Air sumur yang berubah kuning dan berbau besi sering menjadi masalah serius bagi pemilik rumah di wilayah dataran rendah. Ciri paling mudah dikenali adalah keramik kamar mandi yang cepat berkerak cokelat, air berbau amis, serta pakaian putih yang lama-kelamaan berubah kusam.
Jika Anda mengalami hal ini, menambahkan kaporit atau tawas bukanlah solusi jangka panjang. Diperlukan pendekatan teknis yang tepat agar masalah tidak terus berulang.
Artikel ini menyajikan langkah-langkah praktis dan aplikatif untuk mengatasi air sumur kuning secara efektif.
Langkah 1: Kenali Ciri Air Bermasalah Sejak Awal
Perhatikan beberapa tanda berikut:
- Air terlihat jernih saat pertama keluar dari kran, namun
- Setelah didiamkan di bak mandi atau toren selama beberapa jam: * Warna berubah menjadi kuning keruh * Muncul endapan cokelat di dasar
3. Air mengeluarkan bau besi atau amis
4. Pakaian putih cepat menguning meski dicuci bersih
Jika tanda-tanda ini muncul, besar kemungkinan air mengandung Zat Besi (Fe) atau Mangan (Mn) tinggi.
Langkah 2: Pahami Penyebabnya
Kandungan Fe dan Mn tinggi merupakan fenomena alami, terutama di:
- Wilayah dataran rendah
- Area bekas rawa
- Daerah dengan lapisan tanah tertentu (seperti sebagian wilayah Medan dan sekitarnya)
Saat air dipompa dari dalam tanah, zat besi masih larut dan tidak terlihat. Setelah terpapar udara (oksidasi), barulah zat besi:
- Menggumpal
- Mengendap
- Mengubah warna air menjadi kuning
Langkah 3: Hindari Solusi Instan yang Keliru
Banyak orang mencoba cara cepat seperti:
- Menuangkan kaporit
- Menambahkan tawas
✔️ Cara ini memang bisa menjernihkan air sementara
❌ Namun sering menimbulkan:
- Bau menyengat
- Kulit terasa kering
- Efek hanya sesaat (bukan solusi permanen)
Langkah 4: Terapkan Sistem Filter yang Tepat (Solusi Teknis)
Berdasarkan praktik water treatment di lapangan, berikut susunan sistem filtrasi yang direkomendasikan:
1. Tabung Filter Utama (Wajib)
Isi dengan media khusus penangkap besi, seperti:
- Ferrolite
- Greensand
👉 Fungsi utama:
Menangkap dan mengendapkan zat besi (Fe) dan mangan (Mn) yang telah teroksidasi.
2. Tabung Filter Kedua (Opsional tapi Disarankan)
Isi dengan: Karbon aktif batok kelapa
👉 Fungsi:
- Menghilangkan bau amis sisa oksidas
- Menjernihkan air secara visual
- Memperbaiki rasa dan aroma air
3. Housing Cartridge (Penyaring Akhir)
Berfungsi sebagai polishing filter, untuk:
- Menahan partikel halus
- Mencegah sisa endapan lolos ke kran
Langkah 5: Gunakan Toren untuk Hasil Maksimal
Agar filtrasi bekerja optimal:
- Gunakan toren air sebelum filter
- Biarkan air mengendap dan teroksidasi secara alami
⚠️ Sistem langsung dari pompa (tanpa toren) kurang disarankan untuk kasus besi tinggi karena:
- Proses oksidasi tidak maksimal
- Beban pompa lebih berat
- Kualitas air kurang stabil
Mitos vs Fakta di Lapangan
Mitos:
“Cukup pasang saringan kain di ujung kran.”
Fakta:
Saringan kain hanya menahan pasir kasar. Zat besi terlarut tetap lolos, mengendap, dan menguningkan bak mandi.
Mitos:
“Filter air mahal dan ribet.
“Fakta:
Memang ada biaya awal. Namun dalam jangka panjang, filter justru lebih hemat dibanding:
- Mengecat ulang kamar mandi
- Mengganti kran yang keropos
- Membeli seragam baru akibat noda kuning
Perawatan pun relatif mudah dengan sistem backwash (cuci balik).
Kesimpulan: Air Bersih Dimulai dari Pemahaman yang Tepat
Mengatasi air sumur kuning tidak cukup dengan solusi instan. Kunci utamanya adalah:
- Memahami kondisi air
- Menentukan sistem filtrasi sesuai masalah
- Menggunakan media filter yang tepat
- Merawat sistem secara berkala
Air bersih yang bebas bau dan warna bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga kualitas hidup keluarga.[]
Sumber: Astrowater.id












