“Kop bereh Pak Murthala, Sibak Agam, meuso-so sinyak kenjeut peuget pernyataan anti korupsi lagenyo bak surat, peu lom bak geutanyo korupsi ka jeut keu peukateun. ”(Luar biasa Pak Murthala, hanya orang-orang tertentu yang berani membuat pernyataan dan penegasan antikorupsi seperti ini di surat, apalagi di tempat kita ketika korupsi sudah dianggap biasa).
Ungkapan itu lahir spontan. Bukan basa-basi. Ia datang dari rasa bahwa di tengah kebiasaan yang sering dibiarkan, masih ada keberanian untuk berkata tegas: cukup.
Dalam Surat Edaran Ramadhan 1447 H yang ditandatangani Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, pada poin ke-9 ditegaskan dengan jelas komitmen menuju Zona Integritas, Wilayah Bebas Korupsi (WBK), dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), disertai ajakan agar tidak meminta atau memberi sesuatu di luar ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kalimat itu sederhana, tetapi daya getarnya besar. Di saat Ombudsman Aceh menindaklanjuti dugaan pungutan dalam proses sertifikasi guru dan menegaskan bahwa tidak boleh ada biaya tanpa dasar hukum yang sah, pernyataan Disdik Aceh menjadi semakin bermakna.
Ini bukan soal membela diri. Ini tentang mengambil posisi. Tentang menunjukkan bahwa dunia pendidikan tidak boleh menjadi ruang kompromi bagi praktik-praktik manipulatif.
Ramadhan menghadirkan keheningan yang jujur. Ia mengajarkan kita untuk menahan diri, membersihkan niat, dan berani meninggalkan yang salah meskipun sudah dianggap biasa. Jika nilai ini masuk ke dalam tata kelola pendidikan, maka perubahan bukan lagi mimpi.
Lebih dari sekadar kebijakan, Disdik Aceh juga menggerakkan pembiasaan karakter di SMA se-Aceh. Tadarus, pesantren kilat, penguatan kepemimpinan, serta “Tujoh Peubiasa Aneuk Aceh Meutuwah Ngon Meudab” bukan hanya agenda Ramadhan. Itu adalah proses membentuk generasi yang kelak memimpin Aceh.
Apa jadinya jika generasi muda diajarkan tentang kejujuran, sementara sistem di sekitarnya permisif terhadap penyimpangan? Kontradiksi itu harus dihentikan. Langkah yang dimulai hari ini menunjukkan arah yang benar: membangun sistem yang bersih sambil membentuk karakter yang kuat.
Dunia pendidikan adalah tempat paling tepat untuk memulai revolusi integritas. Di sanalah nilai ditanam, di sanalah masa depan dibentuk. Jika sekolah bersih, maka harapan akan tumbuh. Jika dinas berani bersikap, maka pesan moral di ruang kelas menjadi nyata.
Karena itu, kita semua mendukung segala upaya yang telah diinisiasi dan ditunjukkan oleh Disdik Aceh agar komitmen ini tidak hanya berhenti sebagai teks surat edaran. Ia harus diwujudkan dalam tindakan, dalam pengawasan yang tegas, dalam perlindungan terhadap guru yang jujur, dalam keteladanan para pemimpin pendidikan, serta dalam keberanian menindak tegas setiap pelanggaran di jajaran Disdik Aceh, terlebih menjelang Tahun Ajaran Baru yang rawan terhadap berbagai penyimpangan dalam proses SPMB.
Komitmen terbuka ini menjadi modal penting dan awal yang baik dalam kepemimpinan Murthalamuddin di Disdik Aceh.Kepercayaan publik dibangun dari keberanian bersikap dan konsistensi bertindak.
Satu hal yang pasti: generasi yang dididik dalam lingkungan yang jauh dari praktik-praktik koruptif akan lebih mungkin tumbuh menjadi generasi yang antikorupsi di masa depan. Sebaliknya, mereka yang dibesarkan dalam sistem yang permisif terhadap kecurangan dan manipulasi berisiko menganggap penyimpangan sebagai hal biasa ketika kelak memegang kekuasaan.
Karena itu, membersihkan pendidikan hari ini berarti menyelamatkan Aceh di masa depan.Lanjutkan Pak Murthala, kami mendukung penuh sikap dan komitmen Anda. “Menyo kon tanyo so cit lom yang peugleih dunia pendidikan Aceh, menyo kon jino pajan cit lom?” (Kalau bukan kita siapa lagi yang membersihkan dunia pendidikan Aceh, kalau bukan sekarang kapan lagi?).
Dunia pendidikan adalah titik paling tepat untuk memulai semuanya, dan bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk itu.
Lanjutkan, Pak Murthala.
Penulis: Ramadhan Al Faruq (Alumi IAIN Ar-Raniry Banda Aceh)












