KabarAktual.id – Ketua Petani Nilam Batee Shok, Sabang, T. Nazaruddin, menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi lintas lembaga dan pengenalan aplikasi digital MyNilam. Kolaborasi itu dinilai dapat memperkuat posisi petani dalam mengakses pasar dan pembiayaan.
Hal itu disampaikan Nazaruddin dalam keterangan tertulis kepada KabarAktual.id, Selasa (17/2/2026).
Menurut Nazaruddin, kunjungan tim dari berbagai lembaga, termasuk Atsiri Research Centre (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK), menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas dan tata kelola produksi nilam di Desa Batee Shok, Sabang. “Kami sangat terbantu dengan pendampingan ini, terutama dalam meningkatkan kualitas minyak nilam dan memahami pentingnya pencatatan produksi secara digital,” ujarnya.
Kunjungan yang berlangsung pada 15 Februari 2026 itu melibatkan sejumlah pihak, antara lain ARC USK, Amanah Youth Creative Hub, Direktorat Bisnis dan Dana Lestari (DBDL), PT Global Mandiri USK, serta Aceh Australian Alumni.
Kepala ARC USK, Dr. Syaifullah Muhammad, mengatakan pihaknya memperkenalkan teknik pengolahan untuk meningkatkan kadar Patchouli Alcohol (PA), yang menjadi syarat utama pasar internasional, khususnya Perancis, dengan standar minimal 30 persen.
Selain itu, tim juga memperkenalkan aplikasi MyNilam yang berfungsi mencatat aktivitas produksi, kualitas, dan arus keuangan petani secara digital. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan menjadikan petani lebih mudah mengakses pembiayaan perbankan.
Di sisi lain, Guru Besar Pertanian USK, Prof. Dr. Ir. Rina Sriwati, M.Si, memperkenalkan konsep pemanfaatan limbah penyulingan nilam menjadi pupuk organik cair. Inovasi ini diyakini dapat meningkatkan kualitas tanaman sekaligus mengurangi limbah produksi.
Nazaruddin mengatakan para petani menyambut baik berbagai inovasi tersebut dan siap menerapkannya secara bertahap. “Kami ingin nilam Sabang memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar global,” kata dia.
Desa Batee Shok merupakan salah satu sentra produksi minyak nilam di Sabang yang memiliki potensi besar untuk pengembangan industri atsiri berorientasi ekspor. Kolaborasi riset, teknologi digital, dan pendampingan teknis diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas dan daya saing produk nilam dari daerah tersebut.[]












