News  

Bertaruh Nyawa di Jembatan yang tak Kunjung Ada

Warga bertaruh nyawa di sungai Pining (foto: beritamerdeka.net)

PAGI itu, arus sungai di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues terlihat lebih keruh dari biasanya. Hujan semalam membuat debit air meninggi, arusnya kian deras. Namun, bagi warga, itu bukan alasan untuk berhenti.

Di tepian sungai, beberapa pria bersiap menyeberang. Di pundak mereka, seorang pasien terbaring lemah. Tak ada tandu medis, tak ada pengaman—hanya kain dan kayu seadanya. Mereka melangkah perlahan, menembus arus yang sewaktu-waktu bisa menyeret siapa saja.

Logo Korpri

Semua ini terjadi karena satu hal: Jembatan Pintu Rime yang menjadi akses vital lintas wilayah telah ambruk berbulan-bulan, tanpa kepastian perbaikan.

Kisah memilukan ini diungkap oleh warga kepada laman beritamerdeka.net, yang menggambarkan bagaimana kehidupan di Pining berubah menjadi perjuangan harian melawan risiko. “Kalau sedikit saja salah pijakan, pasien pasti hanyut. Ini bukan lagi soal sulit, ini soal hidup dan mati,” kata Jemalul Hakim, warga setempat, Senin (30/3/2026), dengan suara bergetar menahan emosi.

Bagi warga Pining, menyeberangi sungai bukan lagi kejadian luar biasa. Itu rutinitas. Anak-anak berangkat sekolah dengan kaki basah dan jantung berdebar. Ibu hamil menggenggam harapan sambil menapaki batu licin. Orang tua berjalan perlahan, bertaruh pada keseimbangan tubuh yang kian rapuh.

Tak ada jembatan darurat. Tak ada jalur alternatif. Negara terasa jauh, bahkan nyaris tak hadir.

Di lokasi, sisa-sisa jembatan masih tampak jelas. Rangka baja terkulai, badan jembatan ambruk, dan material sisa banjir menumpuk tanpa sentuhan. Sungai yang dulu hanya dilintasi, kini berubah menjadi penghalang sekaligus ancaman.

Warga menyebut, proyek perbaikan yang diduga ditangani oleh Hutama Karya tak menunjukkan progres berarti. Harapan yang sempat muncul perlahan berubah menjadi kekecewaan.

Kemarahan pun tak terhindarkan. “Ini kelalaian yang nyata! Kami dipaksa bertaruh nyawa setiap hari. Jangan tunggu ada korban jiwa baru bergerak,” tegas Jemalul.

Desakan kini diarahkan ke pemerintah pusat, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), agar turun langsung mengevaluasi kondisi di lapangan.

Warga tidak lagi meminta janji. Mereka meminta keselamatan.Ironisnya, hingga kini, pihak pelaksana proyek belum memberikan penjelasan. Diamnya mereka justru mempertegas jarak antara pengambil kebijakan dan realitas yang dihadapi warga.

Hari demi hari berlalu. Sungai tetap mengalir, membawa risiko yang sama. Setiap langkah di atas arus adalah pertaruhan. Setiap penyeberangan adalah kemungkinan terakhir.

Di Pining, yang runtuh bukan hanya jembatan. Tetapi juga rasa aman dan harapan. Bahwa, nyawa manusia benar-benar menjadi prioritas.[]

Logo Korpri Logo Korpri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *