KabarAktual.id — Antrean panjang kendaraan di SPBU seluruh Aceh dalam beberapa hari terakhir memicu keresahan masyarakat. Kondisi tersebut dinilai telah mengganggu aktivitas ekonomi dan mobilitas warga, terutama di tengah bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Menurut rumor yang berkembang di tengah masyarakat, antrean terjadi akibat panic buying menyusul isu akan terjadi kelangkaan BBM imbas perang Iran-Israel/AS. Masyarakat diduga “menyerbu” SPBU untuk mendapatkan BBM dalam waktu bersamaan sehingga terjadi antrean panjang.
Pengamat kebijakan publik Dr Taufik Abd Rahim menilai situasi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM). “Antrean sudah sangat meresahkan dan mengganggu aktivitas rakyat Aceh. Ini menyangkut kebutuhan pelayanan publik yang sangat mendasar,” kata Taufik kepada KabarAktual.id di Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: Krisis Layanan Publik, Pengamat Nilai Banda Aceh Dilanda “Bencana Tata Kelola”
Menurutnya, kondisi itu menimbulkan tanda tanya besar mengenai peran dan respons Pemerintah Aceh dalam memastikan ketersediaan BBM bagi masyarakat. Pemerintah, kata dia, seharusnya segera memberikan kepastian kepada masyarakat, mengingat BBM merupakan kebutuhan utama yang menopang mobilitas produksi, aktivitas kerja, dan roda perekonomian warga.
Situasi tersebut, lanjutnya, semakin memprihatinkan karena terjadi di tengah bulan Ramadan. Banyak warga bahkan harus mengantre hingga larut malam menjelang waktu sahur dengan meninggalkan kendaraan mereka di SPBU. “Ini tentu sangat memberatkan masyarakat, apalagi dalam suasana Ramadan ketika aktivitas ekonomi dan kebutuhan rumah tangga meningkat,” ujarnya.
Taufik juga meminta pemerintah segera bertindak apabila terdapat indikasi permainan pihak tertentu dalam distribusi BBM. “Jika ada permainan mafia minyak, maka harus segera diatasi dan diambil tindakan tegas. Jangan sampai kondisi ini semakin menyengsarakan rakyat,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan kelangkaan BBM terjadi di saat masyarakat Aceh juga masih menghadapi berbagai persoalan lain, seperti dampak bencana banjir bandang dan kerusakan lingkungan yang memicu ketidakpastian ekonomi bagi sebagian warga.
Karena itu, ia berharap Pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat tidak mengabaikan persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. “Rakyat berharap ada kepastian dan langkah nyata dari pemerintah. Jangan sampai masyarakat merasa frustrasi karena persoalan mendasar seperti ini tidak segera diselesaikan,” kata Taufik.[]












