Opini  

Silap Mata Putoh Taku; Mengapa Sekolah tak Disiplin Mudah Gagal?

Avatar photo
Ilustrasi (foto: ChatGPT)

DALAM beberapa waktu terakhir, dunia sering menyaksikan bagaimana operasi intelijen modern mampu menembus sistem keamanan yang tampak sangat kuat. Target yang diburu sering kali bukan orang sembarangan: kepala negara seperti Nicolás Maduro, pemimpin kartel narkoba seperti Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho, atau tokoh berpengaruh seperti pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.

Dalam berbagai operasi keamanan internasional, figur-figur seperti ini dikenal memiliki pengamanan berlapis: pasukan elite, jaringan intelijen yang kompleks, hingga teknologi keamanan mutakhir. Namun sejarah menunjukkan satu kenyataan sederhana—tidak ada sistem keamanan yang benar-benar kebal dari kesalahan manusia.

Logo Korpri

Sering kali kegagalan besar bukan terjadi karena kurangnya kekuatan, melainkan karena kelengahan kecil yang membuka celah. Dalam bahasa Aceh terdapat ungkapan yang sangat tepat menggambarkan situasi tersebut: “Silap mata putoh taku”—sekali saja lengah, leher bisa putus.

Ungkapan ini mengandung pesan universal: kekuatan sebesar apa pun tidak berarti tanpa disiplin. Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam dunia militer atau politik, tetapi juga dalam hampir seluruh aspek kehidupan—termasuk pendidikan.

Disiplin: Fondasi yang Sering Dianggap Sepele

Dalam dunia pendidikan, perbincangan sering berputar pada kurikulum baru, metode pembelajaran inovatif, fasilitas modern, atau program unggulan sekolah. Semua hal tersebut memang penting. Namun ada satu unsur mendasar yang sering luput dari perhatian, yaitu disiplin.

Sekolah dapat memiliki kurikulum terbaik, laboratorium canggih, bahkan guru dengan kualifikasi tinggi. Tetapi tanpa kedisiplinan, semua itu mudah berubah menjadi sekadar rencana di atas kertas.

Disiplin dalam pendidikan mencakup banyak hal:

  • disiplin waktu guru dalam mengajar,
  • disiplin siswa dalam belajar,
  • disiplin manajemen sekolah dalam menjalankan aturan,
  • hingga konsistensi dalam melaksanakan program yang telah dirancang.

Tanpa disiplin, sistem pendidikan yang baik pun dapat kehilangan arah.

Penelitian pendidikan modern menunjukkan hubungan yang kuat antara disiplin dan prestasi akademik. Studi yang dipublikasikan oleh psikolog pendidikan Angela Duckworth dari University of Pennsylvania menemukan bahwa self-discipline atau pengendalian diri memiliki pengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa, bahkan sering kali lebih menentukan dibandingkan tingkat kecerdasan semata.

Temuan serupa juga terlihat dalam laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dikelola oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dalam beberapa laporan PISA, sekolah dengan iklim belajar yang tertib dan disiplin cenderung menghasilkan capaian akademik yang lebih tinggi dibandingkan sekolah yang lingkungan belajarnya tidak teratur.

Hal ini menunjukkan bahwa disiplin bukan sekadar aturan administratif, melainkan faktor kunci dalam kualitas pendidikan.

Mengapa Sekolah Unggul Selalu Disiplin?

Jika kita memperhatikan lembaga pendidikan yang dikenal berhasil—seperti akademi militer, sekolah kedinasan, atau sekolah unggulan—terdapat satu kesamaan yang hampir selalu muncul: budaya disiplin yang kuat.Lembaga-lembaga tersebut mungkin berbeda dalam kurikulum, metode belajar, maupun fasilitas. Namun mereka memiliki kesamaan yang mencolok:

  • waktu sangat dihargai,
  • tanggung jawab dijaga secara serius,
  • aturan ditegakkan secara konsisten.

Disiplin di tempat-tempat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan budaya organisasi yang hidup sehari-hari.

Menurut laporan pendidikan global yang diterbitkan oleh UNESCO melalui Global Education Monitoring Report, lingkungan belajar yang terstruktur dan konsisten terbukti membantu siswa mengembangkan fokus belajar, rasa tanggung jawab, dan kemampuan mengelola diri.

Dengan kata lain, disiplin bukan musuh kreativitas. Justru disiplin adalah fondasi profesionalitas.Tanpa disiplin, bahkan kecerdasan dan bakat sekalipun sering kali gagal berkembang secara maksimal.

Disiplin bukan Kekerasan

Sebagian orang masih memiliki kekhawatiran bahwa disiplin dapat mematikan kreativitas atau daya kritis siswa. Kekhawatiran ini sebenarnya perlu diluruskan.

Disiplin tidak identik dengan kekerasan.

Disiplin pada dasarnya adalah:

  • keteraturan,
  • konsistensi,dan
  • komitmen untuk menjalankan aturan yang telah disepakati.

Justru tanpa disiplin, kebebasan sering berubah menjadi kekacauan.

Sekolah yang terlalu longgar terhadap aturan biasanya menghadapi masalah klasik:

  • keterlambatan guru,
  • siswa yang tidak fokus belajar,
  • program pendidikan yang tidak berjalan,
  • hingga kualitas pendidikan yang stagnan.

Disiplin yang sehat tidak mengekang kebebasan berpikir. Sebaliknya, disiplin memberikan struktur yang memungkinkan kreativitas berkembang secara terarah.

Disiplin dalam Perspektif Islam

Dalam masyarakat yang memiliki identitas keislaman kuat seperti Aceh, konsep disiplin sebenarnya memiliki landasan yang sangat kuat dalam ajaran agama.

Salah satu contoh paling jelas dapat dilihat dalam ibadah shalat. Dalam Islam, shalat tidak hanya menekankan kewajiban ibadah, tetapi juga ketepatan waktu.Al-Qur’an menyebutkan bahwa shalat merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang beriman (QS. An-Nisa: 103). Shalat yang dilakukan pada awal waktu memiliki nilai yang lebih utama, sedangkan shalat yang dilakukan di luar waktunya tidak lagi memiliki nilai yang sama.

Pesan yang tersirat sangat jelas: ibadah pun membutuhkan disiplin waktu.

Nilai ini seharusnya menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan di Aceh. Jika dalam ibadah saja Islam menekankan keteraturan dan ketepatan waktu, maka dalam pendidikan nilai disiplin seharusnya juga menjadi prinsip utama.

Aceh dan Tantangan Disiplin Pendidikan

Aceh sebenarnya memiliki banyak potensi besar dalam dunia pendidikan. Banyak sekolah memiliki guru-guru yang kompeten, siswa yang cerdas, serta dukungan masyarakat yang tinggi terhadap pendidikan.

Namun potensi saja tidak cukup.Tanpa disiplin yang kuat, potensi tersebut sulit berkembang secara maksimal.

Karena itu, sekolah-sekolah di Aceh membutuhkan satu langkah penting: revolusi budaya disiplin dalam pendidikan.

Revolusi ini tidak harus dimulai dengan program besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti:

  • disiplin waktu mengajar,
  • disiplin kehadiran siswa,
  • disiplin dalam menjalankan kurikulum,
  • disiplin dalam manajemen sekolah.

Jika disiplin ditegakkan secara konsisten, program-program unggulan yang telah disiapkan sekolah tidak lagi sekadar dokumen perencanaan. Ia akan berubah menjadi gerakan nyata yang menghasilkan perubahan.

Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda

Pada akhirnya, pilihan yang dihadapi dunia pendidikan sebenarnya sangat sederhana.

Apakah kita ingin membangun budaya disiplin untuk membawa sekolah menuju kemajuan?Atau kita memilih mengabaikan disiplin dan perlahan menerima kemunduran?

Dalam dunia yang semakin kompetitif, sekolah yang tidak disiplin akan tertinggal secara perlahan. Sebaliknya, sekolah yang memiliki budaya disiplin kuat akan bergerak maju lebih cepat.

Hukum ini tidak berbeda dengan prinsip yang berlaku dalam kehidupan lainnya.

Sedikit saja lengah, semuanya bisa berubah menjadi game over.

Karena itu, pesan sederhana dari ungkapan Aceh tadi tetap relevan hingga hari ini:

“Silap mata putoh taku.”

Sekali saja disiplin hilang, keruntuhan bisa terjadi dalam sekejap.[]

Penulis adalah juru bicara KPIPA Aceh

Logo Korpri Logo Korpri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *