LANGKAH Dinas Pendidikan Aceh kembali menggelar try out UTBK-SNBT untuk puluhan ribu siswa terdengar megah di permukaan. Angka 61.994 peserta dari 23 kabupaten/kota mudah dijadikan bahan rilis yang tampak progresif.
Namun di balik kemasan itu, muncul pertanyaan mendasar: apa benar try out adalah jalan menuju peningkatan mutu pendidikan?
Jawabannya, jika jujur, tidak sesederhana klaim resmi.
Try out pada hakikatnya hanyalah simulasi ujian. Ia melatih siswa terbiasa dengan bentuk soal, manajemen waktu, dan suasana tes berbasis komputer. Titik.
Substansinya tidak lebih dari itu: bagaimana siswa menjawab soal ujian. Ia bukan instrumen pembelajaran yang memperdalam pemahaman konsep, bukan pula mekanisme yang secara langsung meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di kelas.
Baca juga: Disdik Aceh Gelar Try Out UTBK-SNBT 2026 untuk 61.994 Siswa
Masalahnya, try out di Aceh kerap diposisikan seolah-olah sebagai program peningkatan mutu pendidikan, padahal fondasi mutunya sendiri masih rapuh.
Peningkatan kualitas siswa seharusnya terjadi setiap hari di ruang kelas, melalui pembelajaran yang konsisten, guru yang disiplin menjalankan kurikulum, serta evaluasi berkelanjutan berbasis capaian kompetensi. Mutu tidak lahir dari dua hari simulasi ujian, melainkan dari proses panjang yang terstruktur dan terukur.
Di sinilah persoalan mendasar pendidikan Aceh: kita bahkan belum memiliki data akurat tentang daya serap kurikulum oleh siswa. Sejauh mana materi benar-benar dipahami? Kompetensi mana yang lemah? Intervensi apa yang tepat? Tanpa peta akademik yang jelas, try out hanya menghasilkan angka-angka sesaat yang tidak menyentuh akar masalah.
Akibatnya, kegiatan seperti ini terkesan sebagai program copy paste tahunan. Formatnya itu-itu saja, narasinya sama, mitra penyelenggaranya bisa berganti, tetapi esensinya tidak berubah. Try out menjadi rutinitas administratif, bukan strategi akademik. Ia lebih dekat pada seremoni dan pencitraan daripada reformasi pembelajaran.
Mengatakan bahwa try out otomatis meningkatkan mutu juga menyesatkan secara logika pendidikan. Tanpa penguasaan materi, latihan soal hanya menjadi ajang menebak.
Dalam situasi ini, ujian berubah menjadi semacam perjudian akademik. Siswa yang fondasinya lemah tidak tiba-tiba menjadi kuat hanya karena sering melihat bentuk soal. Yang terjadi, mereka sekadar mengisi lembar jawaban tanpa pemahaman yang kokoh.
Lebih memprihatinkan lagi jika try out dijadikan indikator keberhasilan kinerja dinas. Pendidikan lalu direduksi menjadi seberapa sering simulasi digelar, bukan seberapa dalam kualitas belajar diperbaiki. Padahal tantangan utama Aceh bukan kekurangan agenda, melainkan kekurangan keberanian melakukan pembenahan mendasar di kelas: kualitas guru, disiplin kurikulum, supervisi pembelajaran, dan pemetaan kemampuan siswa berbasis data nyata.
Selama pengelolaan pendidikan masih gemar pada program yang enak dipublikasikan tetapi dangkal dampaknya, maka pendidikan Aceh akan terus berjalan di tempat. Rutinitas akan terlihat sibuk, tetapi hasilnya stagnan. Try out digelar berulang-ulang, mitra pelaksana berganti-ganti, namun mutu tak kunjung melonjak signifikan.
Sudah saatnya keberanian lahir untuk mengakui: simulasi bukan solusi. Jika tidak dibarengi perbaikan serius pada proses belajar harian, try out hanya akan menjadi ritual tahunan yang meninabobokan — membuat kita merasa telah berbuat banyak, padahal yang berubah hanya jadwal kegiatan, bukan kualitas pendidikan.
Aceh tidak kekurangan siswa yang cerdas. Yang kurang adalah kebijakan yang berani keluar dari pola lama dan berhenti menjadikan kegiatan seremonial sebagai substitusi mutu. Tanpa itu, pendidikan Aceh akan terus terjebak dalam lingkaran rutinitas: ramai di permukaan, kosong di substansi.[]












