News  

Air Mata di Krueng Beukah

Mustafa Glanggang terjun langsung dan membagikan makanan untuk pengungsi (foto: Ist)

MALAM di Desa Krueng Beukah, Kecamatan Pesangan Selatan, Bireuen, kini tak lagi sama. Ketika listrik padam, sunyi menjelma pekat.

Rumah-rumah yang dulu berpenghuni kini kosong, dindingnya dilapisi lumpur. Sebagian lain lenyap terseret arus Sungai Peusangan. Desa itu seakan kehilangan denyut hidupnya; sebuah “desa mati” pascabanjir dan longsor.

Hampir 20 persen wilayah desa, termasuk rumah warga, hilang ditelan sungai. Warga tak punya pilihan selain mengungsi ke desa tetangga. Jejak kehidupan tersisa pada puing, lumpur, dan cerita pilu yang tertinggal.

Baca juga: Relawan Mustafa Terobos Jalur Terputus, Salurkan Bantuan Dayah Baro

Pemandangan itulah yang membuat Mustafa A. Glanggang tak kuasa menahan haru. Saat menginjakkan kaki di Krueng Beukah, Senin (14/12/2025), mantan anggota DPR Aceh itu sempat meneteskan air mata. Bersama tim relawannya, ia menyaksikan langsung penderitaan warga yang kehilangan tempat tinggal sekaligus rasa aman.

Di hadapan Mustafa, Kepala Desa Krueng Bekah, Teuku Muna, menumpahkan kegundahan. Dari sekitar 300 jiwa atau 91 kepala keluarga, seluruhnya terpaksa mengungsi.

Mereka kini bertahan di Masjid Desa Lung Kuli dan di ruang-ruang kelas SD Desa Ciprek. “Seratus persen desa kami tergenang banjir lumpur. Sebagian rumah rusak total, sebagian lagi hanyut dibawa arus sungai,” tutur Teuku Muna lirih.

Ia sendiri merupakan pegawai honorer Satpol PP di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bireuen.

Kunjungan Mustafa ke Krueng Bekah bukan sekadar melihat, tetapi juga membawa uluran tangan. Bantuan yang disalurkan merupakan hasil penggalangan dari para donatur, termasuk sumbangan dari Perkumpulan Tionghoa Banda Aceh.

Isinya sederhana namun berarti: beras, obat-obatan, sandal jepit, pakaian dalam perempuan, camilan untuk anak-anak, serta susu kotak.

Di tengah keterbatasan, harapan tetap dijaga. Mahasiswa Universitas Almuslim yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Krueng Beukah turut bahu-membahu membantu warga. Mereka tidak hanya membantu logistik, tetapi juga memberi motivasi kepada anak-anak usia sekolah agar tetap tegar menghadapi musibah.

Perjalanan kemanusiaan itu berlanjut ke Desa Teupin Reudep, Pesangan Selatan, lokasi persiapan pembangunan jembatan darurat yang akan menghubungkan Desa Awe Getah, Kecamatan Pesangan Siblah Krueng. Jembatan ini menjadi urat nadi bagi warga yang ingin kembali terhubung dengan jalur Banda Aceh dan Medan.

Seorang petugas pengawas jembatan dari Banda Aceh menyampaikan kepada Mustafa, jembatan darurat tersebut ditargetkan mulai diuji coba paling cepat Rabu atau selambat-lambatnya dalam pekan ini.

Dua hari sebelumnya, Mustafa juga menyambangi Desa Kapa dan Desa Blang Panjo di Kecamatan Pesangan. Desa Blang Panjo kini menjadi tempat penampungan sebagian pengungsi dari Desa Pante Lhong, wilayah yang dilaporkan mengalami dampak banjir paling parah.

Kepala Desa Blang Panjo, Ruslan Tagana, memperkirakan sebagian warga mungkin bisa kembali pulang secara permanen pada akhir Desember 2025. Meski demikian, dapur umum tetap disiagakan. “Kami tetap membuka dapur umum yang dipusatkan di meunasah Blang Panjo,” kata Ruslan, yang sehari-hari juga bertugas sebagai pegawai Pemadam Kebakaran Pemkab Bireuen.

Di tengah lumpur, pengungsian, dan duka yang belum surut, Krueng Beukah dan desa-desa di sekitarnya bertahan dengan satu hal yang tersisa: solidaritas. Air mata memang jatuh, tetapi di antara reruntuhan, harapan masih dicoba untuk tetap hidup.[]

Logo Korpri Logo Korpri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *