Percikan api itu kembali menyala. Bukan di ruang rapat partai, bukan pula di mimbar politik, melainkan di bengkel sederhana tempat FX Hadi Rudyatmo berdiri dengan masker las menutup wajahnya.
Tangannya mantap memegang elektroda, tubuhnya sedikit membungkuk, seperti seorang pekerja yang telah akrab dengan panas dan besi sejak puluhan tahun lalu.
Usai tak lagi menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Solo—posisi yang dipegangnya selama seperempat abad—Rudy, sapaan akrabnya, memilih kembali ke akar hidupnya: menjadi tukang las. “Yang kedua, tetap jadi tukang las,” katanya santai, Senin (12/1/2026), di Pendapi Balai Kota Solo.
Tak ada nada getir. Tak pula terdengar penyesalan. Bagi Rudy, ini bukan kemunduran. Ini kepulangan.
Kembali Jadi Kader Biasa
Kini, Rudy hanyalah kader biasa di PDIP. Namanya tak lagi tercantum dalam struktur kepengurusan. Namun, api pengabdian politiknya belum padam. “Aktivitas tetap mengurus partai. Program-program partai nanti akan kita bantu,” ujarnya.
Ia memilih bekerja di belakang layar, memberi sokongan, bukan sorotan. Targetnya jelas: Pemilu 2029. Jawa Tengah, terutama Solo, menurutnya harus diperjuangkan “mati-matian”.
Baginya, jabatan hanyalah alat. Ideologi adalah tujuan. “Saya ingin mengembalikan marwah partai dengan ajaran Bung Karno. Marhaenisme itulah yang harus disampaikan ke kader,” tegasnya.
Pengabdian Sunyi
Di luar urusan partai, hari-hari Rudy diisi dengan pekerjaan yang jauh dari gemerlap politik. Selain mengelas, ia tetap aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di gereja.
Ia masih menjalankan tugas sebagai prodiakon di Gereja Purbowardayan, Paroki Santa Perawan Maria Regina—tugas yang telah diembannya hingga 10 periode.
Politik dan iman, kerja kasar dan pengabdian sosial, bagi Rudy bukan dua dunia yang bertentangan. Semua dijalani dengan prinsip yang sama: melayani.
Buruh, Las, dan Jalan Panjang Politik
Kisah Rudy sebagai tukang las bukan cerita baru yang dibuat demi romantisme. Itu adalah bab awal hidupnya.
Sejak 1980, Rudy telah mencicipi kerasnya hidup sebagai buruh. Dari tukang pel sik, pembantu operator, operator, teknisi, hingga kepala workshop. Ia belajar mengelas secara autodidak—mengelas pipa AC, besi, baja—apa pun yang perlu disambung agar bisa bertahan.
Tahun 2001, ia mulai serius menggeluti dunia politik sebagai Ketua DPC PDIP Solo. Namun, las tak pernah benar-benar ditinggalkan. “Sampingan ngurusi partai ya ngelas, ngumpulin rosok. Itu dijual untuk menghidupi partai dan keluarga,” kenangnya.
Ia berhenti mengelas saat menjabat Wakil Wali Kota Solo mendampingi Joko Widodo, lalu kembali berhenti total ketika menjadi Wali Kota hingga purnatugas pada 2021. Kini, setelah semua jabatan itu selesai, Rudy kembali ke titik awal.
Usaha las yang dulu dirintisnya kini dikelola sang anak. Tapi sesekali, Rudy tetap turun tangan, seperti yang ia lakukan saat mengelas lift difabel di Taman Sunan Jogo Kali—sebuah proyek gotong royong dari iuran pribadi dan kawan-kawannya.
Lift itu bukan simbol kekuasaan. Ia adalah simbol empati: agar lansia, difabel, dan pedagang tak perlu lagi susah menaiki tangga.
Politik yang Membumi
Sementara itu, DPC PDIP Solo kini dipimpin Aria Bima, Wakil Ketua Komisi II DPR RI. Rudy menerima estafet itu tanpa riak. Ia memberi ucapan selamat, memasang spanduk HUT ke-53 PDIP, dan menyatakan siap membantu kapan pun dibutuhkan.
Bagi Rudy, politik sejati tak selalu harus berada di panggung. Kadang, ia hadir dalam bentuk percikan api las, bau besi terbakar, dan tangan yang bekerja diam-diam.
Di sanalah, mungkin, makna Marhaenisme yang sering ia sebut benar-benar menemukan wujudnya: bekerja, berkeringat, dan tetap berpihak pada wong cilik—meski tanpa jabatan, tanpa panggung, dan tanpa sorak sorai.[]












