Sosok Mira, Wanita Subang Asisten Rumah Tangga Ronaldo

Ronaldo dan asisten rumah tangga asal Subang, Jawa Barat, Indonesia (foto: tangkapan layar)

DI TENGAH geliat industri yang terus tumbuh di Kabupaten Subang, ribuan warganya justru memilih menatap peluang hidup di negeri orang. Setiap tahun, sekitar 4.000 warga Subang berangkat sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI), meninggalkan kampung halaman demi harapan ekonomi yang lebih layak.

Salah satunya adalah Mira, perempuan 24 tahun asal Kecamatan Binong. Tahun 2026 menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah melalui proses panjang dan jalur resmi, Mira kini tinggal menunggu panggilan untuk berangkat ke Hong Kong, bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). “Dokumen sudah diurus secara legal. Tinggal menunggu panggilan saja,” ujar Mira, Senin (5/1/2026).

Keputusan Mira bukan pilihan yang diambil secara gegabah. Sebelum mendaftar sebagai PMI, ia sempat mencoba melamar pekerjaan ke sejumlah perusahaan di Subang—daerah yang kini memiliki lebih dari 100 industri, mulai dari tekstil hingga industri padat modal. Namun, harapan itu tak kunjung berbalas. “Nihil panggilan,” katanya singkat.

Dorongan untuk mencari penghidupan yang lebih layak akhirnya membawanya pada pilihan bekerja di luar negeri. Ajakan tetangga yang lebih dulu bekerja sebagai ART di Hong Kong turut meyakinkannya.

Bagi Mira, profesi ART di luar negeri bukan soal gengsi, melainkan soal bertahan hidup. “Istilahnya jadi pembantu di negara orang, tapi gajinya tidak main-main,” ujarnya.

Ia bahkan menyinggung kisah yang belakangan viral di media sosial—tentang Pipit Sriati, seorang perempuan Indonesia yang disebut-sebut bekerja sebagai ART di kediaman pesepak bola dunia Cristiano Ronaldo, dengan gaji fantastis mencapai Rp97 juta per bulan. Meski kebenaran cerita itu masih diragukan publik dan diduga melibatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), kisah tersebut tetap menyulut imajinasi banyak calon PMI.

Di balik cerita-cerita viral itu, realitas pekerja migran Subang tetap berpijak pada angka dan fakta. Kepala Bidang Bina Penta TKI Disnakertrans Subang, Dedi, menyebut sekitar 4.000 warga Subang berangkat ke luar negeri setiap tahun.

Profesi ART dan perawat lansia masih menjadi pilihan utama. “Penghasilan menjadi faktor utama. Rata-rata gaji berkisar Rp6 juta hingga Rp10 juta per bulan, tergantung negara tujuan,” jelas Dedi.

Menurutnya, tidak sedikit PMI yang sebelumnya bekerja di pabrik lokal, namun akhirnya memilih menjadi ART di luar negeri karena pendapatan yang lebih menjanjikan. Persyaratan pendidikan yang relatif longgar juga menjadi daya tarik tersendiri, selama pekerja mampu berperilaku baik dan mematuhi aturan.

Bagi Mira, angka-angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah harapan—tentang masa depan, tentang keluarga, dan tentang kehidupan yang lebih pasti.

Di antara hiruk-pikuk kawasan industri Subang, ia memilih jalan sunyi sebagai pekerja migran, membawa mimpi sederhana: bekerja jujur, digaji layak, dan pulang dengan martabat.[]

Sumber: viva.co.id

Logo Korpri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *