejujuran dikorbankan demi statistik, pendidikan kehilangan makna dasarnya. Ia berubah dari proses pembentukan karakter menjadi sekadar produksi citra. Euforia kelulusan pun berubah menjadi pesta simbolik yang kosong.

Karena itu, menjaga kejujuran dalam penilaian bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Guru harus berani objektif. Sekolah harus menempatkan integritas di atas gengsi. Orang tua harus menyadari bahwa masa depan anak tidak dibangun dari angka yang dimanipulasi, melainkan dari proses yang jujur. Jika tidak, maka setiap perayaan SNBP hanya akan menjadi perayaan semu.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal siapa yang berhasil masuk perguruan tinggi.

Pendidikan adalah tentang manusia seperti apa yang sedang kita bentuk. Dan, jika sistem yang kita bangun hari ini sarat dengan manipulasi, maka jangan heran jika di masa depan kita menuai generasi yang terbiasa melakukan hal yang sama—di kantor, di institusi, dan di birokrasi negara. Sebab dari rapor yang dipalsukan, bisa lahir masa depan yang ikut dipalsukan.[]

Penulis merupakan Sekjen KPIPA

Logo Korpri Logo Korpri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *