KabarAktual.id – Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Aceh, Syaifullah Muhammad, menegaskan pentingnya peran intelektual profetik dalam mendorong transformasi sosial dan pembangunan daerah. Konsep tersebut dinilai menjadi kunci untuk menghadirkan kemajuan Aceh dan Indonesia yang berlandaskan ilmu pengetahuan sekaligus nilai-nilai spiritual.
Hal itu disampaikan Syaifullah dalam Tausiah Kebangsaan KAHMI Aceh yang digelar dalam rangka buka puasa bersama di Gedung Amel, Banda Aceh, Jumat (13/3/2026). Kegiatan tersebut dihadiri ratusan kader HMI dan anggota KAHMI dari berbagai latar belakang profesi.
Dalam orasinya yang berlangsung sekitar 30 menit, Syaifullah menekankan bahwa intelektual profetik merupakan sosok yang mewarisi nilai kenabian dalam kehidupan sosial, yakni menggabungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai nubuwah (kenabian) yang memiliki dimensi sosial sekaligus transendental.
Menurutnya, alumni HMI memiliki tanggung jawab moral untuk mereaktualisasikan nilai independensi organisasi yang bersumber dari tauhid. Nilai tersebut menjadi fondasi bagi kader HMI untuk menjaga integritas serta keberpihakan pada kebenaran. “Setiap kader HMI tidak boleh tunduk pada kekuatan apa pun kecuali pada nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT yang diwariskan oleh Rasulullah SAW,” kata Syaifullah.
Ia menjelaskan, makna tauhid dalam kalimat Laa ilaha illallah mengandung dua dimensi penting, yakni negasi dan afirmasi. Laa ilaha merupakan penegasan kebebasan manusia dari segala bentuk ketakutan, ketergantungan, dan belenggu selain kepada Allah. Sementara illallah menjadi pengecualian bahwa satu-satunya keterikatan seorang muslim adalah kepada Allah dan nilai-nilai kebenaran yang diturunkan melalui Rasulullah.
Nilai tauhid tersebut, kata dia, menjadi sumber utama independensi HMI. Jika dipadukan dengan karakter kader yang akademis, kreatif, dan pengabdi sebagaimana tujuan HMI, maka akan melahirkan kader tangguh yang mampu berperan sebagai intelektual profetik. “Melalui nilai independensi yang bersumber dari tauhid itu, kader HMI dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, hingga hilirisasi untuk mendorong transformasi sosial dan kemajuan daerah serta bangsa,” ujar Syaifullah yang juga menjabat Direktur Bisnis dan Kepala ARC Nilam Universitas Syiah Kuala.
Ia mengingatkan, nilai tauhid dan independensi juga berfungsi mencegah kader HMI menjadi sekadar “intelektual tukang” yang hanya menjalankan program secara teknis tanpa memiliki ruh spiritual dan visi kemanusiaan.
Karena itu, ia mengajak kader HMI dan anggota KAHMI untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik secara material maupun spiritual. Menurutnya, keberhasilan dalam profesi apa pun harus dimaknai sebagai bagian dari ibadah yang memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam kesempatan itu, Syaifullah juga memaparkan lima prinsip yang menurutnya penting untuk meraih keberhasilan dalam kehidupan. Pertama, selalu bersyukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah. Kedua, memiliki keikhlasan dalam menghadapi berbagai peristiwa kehidupan. Ketiga, menghargai potensi diri sebagai manusia yang dianugerahi akal, nafsu, dan hati nurani. Keempat, menjaga kebahagiaan dalam kondisi apa pun. Dan kelima, bekerja secara maksimal dengan memanfaatkan seluruh potensi kemanusiaan untuk kemajuan bersama.
“Pada akhirnya, kita harus bekerja dengan seluruh potensi kemanusiaan yang kita miliki untuk kebaikan masyarakat dan bangsa sebagai jalan pulang yang baik kepada Allah SWT,” ujar Syaifullah.
Acara tausiah kebangsaan tersebut dihadiri lebih dari 500 kader HMI dan anggota KAHMI dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, politisi, birokrat, pengusaha hingga insan pers. Kegiatan juga diisi sambutan dari Koordinator Presidium KAHMI Aceh, Prof. Syamsul Rizal, serta dihadiri sejumlah presidium dan pengurus KAHMI dari berbagai daerah di Aceh.[]












