DALAM dunia medis, ptosis tidak pernah dipandang sebagai kondisi tunggal yang berdiri sendiri. Turunnya kelopak mata atas sering kali menjadi tanda akhir dari sebuah proses biologis yang lebih kompleks—melibatkan otot, saraf, pembuluh darah, hingga faktor eksternal yang memengaruhi sistem saraf pusat.
Karena itu, dokter tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang terlihat?”, melainkan melanjutkannya dengan “apa yang menyebabkannya?”.
Secara anatomi, kelopak mata diangkat oleh otot levator palpebrae superioris dan dibantu oleh otot Müller yang dikendalikan sistem saraf otonom. Gangguan pada salah satu komponen ini—baik otot, saraf, maupun jalur sinyalnya—dapat memicu ptosis.
Baca juga: Bela Gibran dari Roastingan Pandji, Tompi Malah Sebut Ptosis yang Justeru Negatif
Inilah mengapa ptosis sering ditempatkan sebagai gejala, bukan diagnosis akhir.
Penyebab Umum yang Telah Dikenal
Dalam literatur kedokteran, penyebab ptosis umumnya meliputi:
- Penuaan (involutional ptosis) akibat melemahnya otot dan jaringan penyangga
- Ptosis kongenital sejak lahir
- Gangguan saraf, seperti kelainan saraf okulomotor
- Penyakit neuromuskular, misalnya myasthenia gravis
- Cedera atau trauma kepala
- Komplikasi pascaoperasi mata
Namun, di luar faktor-faktor klasik tersebut, dunia medis juga mengenal faktor risiko tambahan yang sifatnya tidak langsung, salah satunya adalah paparan zat adiktif atau narkotika.
Narkoba sebagai Variabel Risiko Ptosis
Dalam pendekatan Evidence Based Medicine, penggunaan narkoba tidak dikategorikan sebagai penyebab langsung ptosis, tetapi dapat menjadi faktor pemicu atau perantara, terutama bila berdampak pada sistem saraf.
Beberapa mekanisme yang dijelaskan dalam literatur medis antara lain:
1. Gangguan Sistem Saraf
Zat adiktif tertentu diketahui memengaruhi:
- Sistem saraf pusat
- Sistem saraf perifer
- Jalur saraf otonom
Jika gangguan ini mengenai saraf yang mengendalikan otot kelopak mata, ptosis dapat muncul sebagai manifestasi sekunder.
2. Sindrom Neurologis Tertentu
Penggunaan zat stimulan seperti kokain, misalnya, dalam kasus tertentu dikaitkan dengan Horner syndrome, suatu kondisi neurologis yang ditandai oleh:
- Ptosis ringan
- Pupil mengecil
- Penurunan keringat pada satu sisi wajah
Kondisi ini berkaitan dengan gangguan jalur saraf simpatik dan memerlukan evaluasi medis segera.
3. Efek Sedatif dan Penurunan Tonus Otot
Zat depresan seperti opioid, benzodiazepin, atau alkohol dosis tinggi dapat menyebabkan:
- Penurunan kesadaran
- Pelemahan tonus otot
- Tampilan kelopak mata yang tampak turun
Dalam konteks ini, dokter membedakan antara ptosis sejati dan kelopak mata turun akibat efek sedasi sementara.
4. Dampak Tidak Langsung Jangka Panjang
Penggunaan narkoba jangka panjang juga meningkatkan risiko kondisi medis lain, seperti:
- Stroke
- Infeksi saraf
- Gangguan neuromuskular
- Trauma kepala akibat kecelakaan
Semua kondisi tersebut dikenal dalam dunia medis sebagai penyebab ptosis.
Garis Tegas Etik Medis
Para dokter menegaskan, ptosis tidak pernah dapat dijadikan bukti tunggal penggunaan narkoba. Banyak kondisi lain yang jauh lebih umum dan lebih jinak menjadi penyebab kelopak mata turun.
Menarik kesimpulan medis hanya dari pengamatan visual—apalagi di ruang publik—dipandang sebagai tindakan yang:
- Tidak ilmiah
- Tidak etis
- Berpotensi menyesatkan
Diagnosis medis selalu memerlukan pemeriksaan langsung, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan penunjang yang sah.
Ptosis mengajarkan satu pelajaran penting dalam dunia kesehatan: tubuh manusia tidak pernah bekerja secara sederhana. Satu gejala dapat memiliki banyak penyebab, dari yang ringan hingga serius, dari yang alami hingga dipicu faktor eksternal.
Karena itu, kehati-hatian dalam menggunakan istilah medis di ruang publik menjadi penting, agar pengetahuan kesehatan tidak berubah menjadi stigma.
Artikel ini disusun sebagai referensi ilmiah kesehatan dan tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis individu atau figur publik tertentu.[]












